10.9.15

Sebuah Cerita Berhitung : Wata-Wata dari Negeri Tertawa

Di sebuah negeri yang ceria bernama Negeri Tertawa, hiduplah seorang penyihir tua baik hati bernama Wata-Wata. Ia ingin berlibur berwisata ke negeri lain dan berbagi keceriaan. Wata-Wata mengenakan jubah biru cemerlang miliknya. Lalu ia berangkat ke arah Barat seorang diri. Wata-Wata yang sangat bahagia, kini sudah tidak pernah menggunakan mantra sihirnya. Maka ia berjalan kaki seperti manusia kebanyakan ketika akan pergi ke suatu tempat.

Setelah beberapa waktu, Wata-Wata tiba di negeri yang tampak suram. Semua di negeri itu berwarna abu-abu, sepi, dan tidak ada suara tawa. Wata-Wata bertemu dengan sepasang raja dan ratu Negeri Abu-Abu itu di depan sebuah puri suram berwarna abu-abu. Wajah mereka sangat muram dan tampak sedih. Wata-Wata lalu menyapa kedua orang itu. Namun mereka tidak menjawabnya dan tetap muram. Raja dan ratu menggunakan mahkota, jubah, dan juga gaun yang semuanya berwarna abu-abu.

Wata-Wata kemudian berjalan lagi ke tempat lain di negeri itu, ia melintasi sebuah danau yang airnya keruh. Di permukaan danau ada angsa yang sedang berenang pelan. Wata-Wata menghitungnya, “Satu… Dua… Tiga..” Tiga ekor angsa sedang berenang dengan murung.

Wata-Wata semakin heran, ia melanjutkan perjalanannya melewati hamparan sawah. Di sana ada empat orang petani dengan empat kerbaunya sedang membajak sawah. Tapi mereka tampak lesu dan di wajahnya tidak ada senyuman apalagi tawa.

Wata-Wata melanjutkan perjalanannya. Melewati lima batang pohon kering tanpa daun. Ia menghitung pohon tiap melewatinya. “Satu… Dua… Tiga… Empat… Lima…” Ia semakin heran dengan keadaan negeri yang suram itu. Wata-Wata pun bermaksud untuk mencari tahu.

Wata-Wata tiba di sebuah padang rumput yang cukup luas. Di sana terlihat ada domba-domba yang merumput. Namun anehnya, domba-domba itu seluruhnya memiliki bulu seperti awan mendung yang siap untuk mengirimkan hujan sangat deras. Wata-Wata menghitung lagi, “Satu… Dua… Tiga… Empat… Lima… Enam…” Ada enam domba berwarna mendung di padang rumput.

“Mengapa negeri ini terasa tidak bahagia?” Wata-Wata bertanya pada dirinya sendiri. Tapi ia tetap melanjutkan perjalanannya untuk mencari tahu lebih jauh hal apa lagi yang akan ia temui. Ia melewati jembatan untuk menyusuri sungai yang cukup besar. Air di sungai itu sama keruhnya dengan air danau yang dilihat Wata-Wata sebelumnya. Wata-Wata menghentikan langkahnya. Mencondongkan tubuhnya di tepian jembatan dan melihat kea rah air sungai. Ia melihat bayangan dirinya dan perlahan mulai muncul beberapa ekor ikan yang balik mengamatinya. Ada tujuh ekor ikan berwarna hitam kelam yang menatapnya. Ketujuh ikan itu kemudian berenang pergi perlahan.

Wata-Wata semakin penasaran. Semua penduduk di negeri ini selalu tampak muram. Tidak ada senyum, tidak ada sapa. Binatang-binatang di negeri ini berjalan sangat lambat dan tidak bersemangat. Wata-Wata pun mulai kelelahan. Ia duduk beristirahat di bawah sebatang pohon apel, meminum bekalnya lalu matanya berkeliling mencari sesuatu yang mungkin bisa dimakan. Wata-Wata menemukan beberapa buah apel. Tapi apel ini tampak berbeda. Warnanya kecoklatan pucat, entah bagaimana rasanya. Wata-Wata memetik apel itu. Ia memetik seraya menghitungnya, “Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan.” Lalu, Wata-Wata mencoba memakan apel itu satu per satu, rasanya hambar. Tidak terasa manis seperti buah apel berwarna hijau yang ada di Negeri Tertawa.

Wata-Wata ingin sekali bertanya dan menyapa seseorang. Ingin mengetahui lebih jauh tentang negeri suram berwarna abu-abu ini. Namun hingga jauh perjalanannya, ia belum bertemu dengan siapa pun yang mau menjawab sapaannya. Hingga ia tiba di sebuah perkampungan kecil dengan pondok kayu berderet yang juga berwarna abu-abu. Wata-Wata kembali menghitung jumlah pondok abu-abu itu, “Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan.” Ia lalu menghampiri sebuah pondok dan mengetuk pintunya. Dengan ramah, Wata-Wata menyapa penghuni pondok itu ketika ia dibukakan pintu.

“Halo, namaku Wata-Wata aku dari Negeri Tertawa sedang berlibur di negeri ini.” Wata-Wata menyapa dengan ceria seraya tersenyum. Namun, lelaki pemilik pondok itu terdiam dan menatap heran. Wata-Wata memang tampak berbeda. Ia satu-satunya yang mengenakan pakaian dengan warna biru cemerlang, berkilauan, dan sangat cerah. Wajahnya pun memiliki raut bahagia yang berbeda dengan semua penduduk di negeri berwarna abu-abu itu. Bibirnya tertarik ke atas dan suaranya ketika berbicara memiliki irama seperti sedang bernyanyi.

Lelaki pemilik pondok itu berkata pada Wata-Wata, “Tunggu.” Lalu ia bergegas menuju pondok-pondok tetangganya dan mengetuk semua pintunya. Kini ada sembilan penduduk kampung dari sembilan pondok yang berdiri di hadapan Wata-Wata. Tetapi mereka semua terdiam. “Halo semuaaaaa… aku Wata-Wata dari Negeri Tertawa. Aku ingin tahu, mengapa di negeri kalian semuanya berwarna abu-abu?” Namun, penduduk-penduduk itu tampak keheranan dan mereka malah balik bertanya, “Wata-Wata, mengapa kamu berbeda?”

Ternyata, semua orang di negeri berwarna abu-abu itu hanya mengenal warna abu-abu, hitam, dan putih. Mereka belum pernah melihat warna lain seperti warna biru cemerlang pada pakaian Wata-Wata bahkan mereka pun tidak pernah melihat pelangi. Wata-Wata semakin penasaran, ia ingin membantu semua penduduk negeri ini agar lebih ceria dan bahagia dengan tawa. Ia bertanya, “Siapakah pemimpin negeri ini?” Lelaki bertopi caping abu-abu menjawabnya, “Negeri ini dipimpin Raja Ling-Ling dan Ratu Lung-Lung, mereka tinggal di puri tak jauh dari gerbang negeri.”

Wata-Wata pun mengajak para penduduk perkampungan itu untuk ikut dengannya ke puri tempat Raja Ling-Ling dan Ratu Lung-Lung tinggal. Mereka semua bergegas dan tidak ingin buang-buang waktu. Wata-Wata menghitung dirinya dan semua penduduk yang ikut dengannya. “Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh.”

Mereka kemudian berjalan bersama meninggalkan sembilan pondok. Melewati pohon apel yang masih memiliki delapan buah. Menyebrangi sungai dan bertemu kembali dengan tujuh ikan berwarna hitam kelam. Melewati padang rumput luas dengan enam domba yang masih merumput. Menghitung kembali lima pohon kering tanpa daun. Bertemu dengan empat orang petani dengan empat kerbaunya. Melewati tepian danau dengan tiga angsa yang masih berenang perlahan. Hingga akhirnya mereka bertemu dengan dua orang penghuni puri besar berwarna abu-abu. Raja Ling-Ling dan Ratu Lung-Lung menatap heran kedatangan sembilan orang penduduknya dengan seseorang aneh berwarna beda ke puri mereka. Raja dan ratu menghampiri Wata-Wata yang tersenyum lalu bertanya singkat, “Kamu siapa?” Wata-Wata pun menjawabnya dengan bernyanyi.

Aku... Wata Wata
Aku... suka tertawa
Aku... bahagia

Aku... Wata Wata
Aku... suka bernyanyi
Aku... suka menari

“Kamu bicara apa? Mengapa suaramu berbeda?” tanya Ratu Lung-Lung. “Aku bernyanyi. Kalian tidak pernah mendengar nyanyian?” Wata-Wata balik bertanya heran. Spontan, semua penduduk serta Raja dan Ratu menggelengkan kepalanya. Wata-Wata pun kemudian tertawa. Lalu ia mengajak Raja, Ratu, dan seluruh penduduk Negeri Abu-Abu mengikuti nyanyiannya sambil menari. Nyanyian dan tarian mereka menarik perhatian penduduk Negeri Abu-Abu lain dan binatang-binatang yang mendengarkan. Mereka datang menghampiri, mengikuti irama nyanyian dan tarian Wata-Wata. Ajaib! Mereka semua mulai tersenyum. Wata-Wata lalu memberi mereka segenggam bibit bunga untuk ditanam. Lalu Wata-Wata pun pamit untuk pulang. Ia berjanji akan kembali lagi untuk membantu Negeri Abu-Abu menjadi lebih berwarna dan bahagia.

Keesokkan harinya, Wata-Wata kembali, kali ini ia membawa banyak teman dengan jubah warna-warni dari Negeri Tertawa. Mereka datang ke Negeri Abu-Abu dengan membawa banyak kantung berisi botol cairan kental warna-warni yang disebut 'cat', kuas, dan banyak sekali kain berwarna indah. Mereka membantu Negeri Abu-abu berubah menjadi Negeri Warna-Warni. Teman-teman Wata-Wata mewarnai seluruh pondok dan juga puri dengan cat warna-warni yang dibawanya, serta menjahit gaun dengan kain berkilauan dan berwarna indah. Hal tersebut menggugah para penduduk Negeri Abu-abu untuk melakukan hal yang sama. Mereka membantu negeri mereka sendiri agar berubah, tanpa perlu sihir.

Perasaan bahagia mulai bermunculan di Negeri Abu-abu karena melihat warna-warna yang berbeda yang membuat perasaan pun menjadi berbeda. Mereka mulai menyanyi dan menari dengan lepas mengekspresikan perasaan bahagia yang mereka rasakan. Tak berapa lama, tiba-tiba ada seorang anak yang berteriak, "Hai lihaaaaattttt.... Ada bunga berbeda tumbuh. Dia tidak abu-abu, dia berwarna lain!" Dan semua orang pun menghampiri lalu tersenyum. Satu persatu bunga warna-warni mulai tumbuh dari bibit yang sudah ditanamkan. Semua penduduk Negeri Abu-abu -sekarang Negeri Warna-Warni- pun mengucapkan terima kasih banyak pada Wata-Wata dan teman-temannya yang sudah jauh-jauh datang dari Negeri Tertawa untuk membantu. Di Negeri Warna-Warni kini semua penduduknya semakin senang bekerja sama membuat negerinya indah. Mereka mencintai prosesnya yang panjang dan menikmati hasilnya yang indah.

*Cerita dikembangkan dari cerita sebelumnya.


No comments: