Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

7.9.16

Bohong Kecil vs Kejujuran Kecil

Hubungan pertemanan bagi anak usia 5-6 tahun adalah masalah yang sangat penting. Jika bisa dikatakan, masalah tersebut bisa saja menyangkut masalah 'hidup dan mati'. Memiliki banyak teman seakan-akan membuat anak usia 5-6 tahun serasa hidup selamanya. Sebaliknya jika tidak memiliki teman atau ada teman yang menolak untuk bermain bersama, dunia seakan-akan mau runtuh.

Di kelas Bulan, kelas yang saya ajar tahun lalu, kelompok teman sebaya dengan ketertarikan dan minat yang sama memang banyak bermunculan. Anak-anak membuat kelompok dengan teman-teman yang memiliki minat yang sama. Namun meski dilatarbelakangi minat yang sama, konflik dan masalah pasti terjadi. Masalah yang kerap muncul di dalam kelompok-kelompok pertemanan itu biasanya adalah perbedaan ide permainan yang ingin dibuat, pembagian kelompok yang dirasa kurang adil bagi setiap pribadi, hingga kecemburuan di antara mereka.

Kecemburuan. Terkadang bisa membuat anak-anak melakukan segalanya untuk menarik kembali perhatian teman-temannya. Bahkan, jika harus dilakukan dengan cara berbohong, maka hal tersebut akan dilakukan. Mulai dari bohong-bohong kecil namun bisa jadi akan terus berulang. Sikap egosentris yang masih dominan pada anak-anak usia dini, kemampuan berpikir cerdik yang semakin berkembang, serta daya imajinasi  yang masih banyak memberi pengaruh dapat melatari mengapa anak-anak dapat berbohong.

Ada seorang anak, sebut saja ia Aldi. Ia adalah anak yang cukup cerdas dengan kemampuan memimpin teman-temannya yang terbilang menonjol. Namun seiring berjalannya waktu, teman-teman Aldi mulai banyak yang memilih teman lain untuk diajak bermain bersama. Terkadang, Aldi tidak menjadi pilihan teman yang diajak bergabung dengan anak-anak lain. Aldi tentunya merasa dunianya hampir 'berakhir'. Ia kemudian mencari cara ampuh untuk menarik kembali perhatian teman-temannya. Salah satu caranya adalah dengan mengiming-imingi temannya dengan berbagai macam bentuk hadiah. "Kamu kelompoknya sama aku ya. Besok aku bawain kamu susu coklat 10 botol." Lalu, temannya pun mengikuti keinginan Aldi untuk bergabung. Keesokkan harinya, teman-teman Aldi menagih janji yang akan memberi 10 botol susu coklat. Namun tentu saja Aldi tidak membawanya sesuai dengan yang ia katakan sebelumnya. Maka otomatis teman-teman Aldi mengatakan bahwa dirinya berbohong.

Kisah lainnya adalah kisah tentang Abhi yang sangat imajinatif. Sering kali hal realita yang dialaminya bercampur dengan bayangan imajinasinya. Saat Abhi ingin melibatkan teman-temannya dalam cerita imajinasinya, pikiran teman-temannya tidak semuanya sejalan dengan dirinya. Abhi tetap konsisten dengan cerita imajinasinya, bahkan ia 'keukeuh' mengatakan bahwa hal yang dialaminya adalah nyata. Dan akhirnya, teman-teman lainnya menganggap Abhi berbohong.

Kecemburuan terkadang memicu seseorang membuat cerita yang tidak sesuai fakta, dengan tujuan membuat orang lain terpengaruh. Anak bernama Mala, seringkali berbisik pada temannya, memberi pengaruh agar temannya tidak bermain lagi dengan beberapa anak tertentu dengan berbagai alasan yang terkadang bukan hal yang benar, atau alasan yang dilihat dari persepsi yang berbeda. Saat temannya mengetahui bahwa yang dikatakan Mala adalah hal yang tidak benar, maka Mala pun dianggap berbohong.

Bohong-bohong pada anak memang akan terjadi. Manusia yang cerdas tentu pintar membuat cerita. Namun sebagai guru, saya merasa bertanggung jawab untuk mengembangkan nilai-nilai kejujuran serta nilai kebaikan lainnya agar kebohongan kecil tidak semakin berkembang menjadi kebohongan yang semakin besar dan tentunya tidak menjadi kebiasaan.

Aldi kemudian diajak untuk memperbaiki janjinya. Ia mengubah kebohongan kecilnya menjadi sebuah kejujuran kecil. Ia mengatakan pada teman-temannya, "Aku gak punya susu coklat 10 botol. Tapi kamu mau sekelompok sama aku?" Aldi merasa lebih bangga dengan dirinya dan berkata, "Aku anak jujur."

Penjelasan tentang imajinasi dan realita pun dilakukan pada Abhi. Memiliki imajinasi tinggi tentunya tidak dilarang. Namun tentunya Abhi tidak bisa memaksakan pikiran yang berbeda pada seluruh teman-temannya. Lalu Abhi mengubah cara penyampaian imajinasinya pada teman-temannya. Imajinasi yang awalnya dianggap cerita bohong oleh beberapa teman Abhi berubah menjadi cerita seru yang menyenangkan.

Menyamakan persepsi/maksud tentang penilaian terhadap seseorang kemudian dilakukan bersama Mala. Jika ada suatu hal yang dilihat berbeda, Mala diajak memandang dari sudut pandang berbeda dan mengajak ia untuk belajar melakukan praduga tak bersalah pada tiap perilaku teman.

Kebohongan kecil yang 'bukan masalah besar' dalam dunia pertemanan anak-anak, tetap perlu pendampingan agar tidak terus berkembang menjadi kebohongan besar yang berujung pada tindakan korupsi di masa yang akan datang. Kebiasaan dalam berbohong kecil diubah menjadi kebiasaan dengan kejujuran-kejujuran kecil yang berdampak besar.

14.4.16

Sebuah Janji Untuk Mandiri

Di sebuah negeri, ada seorang anak bernama Maheta. Orangtuanya memberi nama Maheta dengan harapan ia akan menjadi anak yang mandiri, hebat, dan bertanggung jawab. Dan Maheta pun menjadi anak seperti yang didambakan orangtuanya. Hingga suatu saat, Maheta mulai mengenal video games. Maheta asyik dengan permainan barunya dan mulai melupakan segalanya. Lupa makan makanan sehat, lupa mandi, lupa mengurus dirinya sendiri. Segalanya ia delegasikan pada robot ajaib yang bisa membantunya melakukan semua hal, bahkan mengurus kebutuhan pribadinya.

....


Jadi, sebenarnya bagaimana seharusnya Maheta berperilaku?
Anak-anak Kelas Bulan TK GagasCeria sepakat bahwa hal yang dilakukan Maheta kini adalah tidak baik. Mereka kemudian mendiskusikan hal-hal yang seharusnya Maheta lakukan. Hal itu kemudian dituangkan dalam karya 'Janji Maheta'.

Inilah janji Maheta :
(Maheta dibuat dengan mencetak badan Rinjani ^^)




Dan, inilah Maheta dan semua janjinya...



30.8.14

Melihat Dunia

Melihat dunia adalah salah satu impianku sebelum cita-cita yang lebih besar, dunia yang melihatku. Aku memang punya mimpi yang muluk, yang mungkin orang akan tertawa jika mendengarnya. Karenanya aku hanya sanggup menuliskan mimpiku dan menerbangkannya bersama lampion, berharap Tuhan sudi membaca dan mengabulkan sedikit demi sedikit mimpiku.

Awal tahun, aku mendapatkan kabar bahwa aku mendapatkan hadiah untuk pelesiran ke negeri seberang, biaya perjalanan serta akomodasi lainnya ditanggung. Kecuali biaya shopping khas wanita yang ini dan itu ingin dibeli. Menjelang akhir Februari aku berangkat bersama 11 orang teman lainnya. Terbang dengan AirAsia, untuk menjejakkan kaki lagi di negeri asing, dan untuk pertama kalinya tak berbayar. Aku menuju gerbang dunia.



Aku menjejakkan kaki di bandara. Kaki dan badan masih terasa bugar :)

Hari pertama, tepatnya jam pertama aku menjejakkan kaki di negeri ini, yang dituju adalah sebuah pameran buku besar. Pameran yang memberi diskon tidak tanggung-tanggung tanpa menaikkan harga lebih dulu. Aku dan teman-teman mengisi dua koper penuh dengan buku pendidikan dan buku dongeng anak-anak. Pelajaran pertama yang kudapat, buku bagus di sini mudah didapat dengan harga yang realistis, karena memang pameran semacam ini diadakan rutin.

Setelah puas berbelanja buku, kami menuju hotel dengan menggunakan transportasi umum MRT dan bus. Dengan membawa banyak koper, kami tetap nyaman, begitu pula penumpang lainnya yang tidak terganggu dengan barang bawaan kami. Pelajaran selanjutnya, kota/negara yang kaya adalah yang mampu memaksa penduduknya menaiki transportasi umum, bukan memaksa mereka membeli transportasi pribadi karena tidak mampu melayani warganya dengan transportasi umum yang layak.


Aku dan beberapa teman di MRT dan lobi hotel tempat kami menginap dengan koper barang bawaan ditambah koper belanjaan buku.

Petualangan jalan-jalan dan belanja kemudian berlanjut. Aku semakin mengamati negeri kecil yang sangat maju ini. Menyempatkan naik taksi dan berbincang dengan supir taksi warga keturunan India tentang hukum, multibudaya, dan multiagama yang berjalan indah di sana. Semakin dalam aku berpikir, "Mengapa Indonesia belum sepenuhnya mampu setoleran itu?" Dalam setiap perjalanan kaki yang aku lalui selama di negeri itu, aku tak henti-hentinya berpikir. Semua aku pikirkan, tentang diri sendiri, profesi yang kujalani, hingga negaraku yang besar secara wilayah. Aku ingin Indonesia berubah menjadi lebih baik, dan semua bisa terjadi diawali dengan aku yang juga berubah. Menjalani semua yang ada dalam hidupku tidak hanya berorientasi pada diri sendiri dan keluarga, tetapi lebih luas.

Patung-patung yang menggambarkan segalanya. Multibudaya dan multiagama.

Hari selanjutnya, aku berkunjung ke Universal Studio. Tentu, setiap turis yang datang pasti tidak akan melewatkan berfoto di depan bola dunia raksasa sebagai simbol kunjungannya dengan berbagai pose manis. Aku juga berfoto di sana, dengan tatapan seakan-akan melihat dunia. Dalam hati tentu aku berdoa, kini aku melihat dunia, suatu saat dunia akan melihatku. Entah untuk apa, tapi kuharap karena prestasi yang kubuat.

Aku melihat dunia.

Di negeri multibudaya ini, aku dan teman-teman seakan berjanji dan bermimpi bahwa suatu saat dengan prestasi yang diukir kami sanggup menjejakkan kaki bersama atau masing-masing ke tempat berbeda agar dunia menatap. Perjalanan singkatku ke negeri kecil saat itu, banyak membuatku berpikir akan banyak hal. Menata kembali impian dan cita-cita untuk perubahan diri dan dunia (semoga tidak ada yang menertawakan lagi impian mulukku). Dan AirAsia yang mengantarku pada gerbang impian serta kedalamanku berpikir untuk berubah menjadi lebih baik dan membawaku kembali pulang pada negeri sendiri dan realita.

Jejak kaki janji, akan membuat dunia menatap kami atas prestasi.

Pulang bersama AirAsia membawa mimpi baru.


17.7.14

Anak dan Politik

Suatu pagi, saat kegiatan berkarya, aku sempat menguping pembicaraan tak biasa yang dilakukan anak-anak usia 5 tahun. Anak-anak ini terlibat dalam pembicaraan politik yang memang belakangan ini cukup memanas pasca pilpres.

Kupikir, pembicaraan itu sedikit banyak merupakan cermin perilaku orang dewasa di sekitarnya. Yang terdekat, mungkin orang tuanya.

Kira-kira, begini isi percakapannya...

Refi : "Prabowo itu orang hebat."
Arha : "Iya, Prabowo itu hebat tapi Jokowi juga hebat."
Refi : "Enggak! Prabowo itu hebat tapi Jokowi jelek!"
Arha : "Prabowo sama Jokowi itu bagus dua-duanya. Orang hebat calon presiden."
Refi : "Memangnya papa kamu milih siapa?"
Arha : "Papa aku milih Prabowo, mama aku juga milih Prabowo, tapi Jokowi juga bagus. Kalo papa kamu milih siapa?"
Refi : "Papa aku sama mama aku semuanya milih Prabowo. Nenek aku milih Prabowo. Keluarga aku semua milih Prabowo."
Arha : "Oh gitu. Kalo aku udah bisa milih. Aku mau milih Jokowi."
Refi : " Kenapa?"
Arha : "Prabowo sama Jokowi soalnya hebat. Jadi kalo papa aku udah milih Prabowo, aku aja yang milih Jokowi."

Lalu, mereka mulai tenang dan pembicaraan terhenti sejenak. Aku senyum-senyum sendiri. Seakan membayangkan perilaku orang tua mereka. Aku pun mendekat. Penasaran ingin terlibat dalam pembicaraan seru itu.

Aku : "Seru banget ngobrolin Prabowo sama Jokowi."
Refi : "Iya. Emangnya bu Kika waktu itu milih siapa?"
Aku : "Bu Kika milih Jokowi. Tapi suaminya bu Kika milih Prabowo."
Refi : "Oh. Milihnya beda ya? Kalau keluarga bu Kika pilih siapa?"
Aku : "Beda-beda juga. Ada yang milih Prabowo ada yang milih Jokowi. Ya gak apa-apa beda juga."
Refi : .... (senyum lalu diam)
Aku : "Menurut Rafi, Prabowo itu gimana?"
Refi : "Prabowo itu hebat."
Aku : "Kalau Jokowi?"
Refi : "Ya lumayanlah."
Aku : (cuma sanggup senyum)
Refi : "Jadi sebenernya yang menang siapa sih bu?"
Aku : "Ya belum ada hasilnya. Kan semua suara harus dihitung dulu. Tunggu aja tanggal 22 Juli."
Refi : "Trus nanti yang kalah gimana?"
Aku : "Gak ada yang menang sama yang kalah. Soalnya ini bukan lomba. Tapi ada yang terpilih jadi presiden ada yang gak terpilih. Kalau yang ga terpilih ya tetap dengan profesinya, kalau yang terpilih ganti tanggung jawabnya."
Refi : "Kalau Prabowo ga kepilih tetep kerja ya. Kalau Jokowi ga kepilih tetep kerja juga ya?"
Aku : "Iya. Siapa pun yang jadi presidennya, kita harus dukung supaya Indonesianya lebih keren."
Refi : "Aku mau Indonesianya jadi lebih keren."

Anak usia 5 tahun, pada tahun 2045 akan menjadi calon-calon pemimpin negeri ini. Orang dewasa dan pemimpin di masa golden age anak-anak tersebut seharusnya dapat menjadi model sebagai orang dewasa dan juga pemimpin yang santun. Politik jangan dijadikan ajang perlombaan kalah dan menang. Tapi tempat turun tangan untuk ikut sama-sama memperbaiki dan membangun negeri. Suatu saat mereka akan turut bekerja membantu negeri ini, bukan hanya meneriakkan protes tanpa berbuat apa pun. Apalagi merendahkan hal yang dikerjakan orang lain.

*maaf, tulisan ini dibuat berdasarkan hal yang terjadi di kelasku. BUKAN KAMPANYE.

29.4.14

Doa dan Harapan untuk Bumi

Tanggal 22 April lalu, diperingati sebagai Hari Bumi. Anak-anak kelasku kemudian diajak untuk mengungkapkan doa serta harapannya untuk Bumi yang mereka tinggali. Lalu mereka bekerja sama 'menciptakan' Bumi sebagai visualisasi harapan mereka.

Bumi karya Arkan & Vanya

Bumi karya Feyla & Zeta

Bumi karya Adel, Ammaar & Regan

Bumi karya Ghanisya, Illa & Ataya

Setelah 'menciptakan' Bumi, mereka mengungkapkan harapannya secara verbal dan tulisan. Kalimat yang mereka ucapkan seakan-akan memang menggambarkan harapan semua orang. Dan sebenarnya mudah untuk diwujudkan jika memang berniat...


Doa dan harapan untuk Bumi :

"Aku mau lingkungan yang subur. Aku pengin lingkungan berisi binatang-binatang. Terima kasih sudah menjaga lingkungan Bumi." ~ Arla, 6 tahun

"Aku pengen bunganya bagus dan tidak ada yang buang sampah sembarangan." ~ Adel, 5 tahun.

"Aku ingin Bumi bersih nggak ada sampah dan udara segar." ~ Arga, 6 tahun.

"Aku ingin Bumi bersih dan indah dan juga bunga berkembang dan pohon pun tumbuh sehat." ~ Jasmine, 6 tahun.

"Aku mau Bumi bersih, segar, tidak jorok karena membuang sampah." ~ Nisa, 6 tahun.

"Aku harap Bumi itu bersih tidak ada yang buang sampah sembarangan dan semoga Tuhan bantu aku. Ya Tuhan. Aamiin." ~ Vanya, 6 tahun.

"Ya Allah, aku mau bunganya tidak mati dan tolong binatangnya tidak cepat punah dan aku ingin semuanya bersih dan kelihatan indah. Aamiin." ~ Feyla, 6 tahun.

"Aku mau Bumi kita bersih dan Buminya tidak ada sampah." ~ Zeta, 6 tahun.

"Aku ingin Bumi seperti ada pohon yang bagus sekali. Pemandangannya selalu indah dan tidak ada yang buang sampah sembarangan." ~ Ghanisya, 6 tahun.

"Kita harus menjaga Bumi. Aku tidak suka ada sampah di Bumi. Aku harus jaga Bumi." ~ Illa, 6 tahun.

"Harapanku, indahnya Bumi selamanya dan selamat dari bencana." ~ Ataya, 5 tahun.



Setelah mereka menulis dan mengucapkan harapannya, aku mengajak mereka untuk membuat tindak lanjut yang akan dilakukan anak-anak untuk menjaga Bumi. Dan jawaban mereka simpel.

"Tidak buang sampah sembarangan. Mengingatkan orang lain supaya tidak buang sampah sembarangan."


Tidak banyak. Sederhana. Tapi mengapa justru masih banyak orang dewasa yang masih sulit menjalaninya? Yuk kita sama-sama menjaga lingkungan ;)


16.2.14

9 Februari 2013 - 9 Februari 2014

Tulisan ini memang sedikit terlambat. Tapi tentu tidak pernah ada kata terlambat untuk sebuah doa yang baik kan...

Tepat setahun lebih sepekan yang lalu, di Bandung terbentuk suatu komunitas perpanjangan dari komunitas yang sudah ada lebih dulu di Jakarta dan sekitarnya. Nebengers Bandung lahir secara resmi pada tanggal 9 Februari 2013, dilahirkan langsung oleh para founder yang memiliki ide brilian tentang berbagi kursi kosong kendaraan untuk mengatasi kemacetan. Disaksikan beberapa teman warga Nebengers Bandung dan juga teman-teman dari Jakarta yang menyempatkan hadir. Dan saat itu, aku yang memulai menjadi 'lurah' pertama di Nebengers Bandung. Kalau saja saat itu teman-teman yang datang lebih banyak, mungkin akan lebih banyak pilihan 'lurah' yang lainnya. Tapi akhirnya aku menjalani peran sebagai 'lurah' dengan misi mengenalkan komunitas ini serta menggerakkan manusia-manusia di Bandung agar mau menjadi bagian dari solusi sebuah masalah kemacetan. Ternyata tidak mudah ya...


Puput, Andreas, Mbak Putri Sentanu dan aku.

Sebelum benar-benar resmi, sebenarnya beberapa teman di Bandung yang mulai jengah dengan kemacetan, sudah pernah bertemu. Salah satu pertemuan sebelum Nebengers Bandung resmi lahir, hanya dihadiri 6 orang termasuk aku. Pada pertemuan itu, kami bertekad untuk mengajak lebih banyak teman lainnya. Dan pada hari itu, aku pertama kali memberi tebengan pada orang asing. Nadia adalah penebeng pertamaku yang janjian via twitter.


Pertemuanku yang bertama bareng teman-teman Nebengers Bandung.

Selanjutnya, banyak hal yang aku alami bersama dengan Nebengers Bandung. Aku dan teman-teman berusaha untuk mengenalkan Nebengers dengan berbagai cara. Dan tawaran wawancara dengan beberapa stasiun radio pun berdatangan. Tiap kali selesai siaran, kami mendapatkan tambahan warga baru, dan sepertinya saat itu publikasi lewat radio adalah cara yang cukup efektif.

Dua publikasi di awal Nebengers Bandung berdiri. Sindo Radio dan Global Radio.

Setelah warga bertambah banyak, Nebengers Bandung menambah intensitas meet up tidak resminya untuk sekedar sebagai ajang berkenalan sesama warganya. Semakin banyak warga yang bergabung, kemudian mulai direncanakan acara kopdar yang lebih besar dan terbuka bagi seluruh warga Nebengers di mana pun berada. Di setiap acara, selalu ada misi untuk mendorong teman-teman posting rute memberi dan mencari tebengan dalam aktivitas sehari-harinya. Salah satunya adalah mengadakan kuis tweet pic nebeng yang berhadiah voucher makan ramen serta buka puasa bersama. Selain itu, Nebengers Bandung juga mengadakan acara piknik dengan game nebeng yang hadiahnya banyak banget.

Beberapa kumpul hore dadakan selepas jam kerja.

Beberapa pemenang kuis. Selengkapnya bisa dibaca ceritanya dengan klik di sini.

Acara #NebengNostalgia dengan berbagai games nebeng dan hadiah.

Nebengers sudah semakin meluas, komunitas ini kemudian mendapatkan undangan untuk hadir dalam 'Obrolan Langsat' bersama dengan Bapak Wakil Menteri Perhubungan. Pada kesempatan ini pula, aku bisa hadir dan berkenalan dengan hampir semua 'lurah' distrik lainnya di Jakarta dan sekitarnya. Berbagi cerita tentang kondisi wilayahnya masing-masing dan berbagi ide tentang cara mengenalkan komunitas ini pada masyarakat. 

Aku, founder, dan para 'lurah' Nebengers.

Pada Oktober 2013, aku menyatakan mundur dari status 'lurah' Bandung, dengan berbagai latar belakang kepadatan kegiatan lain dan persiapanku menikah sebulan kemudian. Pemilu kemudian diadakan di komunitas ini, dan terpilih Kang Utush sebagai 'lurah' selanjutnya yang membuat Nebengers Bandung semakin besar. Terima kasih banyak ya teman-teman, sudah memberi banyak pengalaman. Terima kasih juga bingkisan mungilnya yang mampu membuatku menangis haru.

Serah terima jabatan 'lurah'.

Aku dan bingkisan bertuliskan namaku. Aku nangis.

Perlu disadari bahwa semakin hari komunitas ini semakin besar dalam jumlah warganya. Namun tujuan Nebengers adalah menggerakkan manusia untuk bersedia berbagi kursi kosong kendaraannya bukan hanya sekedar mengumpulkan massa sebanyak-banyaknya. Jadi, yuk sama-sama perangi kemacetan dengan berbagi kendaraan. Jika masih ragu, setidaknya jangan menambah masalah dengan pelit saat berkendara, silakan gunakan angkutan umum saja. Atau beri tebengan pada tetangga atau teman kerja/kuliah terlebih dulu sebelum kamu beri tebengan pada manusia asing. Gabung dengan Nebengers, untuk menjadikan manusia-manusia asing di dalamnya sebagai keluarga.

Jika belum mampu menjadi solusi dari suatu masalah, setidaknya jangan pernah menjadi penyebab masalah.

Selamat ulang tahun yang pertama Nebengers Bandung. Semoga semakin menjadi pilihan solusi dalam mengatasi masalah kemacetan di Bandung tercinta.


15.4.13

Yuk, Kita Nebeng!

Setiap hari Senin hingga Jumat, aku yang bertempat tinggal di perbatasan kota harus bolak-balik menembus jalanan kota Bandung yang semakin hari semakin padat. Berangkat nyaris sebelum matahari terbit, pulang tidak sempat bertemu matahari. Aku berangkat sangat pagi karena menghindari kemacetan atau mengantisipasi angkutan umum yang sering ngetem dan maju mundur mencari penumpang. Aku memang lebih sering pulang pergi dengan memanfaatkan angkutan umum dengan alasan mengirit bahan bakar, tidak menambah jumlah kendaraan di jalanan, dan bisa beristirahat dengan duduk tenang. Dengan resiko, waktu yang harus dipersiapkan lebih lama, dan seringkali menegur supir angkot supaya tidak ugal-ugalan mengendarai mobilnya.

Sesekali jika ada kebutuhan untuk mengharuskan aku membawa kendaraan, aku terpaksa menyetir mobil sendiri ke tempat kerja. Entah kenapa, seringkali merasa berdosa menambah jumlah kendaraan di kala macet. Di dalam mobil sendirian. Sejak sering merasa berdosa itulah aku mulai mengajak berangkat dan pulang bersama beberapa teman kerja yang searah. Memberi tebengan. Sering juga ada teman yang mengajakku nebeng pulang dengan mobil atau motornya ketika aku tidak membawa kendaraan sendiri. Aku pulang kerja dengan nebeng.

Mungkin saat itu aku berjodoh dengan satu komunitas yang memiliki pikiran yang sama. Berbagi kursi kendaraan yang kosong bagi teman-teman yang searah. Bahkan komunitas ini berani berbagi dengan manusia asing sekalipun! Aku mulai mencoba berkenalan dengan Nebengers pada akhir tahun 2012. Melalui akun @nebengers di twitter, aku mulai mengamati gerak-gerik manusia di dalamnya. Menarik. Mereka berani berbagi tanpa memandang apapun. Dengan tujuan mulia sedikit mengurangi kemacetan. Buat apa hanya sekedar mengeluh kemacetan jika tidak melakukan tindakan apapun. Akhirnya Januari 2013 aku berani bertanya dan mulai berani mencoba posting ruteku sehari-hari. Kesan pertamaku tentang komunitas ini, ramah. Mereka yang berada di dalamnya menerima siapapun yang peduli dan ingin bergabung. Mereka berusaha mengenal semua manusia di dalamnya karena punya prinsip 'Tak kenal maka tak nebeng.' Karena memang keamanan nebeng yang selalu menjadi kekhawatiran para anggota yang baru bergabung, maka setiap warga yang sudah lebih dulu bergabung akan menyambut baik siapa pun agar merasa nyaman layaknya sebuah keluarga.




Pada 9 Februari 2013, aku berkesempatan mengikuti kopdar yang cukup besar dengan keluarga Nebengers dari Jakarta dan sekitarnya. Aku mendengarkan mereka berbagi cerita dan pengalaman. Seru. Dan semakin kuatlah keinginanku untuk ikut terlibat menyuarakan tujuan komunitas ini. Apakah ini promosi berbayar? Tidak. Ini hanya masalah kepedulian. Jelas aku muak dengan kemacetan. Jelas aku meradang menjadi saksi pengambilan hak jalanan oleh pengendara tidak bertanggung jawab. Tapi marah saja tidak menghasilkan apapun tanpa tindakan. Meski hanya sekedar langkah kecil. Tapi seribu langkah kecil menghasilkan gerakan yang besar! Seribu manusia mau berbagi kursi kosong kendaraannya, pasti akan bisa mengurangi kemacetan, menekan angka stress, dan jelas menambah jumlah teman.

Jika hanya pergi sendiri, simpan kendaraanmu di rumah dan naiklah angkutan umum. Atau carilah tebengan searah. Jika harus pergi dengan kendaraan pribadi, ajaklah orang lain untuk mengisi kekosongan kursi kendaraanmu! Jangan pernah pergi sendiri dan menambah kemacetan di jalan.
Yuk, kita nebeng!







17.1.13

Kunang-Kunang dan Piano

Teman-temanku sayang,
Sudah berapa tahun ya kita bersama? Rasa-rasanya baru kemarin lusa kita saling mengenal dan berusaha 'hidup' berdampingan. Menanggalkan keegoisan dan kepentingan pribadi demi masa depan negeri. Berlebihan? Tidak kurasa. Apa yang kita lakukan bersama memang pada akhirnya demi negeri tercinta bukan?


Aku, kamu, kamu, kamu, dan dia, dengan keunikan kita masing-masing serupa kunang-kunang dengan cahayanya sendiri. Satu bercahaya akan terlihat indah, dan bila bersama akan semakin gemerlapan. Atau serupa dentingan piano, bila bunyi sendiri merdu terdengar dan bila bersama menciptakan simfoni sempurna. Ya, kita akan lebih indah bersinergi. Meski tetap menjadi diri yang unik.

Teman-teman sayang, terima kasih telah menjadi partner kerja setia dalam suka dan duka, dalam tawa dan tekanan deadline. Semoga kita selalu diberikan kekuatan jika bersama.

Salam sayang,
Kika guru dari kelas Bulan


15.11.12

10 Kesalahan Orangtua dalam Mendidik Anak #1

Tulisan ini merupakan resume dari sebuah buku hebat yang aku baca. Buku berjudul asli '10 Most Common Mistake Good Parents Make: And How to Avoid Them' berdasarkan kisah nyata seorang psikolog bernama Kevin Steede, Ph. D yang menangani kliennya. Buku ini telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul '10 Kesalahan Orangtua dalam Mendidik Anak + Solusi Bijak untuk Menghindarinya'.

Dalam kehidupan sehari-hari, aku banyak sekali menemukan kasus 'anak nakal' yang jika ditelusuri sumbernya, 'kenakalan' tersebut biasanya berawal dari kesalahan orangtua dalam pengasuhan dan mendidik anaknya. Berikut ini, adalah 5 kesalahan pertama yang bisa dijadikan bahan pembelajaran bagi orangtua dan juga guru.


·       Kesalahan 1 : Menanam Ranjau Mental
Banyak orangtua atau guru yang menanamkan keyakinan pada anak bahwa ia harus menjadi yang terbaik dalam segala hal serta harus selalu mencapai prestasi. Namun tanpa disadari terjadi keyakinan yang salah ketika kita mendorong anak-anak ke dalam aktivitas yang kurang diminati oleh anak. Anak akan memiliki kesulitan untuk membedakan antara orangtua/guru yang sedang marah dengan arangtua yang tidak lagi mencintai atau menyukai mereka. Beberapa orang dewasa yang telah tertanam ranjau ini pada saat masa kanak-kanaknya akan sering mudah merasa marah atau depresi ketika ia tidak mampu memenuhi apa yang diharapkan oleh orang lain.

Untuk menghindarinya, anak-anak perlu dikenalkan dengan berbagai aktivitas dan didorong untuk mengeksplorasi lebih jauh atas minat mereka. Anak-anak perlu mengerti bahwa setiap orang memiliki minat serta kemampuan yang berbeda. Tugas serta tanggungjawab orangtua untuk memastikan bahwa anak mengerti perbedaan dan mengetahui bahwa ia dicintai tanpa syarat. Cinta orangtua dan guru seharusnya bukanlah didasari oleh seberapa hebat prestasi anak-anaknya.

Banyak orangtua yang sering menuntut anaknya untuk tidak meluapkan emosi negatifnya, seperti marah, takut serta perasaan lemah. Hal ini menjadikan anak-anak memiliki ketidakmampuan untuk mengekspresikan emosi tersebut dengan cara yang tepat. Contoh perilaku yang keliru ketika menghentikan ekspresi emosi anak misalnya, “Anak laki-laki tidak boleh cengeng,” dan sebagainya. Setiap perkataan orangtua yang demikian dapat diartikan oleh anak-anak bahwa mereka tidak memiliki hak untuk merasakan sebuah emosi atau yang anak-anak rasakan adalah hal yang tidak penting.

Orangtua harus memberi keyakinan bahwa perasaan tertekan merupakan hal yang wajar dan normal karena memang pada dasarnya emosi negatif yang muncul tersebut merupakan hal yang benar-benar normal dan sehat. Semakin anak-anak merasa nyaman dengan emosi-emosi apapun yang mereka rasakan akan membuat mereka lebih terbuka untuk membina hubungan antarpribadi di masa mendatang.

Menuntut anak untuk selalu berbuat baik agar dapat disukai oleh semua orang akan menimbulkan perasaan ragu, tidak percaya diri, dan sering merasa gelisah. Rasa harga diri anak akan selalu berada di bawah kendali orang lain. Anak-anak dan orang dewasa yang serius meletakkan harga diri mereka pada opini orang lain akan rentan terhadap hubungan yang abusive, tekanan teman sebaya serta situasi eksplorastif lainnya yang tidak menyenangkan.

Mendorong anak-anak untuk melakukan hal yang diinginkannya meski hal tersebut memerlukan persetujuan orang lain, orangtua dan guru telah membuatnya memiliki harga diri. Anak-anak pun akan memiliki sikap teguh untuk melawan segala tekanan dari teman sebayanya. Secara tidak sadar kita telah mengajarkan anak-anak menjadi lebih kuat secara mental untuk mempertanggungjawabkan segala hal dan patuh pada aturan tanpa memaksanya apalagi mengekang kebebasannya.

Terkadang, ada orangtua yang menuntut anaknya agar tidak melakukan kesalahan bahkan melarangnya untuk meminta pertolongan dari orang lain. Padahal sesungguhnya, membuat kesalahan adalah hal yang manusiawi. Karena anak-anak yang memahami arti sebuah kesalahan tidak akan menyalahkan diri sendiri selama proses mencoba dan memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan.

·         Kesalahan 2 : Menunggu Anak Berperilaku Buruk
Pada dasarnya, anak akan tumbuh ‘liar’ ketika sering mendapatkan perhatian negatif. Semua anak ingin diperhatikan dan mereka akan tumbuh baik bila orangtuanya dan guru memberikan perhatian yang positif pula. Namun kebanyakan orangtua cenderung memperhatikan anak saat mereka melakukan sebuah kesalahan atau berperilaku buruk. Sebaiknya orangtua dan guru perlu menghargai sebuah ‘kemajuan’ kecil yang dicapai oleh anak.

·         Kesalahan 3 : Tidak Konsisten
Banyak sekali alasan serta penyebab orangtua tidak konsisten terhadap penerapan aturan  terhadap anak, misalnya karena waktu, kesibukan, stress, atau kurangnya perhatian terhadap hal-hal yang sederhana. Namun apapun alasannya, tanpa konsistensi yang terstruktur akan menimbulkan berbagai variasi permasalahan perilaku anak. Faktor terpenting yang harus dilakukan adalah penetapan aturan yang dapat diprediksi dan dilaksanakan secara konsisten.

Hal yang dapat dilakukan secara konsisten adalah rutinitas sehari-hari yang konsisten dan juga aturan. Rutinitas sederhana sehari-hari yang dilakukan secara konsisten setiap pagi dan malam akan dapat mengurangi tingkat stress pada anak. Jika ada perubahan rutinitas yang berubah, komunikasikan hal tersebut sedini mungkin pada anak untuk mendapatkan pengertiannya. Beri anak pujian dan ucapan terima kasih atas kerjasama yang telah ia berikan.

Selain adanya aturan yang konsisten, dibutuhkan pula penerapan disiplin yang konsisten pada anak. Penerapan disiplin yang konsisten bukan berarti memberi hukuman tanpa ampun. Menyusun konsekuensi berjangka waktu lebih pendek namun konsisten akan lebih baik dibandingkan dengan menjatuhkan hukuman dalam jangka waktu lama tetapi sulit untuk diterapkan. Ketika aturan dan disiplin dilakukan oleh orangtua/guru secara konsisten dan tidak berubah-ubah maka anak akan menjadi patuh, bertanggungjawab, dan tidak akan tergoda untuk menguji aturan masih berlaku atau tidak.

·         Kesalahan 4 : Menutup Pintu Komunikasi Terbuka
Komunikasi sangat penting karena seiring bertambahnya usia anak, tingkat pengawasan secara langsung dari orangtua akan berkurang secara signifikan. Tipe orangtua yang perlu dihindari adalah,
Orangtua Otoriter, tipe orangtua yang sangat mempertahankan kendali kekuasaan. Orangtua seperti ini akan memerintah anak untuk bersikap dan bertindak dengan benar. Yang digunakan hanyalah kalimat perintah dan ancaman.
Orangtua Penceramah, biasanya selalu mematikan komunikasi dengan meluncurkan ceramah dan nasihat yang sebenarnya sedang tidak dibutuhkan oleh anak. Biasanya kata-kata yang digunakan adalah ‘seharusnya’,
Orangtua yang Suka Menyalahkan, biasanya menginginkan anaknya mengetahui betapa superiornya mereka. Tujuan utamanya hanya ingin anak-anaknya tahu bahwa orangtuanya lebih tua, lebih bijak, dan selalu benar. Orangtua tipe ini cenderung melontarkan pernyataan seperti ‘apa kubilang’, ‘kalau saja kamu mau mendengarkan’ dan sejenisnya.
Orangtua yang Suka Menggampangkan, seakan-akan menghibur dengan cara cepat untuk menyelesaikan persoalan. Terkadang hal ini menyebabkan anak menganggap bahwa orangtua benar-benar mengerti perasaan mereka atau bahkan merasa tidak dipedulikan atas masalah yang benar-benar serius menimpa mereka. Biasanya orangtua tipe ini akan melontarkan kata-kata seperti, ‘itu bukanlah hal yang besar’, ‘percayalah semua akan baik-baik saja’.

Yang harus dilakukan oleh orangtua agar dapat menghindari kesalahan berkomunikasi dengan anak adalah jadilah pendengar yang baik bagi anak. Orangtua harus memperlihatkan dengan jelas bahwa mereka sungguh-sungguh menyediakan waktu untuk mendengarkan. Selain mendengarkan, orangtua dapat mengajak anak untuk merefleksikan. Merefleksikan terbagi menjadi dua yaitu level isi dan emosional. Level isi merupakan hal faktual yang terjadi dan emosional adalah hal berkaitan dengan perasaan akibat dari kejadian yang dialami. Orangtua juga perlu untuk mempelajari bahasa nonverbal yang ditunjukkan oleh anak.

·         Kesalahan 5 : Memainkan Peran untuk Menyelesaikan Masalah
Nurani orangtua untuk melindungi anaknya dari masalah merupakan hal yang wajar. Namun terlalu dini menuntaskan semua masalah yang dialami oleh anak akan menyebabkan anak tidak memiliki kesempatan untuk belajar dari konsekuensi tindakan yang dilakukannya. Tanpa sadar, orangtua mendorong anak menjadi serba tergantung daripada belajar untuk mandiri. Jika tidak memberikan kesempatan untuk belajar mengenai konsekuensi secara alami akan menimbulkan frustasi dan kemarahan pada masa mendatang.

Sebaiknya, orangtua melibatkan anak dalam memecahkan masalahnya. Orangtua dapat tetap memiliki peran aktif namun dengan tetap melibatkan anak dalam prosesnya. Pemecahan masalah dapat diawali dengan menyatakan persoalan yang dimaksud dengan jelas dan tenang. Hal khusus harus dibahas secara jelas dan detil untuk menghindari emosi memanas, saling menuduh atau saling menyalahkan.

bersambung........ ^^

26.12.11

Ketika Alam Mulai Bertindak

Musim penghujan kali ini tidak lagi dapat diterka seperti dulu. Waktu aku kecil, aku yakin musim penghujan hanya akan datang jika bulan di kalender sudah menunjukkan akhiran 'ber'. Tapi sekarang, rasanya setiap saat dan setiap waktu hujan selalu datang dan banjir selalu menghantui di banyak kota. Hujannya pasti tidak akan pernah jadi masalah. Seharusnya begitu. Karena alam bertindak sebagaimana mestinya. Manusia yang menumpang hidup seharusnya yang tahu diri. Alam tidak akan rusak jika tidak ada manusia yang merusaknya. Begitu menurutku.

Semakin padatnya jumlah penduduk di suatu tempat, belum diimbangi dengan kesadaran tiap individunya untuk menjaga alam dan lingkungan yang ditumpanginya. Banyak sekali faktor yang menyebabkan manusia bertindak semena-mena pada alam, dan semua faktor yang ada kemudian saling berhubungan membentuk lingkaran setan yang sulit diputus. Pada akhirnya, alam yang dikorbankan karena alam tidak bisa bicara.

Alam tidak bisa bicara, tapi alam mampu bertindak. Ketika manusia mulai menghalalkan menebang pohon sesuka hati, longsor. Ketika manusia menganggap selokan adalah tempat sampah, banjir. Itu hanya sebagian kecil.

Miris rasanya jika melihat ada manusia-manusia berseragam sekolah maupun kantor instansi tertentu yang naik kendaraan umum dan tanpa merasa bersalah secara spontan membuang sampah bekas makanannya ke jalanan. Jangankan ke jalanan, ke bawah kolong bangku angkot pun menurutku tidak pantas. Itu bukan tempatnya.

Pemahaman manusia-manusia penumpang alam mengenai fungsi selokan pun rasanya belum terlalu baik. Banyak sekali pembangunan perumahan namun kurang memperhatikan selokannya. Seringkali selokan ditutup untuk membuat penghubung antara rumah dan jalanan. Perbaikan jalan belum diimbangi dengan pembuatan selokan yang layak, sehingga dapat dipastikan jalanan akan mudah kembali rusak karena terkikis air hujan yang meluap dari selokan mini yang juga tersumbat sampah.

Hampir 2 bulan yang lalu, ada perbaikan jalan di lingkungan tempat tinggalku. Namun sama seperti yang lainnya, selokan bukan menjadi target perbaikan juga. Akhirnya, inilah yang terjadi...

Jalan bagian kiri terlihat macet karena sistem buka-tutup. Jalan bagian kanan baru selesai dicor dan belum bisa dilalui kendaraan. Selokan di bagian paling kanan sudah benar-benar tidak jelas penampakannya. Tertutup batu-batu sisa renovasi jalan dan juga sampah yang bertebaran.

Selokan mini dengan taburan sampah plastik diatasnya.

Bisa menebak ini apa? 
Ini adalah selokan yang semakin menciut di ujungnya. Sampah yang mengalir kemudian tersangkut dan menumpuk.

Lagi-lagi, masih dengan sampah yang meluap.

Foto-foto ini aku ambil sore hari sekitar pukul 5 setelah hujan reda. Hujannya cukup deras dan aku tidak menyangka, ternyata ada daerah yang lebih ekstrim. Jalanan berubah menjadi aliran sungai yang sangat deras. Aku mendapat peringatan dari teman-teman yang mengirimkan gambar situasi banjir tak jauh dari tempat tinggalku dan jalanan yang biasa aku lalui.

Banjir di jalan dekat dengan rumahku, jalan Cihanjuang. Di bagian yang lebih rendah. Aliran airnya sangat deras dan bisa dipastikan sangat berbahaya. Kendaraan tidak mungkin bisa lewat.

Banjir besar di jalan Raya Barat Cimahi, sebelum masuk ke jalan Cihanjuang menuju rumahku.

Warga perumahan di tempat tinggalku, pada akhir pekan kemudian melakukan kerja bakti memperbaiki saluran di depan komplek. Kondisinya kini lebih baik, aliran banjir tidak sederas sebelumnya namun aliran sampah masih datang dari daerah atas. Sehingga selalu menyisakan sampah tiap kali hujan mereda.

Sebagai manusia yang hanya menumpang, ayo kita jaga alam ini. Mulai dari lingkungan terdekat dengan tidak membuang sampah sembarangan. Mengurangi pembuangan sampah plastik. Menanam pohon di hutan untuk penghijauan jika memungkinkan. Melakukan kerja bakti perbaikan saluran pembuangan air / selokan. Lakukan lebih banyak lagi untuk lingkungan, mulai dari diri. Ketika alam mulai bertindak atas perilaku manusia, ketika itu pula akan terlihat kualitas manusia yang menumpang.