Showing posts with label BandungBerAKSI. Show all posts
Showing posts with label BandungBerAKSI. Show all posts

21.12.16

Berbeda Itu Indah

Kegiatan di TKB, mengambil tema pertama ‘Aku Sayang Teman’. Anak-anak diajak untuk belajar mengenal dirinya, kelebihan serta kekurangan yang dimiliki diri serta teman-temannya agar dapat saling berkolaborasi. Kegiatan bercerita untuk membuka cakrawala anak mengenai kelebihan dan kekurangan diri salah satunya menggunakan buku ‘Modo Tak mau Menari’. Buku ini bercerita tentang Modo yang berpura-pura sakit gigi ketika semua temannya bermain dan menari bersama. Ternyata Modo tidak berkata jujur bahwa sebenarnya dirinya tidak bisa menari. Lalu semua teman-teman Modo membujuknya untuk mencoba menari, Modo ternyata tetap tidak bisa menari seperti teman-teman lainnya. Dan akhirnya, Modo pun berkata jujur bahwa dirinya tidak bisa menari dan takut jika teman-temannya tidak lagi mau bermain bersamanya. Setelah Modo berkata jujur, teman-temannya lebih memahami Modo. Ternyata, Modo lebih hebat saat bermain musik. Modo pun dapat berkolaborasi dengan teman-temannya yang hebat saat menari.

 
  
Dalam cerita ini, anak-anak mengambil pelajaran bahwa setiap orang pasti memiliki kemampuan serta ketidakmampuan yang berbeda. Namun hal tersebut tidak harus dibuat menjadi sama. Mungkin, perbedaan inilah yang akan membuat kolaborasi semakin menarik.
Lalu, anak-anak diajak merefleksikan diri dari cerita yang sudah mereka simak. Apa saja kelebihan serta kekurangan mereka masing-masing. Apa kekuatan mereka saat berkarya di sekolah. Anak-anak menuangkan pemikirannya dalam sebuah gambar.


Cheryl dan Gea mengungkapkan bahwa mereka hebat saat berkarya dalam bentuk lukisan. Mereka lebih merasa percaya diri saat diajak untuk membuat karya dengan menggambar.


Aaliya yang mengatakan bahwa ia memiliki kehebatan dalam berkarya dengan menggunakan media konstruktif block.

Selain mereka, ada juga anak-anak lain yang mengatakan bahwa dirinya hebat saat membuat karya dengan menggunakan barang bekas, membuat karya dengan melipat kertas, membuat bangunan dari permainan konstruktif, dan sebagainya. Lalu kehebatan yang berbeda ini dikolaborasikan dalam bentuk karya bersama. Anak-anak yang memiliki kehebatan berkarya dengan barang-barang bekas, melipat kertas, dan melukis kemudian berkolaborasi membuat karya bersama dalam ukuran yang cukup besar. Karya yang dibuat bertema tentang pertemanan sesuai dengan tema di sekolah.


Jingga dan Auzriel menjadi model lukisan dan tubuh mereka dicetak oleh teman-temannya di atas sebuah kertas berukuran besar.
  

Teman-teman mencetak tubuh Jingga dan Auzriel. Mereka pun menjaga agar tubuh serta pakaian Jingga dan Auzriel tidak terkena coretan spidol.

Anak-anak saling mengungkapkan idenya untuk memperkaya hasil karya bersama. Mereka memberi ide sesuai dengan minatnya dan saling bersinergi hingga di akhir kegiatan berkarya. Setelah karya tuntas, mereka pun merefleksi bersama mengenai perasaannya masing-masing. Dan mereka mengatakan bahwa kegiatan berkarya bersama tentunya sangat menyenangkan, setiap individu memiliki kesempatan untuk berkontribusi dan saling menghargai ide satu dengan yang lainnya.


Hasil akhir karya yang dibuat bersama-sama.

  

Jingga dan Auzriel yang tubuhnya dicetak untuk membuat karya bersama.

Dalam membuat karya lukisan bersama ini, bahan-bahan yang digunakan cukup sederhana, yaitu :
  •  Kertas karton berukuran besar (cukup besar untuk mencetak tubuh anak).
  • 2    Berbagai barang bekas yang dapat dimanfaatkan, misalnya potongan kotak pasta gigi, tutup botol air mineral, berbagai potongan kertas bekas berwarna, potongan bentuk mulut atau mata dari majalah / katalog bekas.
  • 3  Cat untuk mewarnai kulit beserta kuasnya.
  • 4   Gunting dan lem yang cukup kuat.

Bagi anak-anak yang mengungkapkan kehebatan dirinya dalam berkarya konstruktif, guru pun memfasilitasi mereka untuk menuangkan idenya. Mereka pun harus saling berkolaborasi seperti teman-temannya yang berkarya membuat lukisan dan kolase dalam ukuran yang besar. Anak-anak yang merasa memiliki kehebatan saat berkarya dengan konstruktif, juga harus membuat karya bersama dalam ukuran yang cukup besar. Mereka harus berbagi peran dalam mengambil kepingan block dan menyusunnya.

  


Anak-anak saling bekerja sama dan mendiskusikan mengenai gerakan orang yang mereka buat dari permainan konstruktif. Dengan kemampuan yang mereka miliki masing-masing, tiap kelompok anak menghasilkan berbagai bentuk karya block yang unik. Alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan ini dapat dikondisikan dengan ketersediaan mainan yang ada di tiap sekolah. Alternatif alat main yang dapat digunakan adalah :

  •        Block kayu bisa yang berukuran besar atau kecil.
  •        Lego, Gigo, Lassy, dan sebagainya.
  •        Kotak / kardus bekas dalam berbagai ukuran. Misalnya kardus susu, pasta gigi,         biscuit, dan sebagainya.


Di akhir kegiatan bermain, anak-anak pun melakukan pembiasaan bertanggung jawab merapikan kembali permainan yang telah digunakan. Bahkan merapikannya hingga benar-benar tuntas.


Mengembangkan kegiatan bercerita karakter hingga dapat diaplikasikan dalam kegiatan bermain anak-anak di sekolah sangat perlu dilakukan. Sehingga kegiatan bercerita akan semakin bermakna bagi anak-anak terutama anak usia dini. Melakukan kolaborasi dalam bermain dan berkarya membuat cerita Modo yang memiliki kemampuan yang berbeda dengan teman-temannya yang lain menjadi lebih bermakna. Bahwa perbedaan tidak perlu dibuat menjadi sama, berbeda itu indah, dan dapat menciptakan kolaborasi yang apik.


7.9.16

Bohong Kecil vs Kejujuran Kecil

Hubungan pertemanan bagi anak usia 5-6 tahun adalah masalah yang sangat penting. Jika bisa dikatakan, masalah tersebut bisa saja menyangkut masalah 'hidup dan mati'. Memiliki banyak teman seakan-akan membuat anak usia 5-6 tahun serasa hidup selamanya. Sebaliknya jika tidak memiliki teman atau ada teman yang menolak untuk bermain bersama, dunia seakan-akan mau runtuh.

Di kelas Bulan, kelas yang saya ajar tahun lalu, kelompok teman sebaya dengan ketertarikan dan minat yang sama memang banyak bermunculan. Anak-anak membuat kelompok dengan teman-teman yang memiliki minat yang sama. Namun meski dilatarbelakangi minat yang sama, konflik dan masalah pasti terjadi. Masalah yang kerap muncul di dalam kelompok-kelompok pertemanan itu biasanya adalah perbedaan ide permainan yang ingin dibuat, pembagian kelompok yang dirasa kurang adil bagi setiap pribadi, hingga kecemburuan di antara mereka.

Kecemburuan. Terkadang bisa membuat anak-anak melakukan segalanya untuk menarik kembali perhatian teman-temannya. Bahkan, jika harus dilakukan dengan cara berbohong, maka hal tersebut akan dilakukan. Mulai dari bohong-bohong kecil namun bisa jadi akan terus berulang. Sikap egosentris yang masih dominan pada anak-anak usia dini, kemampuan berpikir cerdik yang semakin berkembang, serta daya imajinasi  yang masih banyak memberi pengaruh dapat melatari mengapa anak-anak dapat berbohong.

Ada seorang anak, sebut saja ia Aldi. Ia adalah anak yang cukup cerdas dengan kemampuan memimpin teman-temannya yang terbilang menonjol. Namun seiring berjalannya waktu, teman-teman Aldi mulai banyak yang memilih teman lain untuk diajak bermain bersama. Terkadang, Aldi tidak menjadi pilihan teman yang diajak bergabung dengan anak-anak lain. Aldi tentunya merasa dunianya hampir 'berakhir'. Ia kemudian mencari cara ampuh untuk menarik kembali perhatian teman-temannya. Salah satu caranya adalah dengan mengiming-imingi temannya dengan berbagai macam bentuk hadiah. "Kamu kelompoknya sama aku ya. Besok aku bawain kamu susu coklat 10 botol." Lalu, temannya pun mengikuti keinginan Aldi untuk bergabung. Keesokkan harinya, teman-teman Aldi menagih janji yang akan memberi 10 botol susu coklat. Namun tentu saja Aldi tidak membawanya sesuai dengan yang ia katakan sebelumnya. Maka otomatis teman-teman Aldi mengatakan bahwa dirinya berbohong.

Kisah lainnya adalah kisah tentang Abhi yang sangat imajinatif. Sering kali hal realita yang dialaminya bercampur dengan bayangan imajinasinya. Saat Abhi ingin melibatkan teman-temannya dalam cerita imajinasinya, pikiran teman-temannya tidak semuanya sejalan dengan dirinya. Abhi tetap konsisten dengan cerita imajinasinya, bahkan ia 'keukeuh' mengatakan bahwa hal yang dialaminya adalah nyata. Dan akhirnya, teman-teman lainnya menganggap Abhi berbohong.

Kecemburuan terkadang memicu seseorang membuat cerita yang tidak sesuai fakta, dengan tujuan membuat orang lain terpengaruh. Anak bernama Mala, seringkali berbisik pada temannya, memberi pengaruh agar temannya tidak bermain lagi dengan beberapa anak tertentu dengan berbagai alasan yang terkadang bukan hal yang benar, atau alasan yang dilihat dari persepsi yang berbeda. Saat temannya mengetahui bahwa yang dikatakan Mala adalah hal yang tidak benar, maka Mala pun dianggap berbohong.

Bohong-bohong pada anak memang akan terjadi. Manusia yang cerdas tentu pintar membuat cerita. Namun sebagai guru, saya merasa bertanggung jawab untuk mengembangkan nilai-nilai kejujuran serta nilai kebaikan lainnya agar kebohongan kecil tidak semakin berkembang menjadi kebohongan yang semakin besar dan tentunya tidak menjadi kebiasaan.

Aldi kemudian diajak untuk memperbaiki janjinya. Ia mengubah kebohongan kecilnya menjadi sebuah kejujuran kecil. Ia mengatakan pada teman-temannya, "Aku gak punya susu coklat 10 botol. Tapi kamu mau sekelompok sama aku?" Aldi merasa lebih bangga dengan dirinya dan berkata, "Aku anak jujur."

Penjelasan tentang imajinasi dan realita pun dilakukan pada Abhi. Memiliki imajinasi tinggi tentunya tidak dilarang. Namun tentunya Abhi tidak bisa memaksakan pikiran yang berbeda pada seluruh teman-temannya. Lalu Abhi mengubah cara penyampaian imajinasinya pada teman-temannya. Imajinasi yang awalnya dianggap cerita bohong oleh beberapa teman Abhi berubah menjadi cerita seru yang menyenangkan.

Menyamakan persepsi/maksud tentang penilaian terhadap seseorang kemudian dilakukan bersama Mala. Jika ada suatu hal yang dilihat berbeda, Mala diajak memandang dari sudut pandang berbeda dan mengajak ia untuk belajar melakukan praduga tak bersalah pada tiap perilaku teman.

Kebohongan kecil yang 'bukan masalah besar' dalam dunia pertemanan anak-anak, tetap perlu pendampingan agar tidak terus berkembang menjadi kebohongan besar yang berujung pada tindakan korupsi di masa yang akan datang. Kebiasaan dalam berbohong kecil diubah menjadi kebiasaan dengan kejujuran-kejujuran kecil yang berdampak besar.

16.8.16

Kampanye Diet Kantong Plastik

Bandung sedang dalam proses perbaikan dalam segala hal. Tentu saja hal ini tidak lepas dari turun tangan warganya untuk tetap menjaga Bandung. Terutama menjaga lingkungannya tetap bersih. Tak bisa dipungkiri, saat hujan lebat datang menghampiri Bandung, terkadang masih ada genangan air bahkan banjir di beberapa bagian kota Bandung. Padahal sudah banyak perbaikan saluran air, gorong-gorong, dan banyak sekali dibuat biopori. Namun masalah ini tidak akan pernah tuntas jika warga Bandung masih saja buang sampah sembarangan.

Tahun ajaran lalu, aku kembali mengajak anak-anak untuk turut serta ambil bagian dalam menjaga kota Bandung tercinta. Seperti dalam cerita 'Kota Oncom' dari buku Tunas Integritas kami semua memiliki impian Bandung menjadi kota yang tertib serta nyaman untuk semua. Salah satunya adalah dengan melakukan 'Kampanye Diet Kantong Plastik'. Anak-anak kelas Bulan, diajak untuk membuat kantong belanjanya sendiri dengan menggunakan pakaian bekas. Lalu mereka pun menambah wawasan mereka tentang sampah yang dibuang sembarangan dan dampaknya bagi lingkungan.



Jehan dengan kantong belanja buatannya.

Cara membuat kantong belanja ini mudah sekali. Tanpa perlu dijahit.  Aku mendapatkan idenya dari Pinterest. Bahan-bahan untuk membuatnya pun hanya dari barang bekas (kaos bekas).

Cara membuat kantong belanja :
  • Sediakan kaos bekas dengan ukuran yang cukup besar. Jika memungkinkan, pilih gambar atau motif yang bagus agar kita tidak perlu lagi menghiasnya.
  • Siapkan gunting kain atau gunting yang cukup tajam.
  • Spidol untuk membuat pola garis.
  • Buat pola garis lengkung di bagian atas kaos (di bawah lubang leher). Garis lengkung ini untuk bagian lubang kantong belanja.
  • Buat lagi pola garis lengkung di bagian kanan dan kiri untuk membuang bagian lengan kaos.
  • Buat pola garis lurus dalam jumlah banyak di bagian bawah kaos. Jarak antar garis kira-kira 2 cm dengan panjang pola garis 8 cm.
  • Gunting semua pola garis yang telah dibuat dengan spidol.
  • Bagian bawah kaos akan membentuk rumbai-rumbai setelah digunting. Kemudian bagian atas dan bawah diikat erat hingga dapat menampung barang bawaan.
  • Selesai ;)
Kegiatan tidak hanya sampai di situ. Setiap anak diajak untuk membuat dua kantong belanja kaos. Satu untuk dipakai sendiri dan satu lagi untuk diberikan pada orang lain. Selain memberikan kantong belanja pada orang lain, anak-anak pun 'berkampanye'. Menjelaskan mengenai manfaat mengurangi penggunaan kantong plastik serta mengenalkan tentang 3R (reduce, reuse, recycle),

Pada saat kegiatan di luar kelas, tim guru mengajak anak-anak untuk pergi mengunjungi taman-taman kota. Di sana, anak-anak melakukan GPS (gerakan pungut sampah), membantu Park Ranger membersihkan taman, dan mengkampanyekan penggunaan kantong belanja pada orang-orang yang berada di taman.




Anak-anak saat melakukan GPS di taman.



Membantu Park Ranger.




Kampanye dan membagikan kantong belanja.


Kebersihan, kenyamanan, serta ketertiban kota Bandung adalah tanggung jawab bersama. Penting bagi kita mengajak anak-anak sejak dini turun tangan membantu karena Bandung Kita Tanggung Jawab Kita.

Saat anak-anak melakukan GPS di taman, ada wartawan dari harian Pikiran Rakyat yang datang meliput.

6.9.14

"Ibu, kapan datang ke sini lagi?"

Bulan Ramadhan yang lalu, aku dan teman-teman yang tergabung dalam Gerakan Bandung Ber-AKSI rutin mengisi kegiatan mendongeng di Masjid Hidayatussalamah, daerah Kalipah Apo Bandung, setiap hari Jumat sore selepas waktu Ashar. Semacam mengisi kegiatan ngabuburit yang menyenangkan untuk anak-anak. Selain mendongeng dengan menggunakan buku dari Tunas Integritas, kami juga menciptakan berbagai kegiatan yang menarik bagi anak-anak. Ide kegiatan diambil dari buku Tunas Integritas yang dibacakan setiap minggunya.

Pekan pertama kegiatan belum dimulai. Gerakan Bandung Ber-AKSI baru menyepakati sanggup mengirim relawannya untuk mendongeng secara rutin selama sisa Jumat di bulan Ramadhan. Pekan selanjutnya, kegiatan diisi dengan dongeng Tunas Integritas bersama Ibu Yulita dan Ms. Julie, guru-guru SD GagasCeria yang juga tergabung dalam Gerakan Bandung Ber-AKSI. Mereka membacakan dongeng dan membuka pojok baca di dalam masjid untuk semakin menumbuhkan minat baca bagi anak-anak. Banyak buku bacaan anak yang diboyong dari perpustakaan Elmuloka.


Ibu Yulita sedang mendongeng di hadapan anak-anak (dan beberapa ibu) di Masjid Hidayatussalamah Bandung.

Pojok baca yang menarik untuk anak-anak. Ternyata mereka sangat suka membaca.

Pertemuan pada pekan selanjutnya, Ibu Nora, Ibu Sri, dan Ibu Wulan mendapatkan gilirannya. Mereka adalah guru-guru playgroup dan TK yang hebat bercerita boneka bahkan menciptakan lagu yang idenya diambil dari buku Tunas Integritas. Ekspresi suara yang berganti-ganti, membuat anak-anak terpaku menyimak dongeng hari itu.

Dongeng dengan boneka tangan.

Lagu ciptaan Ibu Wulan.

Ibu Nora mengenalkan lagu ciptaan Ibu Wulan pada anak-anak.

Pada pekan menjelang Ramadhan berakhir, giliran aku, Achie, dan Risna didampingi juga oleh Pak Indra, yang berkunjung ke Masjid Hidayatussalamah untuk mendongeng dan juga mengajak anak-anak berkarya. Aku membacakan cerita berjudul 'Secukupnya Saja' dari salah satu seri buku Tunas Integritas. Cerita ini mengajak anak-anak tidak berlebihan saat makan, mau berbagi pada teman-teman yang saat itu tidak membawa bekal makanan. Aku menghubungkannya dengan momen bulan Ramadhan dan mengajak anak-anak tidak berlebihan saat berbuka puasa. Kemudian kami juga mengajak anak-anak berkarya membuat celengan dari botol bekas yang kami minta mereka bawa dari rumahnya masing-masing. Karya ini dihubungkan dengan momen lebaran yang akan segera tiba. Anak-anak diajak untuk menabung uang yang mereka dapatkan dari saudaranya saat lebaran nanti.

Ekspresiku saat mendongeng.

Anak-anak mulai mencoba berkarya dengan botol bekas.

Aku, Achie, dan Risna merupakan relawan terakhir yang berkegiatan di Masjid Hidayatussalamah. Kami pun tidak sempat untuk diam lebih lama untuk berbuka puasa bersama dengan anak-anak di masjid. Kami lalu berpamitan pada anak-anak untuk pulang dan mereka pun satu persatu menyalami, cium tangan, seraya bertanya, "Kenapa ga buka puasa di sini?" Ada pula yang bertanya, "Jumat depan ke sini lagi kan?" Tapi ketika aku menjawab 'tidak', mereka pun kembali bertanya, "Ibu, kapan datang ke sini lagi?"

Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang membuat terharu. Bahagia rasanya bisa berbagi cerita tentang karakter baik melalui dongeng. Dan yang pasti, Gerakan Bandung Ber-AKSI masih akan terus berlanjut bersama dongeng Tunas Integritas-nya.

5.9.14

Gerakan Bandung Ber-AKSI

Gerakan Bandung Ber-AKSI adalah suatu gerakan BERcerita AntiKorupSI, yang aktif dimulai sekitar bulan Mei 2014. Bandung di bawah kepemimpinan Ridwan Kamil, berkomitmen untuk menjadikan Bandung lebih 'bersih'. Gerakan Bandung Ber-AKSI dengan buku Tunas Integritas-nya, berkeliling kota Bandung untuk mendongeng mengajak anak-anak menyimak cerita tentang kejujuran, hidup sederhana, dan cerita karakter baik lainnya. Buku ini bercerita tentang kebaikan, tidak ada cerita korupsi, bahkan tidak ada kata korupsi di dalamnya. Kata korupsi haram untuk dikenal oleh anak-anak.

6 seri buku Tunas Integritas KPK dengan beberapa cerita pendek khas anak-anak dan contoh kegiatan berkarya.

Satu set buku cerita anak ini, KPK bagikan secara cuma-cuma bagi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang juga berkomitmen untuk terus mendongengkannya pada anak-anak. Para guru dan pengurus TBM diharapkan dapat terus menggunakan buku Tunas Integritas ini untuk menyebar cerita karakter baik, menanamkannya dalam kehidupan sehari-hari hingga mampu menguatkan karakter anak-anak. Aku sebagai guru anak usia dini, juga membuat jadwal rutin bercerita karakter dengan memanfaatkan buku-buku ini. Menciptakan kegiatan baru yang idenya diambil dari cerita buku tersebut.

Aku membacakan cerita tentang karakter kejujuran.

Selain guru yang bercerita, anak-anak yang sudah mulai bisa membaca buku ceritanya sendiri, dikenalkan dengan buku-buku Tunas Integritas. Pada waktu senggang, mereka akan mencoba membaca buku itu sendirian atau berkelompok bersama dengan teman-temannya.

Anak-anak yang membaca buku bersama di waktu senggangnya di sekolah.

Selain 'hanya' mendongengkan buku-buku Tunas Integritas, aku mencoba mengintegraasikannya dengan tema yang sedang berjalan di kelas. Saat tema mengenai lingkungan tengah dibahas di kelas, aku membacakan cerita 'Kota Oncom' tentang kota yang sangat bersih, tertib, warganya malu jika melanggar aturan, selalu tepat waktu, dan segala karakter baik lainnya. Lalu, aku mengajak anak-anak untuk membayangkan apa yang akan dilakukannya agar Bandung menjadi kota sebaik Kota Oncom.

Anak-anak bersiap mendengar cerita 'Kota Oncom'

Anak-anak kelasku kemudian menciptakan rancangan robot penjaga lingkungan yang akan membantu polisi dan petugas kebersihan untuk membuat Bandung menjadi lebih bersih dan tertib.

Rancangan robot penjaga lingkungan yang terbuat dari sampah anorganik.

Anak-anak kemudian menyebutkan harapannya terhadap kota Bandung. Ada yang ingin Bandung menjadi lebih bersih, orang-orang tidak membuang sampah sembarangan agar Bandung tidak banjir lagi. Kemudian ia menciptakan robot pembersih yang memiliki tempat untuk menyimpan sampah organik dan sampah anorganik. Ada pula yang membuat robot agar warga Bandung dapat menaati aturan berlalu lintas. Ia mengatakan, "Kalau ada motor yang naik ke trotoar, robotnya bisa ngeliat dari jauh, terbang trus datang buat ngangkat motornya buat balik lagi ke jalan."

Mendongeng adalah salah satu usaha sederhana untuk menerapkan berbagai karakter baik bagi anak-anak. Dan usaha ini yang terus dilakukan secara aktif oleh komunitas Gerakan Bandung Ber-AKSI di kota tercinta. Namun gerakan ini tidak akan menutup kemungkinan untuk terus menyebarkan dongeng kebaikan bagi anak-anak Indonesia.