Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

21.12.16

Berbeda Itu Indah

Kegiatan di TKB, mengambil tema pertama ‘Aku Sayang Teman’. Anak-anak diajak untuk belajar mengenal dirinya, kelebihan serta kekurangan yang dimiliki diri serta teman-temannya agar dapat saling berkolaborasi. Kegiatan bercerita untuk membuka cakrawala anak mengenai kelebihan dan kekurangan diri salah satunya menggunakan buku ‘Modo Tak mau Menari’. Buku ini bercerita tentang Modo yang berpura-pura sakit gigi ketika semua temannya bermain dan menari bersama. Ternyata Modo tidak berkata jujur bahwa sebenarnya dirinya tidak bisa menari. Lalu semua teman-teman Modo membujuknya untuk mencoba menari, Modo ternyata tetap tidak bisa menari seperti teman-teman lainnya. Dan akhirnya, Modo pun berkata jujur bahwa dirinya tidak bisa menari dan takut jika teman-temannya tidak lagi mau bermain bersamanya. Setelah Modo berkata jujur, teman-temannya lebih memahami Modo. Ternyata, Modo lebih hebat saat bermain musik. Modo pun dapat berkolaborasi dengan teman-temannya yang hebat saat menari.

 
  
Dalam cerita ini, anak-anak mengambil pelajaran bahwa setiap orang pasti memiliki kemampuan serta ketidakmampuan yang berbeda. Namun hal tersebut tidak harus dibuat menjadi sama. Mungkin, perbedaan inilah yang akan membuat kolaborasi semakin menarik.
Lalu, anak-anak diajak merefleksikan diri dari cerita yang sudah mereka simak. Apa saja kelebihan serta kekurangan mereka masing-masing. Apa kekuatan mereka saat berkarya di sekolah. Anak-anak menuangkan pemikirannya dalam sebuah gambar.


Cheryl dan Gea mengungkapkan bahwa mereka hebat saat berkarya dalam bentuk lukisan. Mereka lebih merasa percaya diri saat diajak untuk membuat karya dengan menggambar.


Aaliya yang mengatakan bahwa ia memiliki kehebatan dalam berkarya dengan menggunakan media konstruktif block.

Selain mereka, ada juga anak-anak lain yang mengatakan bahwa dirinya hebat saat membuat karya dengan menggunakan barang bekas, membuat karya dengan melipat kertas, membuat bangunan dari permainan konstruktif, dan sebagainya. Lalu kehebatan yang berbeda ini dikolaborasikan dalam bentuk karya bersama. Anak-anak yang memiliki kehebatan berkarya dengan barang-barang bekas, melipat kertas, dan melukis kemudian berkolaborasi membuat karya bersama dalam ukuran yang cukup besar. Karya yang dibuat bertema tentang pertemanan sesuai dengan tema di sekolah.


Jingga dan Auzriel menjadi model lukisan dan tubuh mereka dicetak oleh teman-temannya di atas sebuah kertas berukuran besar.
  

Teman-teman mencetak tubuh Jingga dan Auzriel. Mereka pun menjaga agar tubuh serta pakaian Jingga dan Auzriel tidak terkena coretan spidol.

Anak-anak saling mengungkapkan idenya untuk memperkaya hasil karya bersama. Mereka memberi ide sesuai dengan minatnya dan saling bersinergi hingga di akhir kegiatan berkarya. Setelah karya tuntas, mereka pun merefleksi bersama mengenai perasaannya masing-masing. Dan mereka mengatakan bahwa kegiatan berkarya bersama tentunya sangat menyenangkan, setiap individu memiliki kesempatan untuk berkontribusi dan saling menghargai ide satu dengan yang lainnya.


Hasil akhir karya yang dibuat bersama-sama.

  

Jingga dan Auzriel yang tubuhnya dicetak untuk membuat karya bersama.

Dalam membuat karya lukisan bersama ini, bahan-bahan yang digunakan cukup sederhana, yaitu :
  •  Kertas karton berukuran besar (cukup besar untuk mencetak tubuh anak).
  • 2    Berbagai barang bekas yang dapat dimanfaatkan, misalnya potongan kotak pasta gigi, tutup botol air mineral, berbagai potongan kertas bekas berwarna, potongan bentuk mulut atau mata dari majalah / katalog bekas.
  • 3  Cat untuk mewarnai kulit beserta kuasnya.
  • 4   Gunting dan lem yang cukup kuat.

Bagi anak-anak yang mengungkapkan kehebatan dirinya dalam berkarya konstruktif, guru pun memfasilitasi mereka untuk menuangkan idenya. Mereka pun harus saling berkolaborasi seperti teman-temannya yang berkarya membuat lukisan dan kolase dalam ukuran yang besar. Anak-anak yang merasa memiliki kehebatan saat berkarya dengan konstruktif, juga harus membuat karya bersama dalam ukuran yang cukup besar. Mereka harus berbagi peran dalam mengambil kepingan block dan menyusunnya.

  


Anak-anak saling bekerja sama dan mendiskusikan mengenai gerakan orang yang mereka buat dari permainan konstruktif. Dengan kemampuan yang mereka miliki masing-masing, tiap kelompok anak menghasilkan berbagai bentuk karya block yang unik. Alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan ini dapat dikondisikan dengan ketersediaan mainan yang ada di tiap sekolah. Alternatif alat main yang dapat digunakan adalah :

  •        Block kayu bisa yang berukuran besar atau kecil.
  •        Lego, Gigo, Lassy, dan sebagainya.
  •        Kotak / kardus bekas dalam berbagai ukuran. Misalnya kardus susu, pasta gigi,         biscuit, dan sebagainya.


Di akhir kegiatan bermain, anak-anak pun melakukan pembiasaan bertanggung jawab merapikan kembali permainan yang telah digunakan. Bahkan merapikannya hingga benar-benar tuntas.


Mengembangkan kegiatan bercerita karakter hingga dapat diaplikasikan dalam kegiatan bermain anak-anak di sekolah sangat perlu dilakukan. Sehingga kegiatan bercerita akan semakin bermakna bagi anak-anak terutama anak usia dini. Melakukan kolaborasi dalam bermain dan berkarya membuat cerita Modo yang memiliki kemampuan yang berbeda dengan teman-temannya yang lain menjadi lebih bermakna. Bahwa perbedaan tidak perlu dibuat menjadi sama, berbeda itu indah, dan dapat menciptakan kolaborasi yang apik.


16.8.16

Kampanye Diet Kantong Plastik

Bandung sedang dalam proses perbaikan dalam segala hal. Tentu saja hal ini tidak lepas dari turun tangan warganya untuk tetap menjaga Bandung. Terutama menjaga lingkungannya tetap bersih. Tak bisa dipungkiri, saat hujan lebat datang menghampiri Bandung, terkadang masih ada genangan air bahkan banjir di beberapa bagian kota Bandung. Padahal sudah banyak perbaikan saluran air, gorong-gorong, dan banyak sekali dibuat biopori. Namun masalah ini tidak akan pernah tuntas jika warga Bandung masih saja buang sampah sembarangan.

Tahun ajaran lalu, aku kembali mengajak anak-anak untuk turut serta ambil bagian dalam menjaga kota Bandung tercinta. Seperti dalam cerita 'Kota Oncom' dari buku Tunas Integritas kami semua memiliki impian Bandung menjadi kota yang tertib serta nyaman untuk semua. Salah satunya adalah dengan melakukan 'Kampanye Diet Kantong Plastik'. Anak-anak kelas Bulan, diajak untuk membuat kantong belanjanya sendiri dengan menggunakan pakaian bekas. Lalu mereka pun menambah wawasan mereka tentang sampah yang dibuang sembarangan dan dampaknya bagi lingkungan.



Jehan dengan kantong belanja buatannya.

Cara membuat kantong belanja ini mudah sekali. Tanpa perlu dijahit.  Aku mendapatkan idenya dari Pinterest. Bahan-bahan untuk membuatnya pun hanya dari barang bekas (kaos bekas).

Cara membuat kantong belanja :
  • Sediakan kaos bekas dengan ukuran yang cukup besar. Jika memungkinkan, pilih gambar atau motif yang bagus agar kita tidak perlu lagi menghiasnya.
  • Siapkan gunting kain atau gunting yang cukup tajam.
  • Spidol untuk membuat pola garis.
  • Buat pola garis lengkung di bagian atas kaos (di bawah lubang leher). Garis lengkung ini untuk bagian lubang kantong belanja.
  • Buat lagi pola garis lengkung di bagian kanan dan kiri untuk membuang bagian lengan kaos.
  • Buat pola garis lurus dalam jumlah banyak di bagian bawah kaos. Jarak antar garis kira-kira 2 cm dengan panjang pola garis 8 cm.
  • Gunting semua pola garis yang telah dibuat dengan spidol.
  • Bagian bawah kaos akan membentuk rumbai-rumbai setelah digunting. Kemudian bagian atas dan bawah diikat erat hingga dapat menampung barang bawaan.
  • Selesai ;)
Kegiatan tidak hanya sampai di situ. Setiap anak diajak untuk membuat dua kantong belanja kaos. Satu untuk dipakai sendiri dan satu lagi untuk diberikan pada orang lain. Selain memberikan kantong belanja pada orang lain, anak-anak pun 'berkampanye'. Menjelaskan mengenai manfaat mengurangi penggunaan kantong plastik serta mengenalkan tentang 3R (reduce, reuse, recycle),

Pada saat kegiatan di luar kelas, tim guru mengajak anak-anak untuk pergi mengunjungi taman-taman kota. Di sana, anak-anak melakukan GPS (gerakan pungut sampah), membantu Park Ranger membersihkan taman, dan mengkampanyekan penggunaan kantong belanja pada orang-orang yang berada di taman.




Anak-anak saat melakukan GPS di taman.



Membantu Park Ranger.




Kampanye dan membagikan kantong belanja.


Kebersihan, kenyamanan, serta ketertiban kota Bandung adalah tanggung jawab bersama. Penting bagi kita mengajak anak-anak sejak dini turun tangan membantu karena Bandung Kita Tanggung Jawab Kita.

Saat anak-anak melakukan GPS di taman, ada wartawan dari harian Pikiran Rakyat yang datang meliput.

7.9.15

Merencanakan Kehamilan

Sejak awal menikah, aku tidak banyak berinisiatif untuk belajar tentang kehamilan. Aku hanya sebatas memiliki pengetahuan dari pengalaman teman-teman dan orang-orang terdekat, tidak belajar mengenai bagaimana kehamilan yang baik. Sebelum menikah pun, aku belum pernah sama sekali datang ke dokter spesialis kandungan untuk melakukan konsultasi mengenai kesehatan reproduksi. Padahal ternyata itu penting sekali sebagai bekal wanita yang sudah menikah untuk lebih mengetahui tentang tubuhnya sendiri dan sistem reproduksinya. Sekitar 4 bulan awal pernikahan, aku memang belum terlalu berharap langsung hamil, karena sewaktu pacaran LDR jadi aku dan suami berniat 'pacaran' dulu di awal pernikahan. 

Pada bulan kelima pernikahan, aku dan suami mulai merencanakan untuk mempunyai anak tapi hingga setahun pernikahan kami belum juga mendapat kabar baik. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti program hamil dari dokter spesialis kandungan. Aku mencari referensi dokter kandungan dengan sub spesialis konsultasi infertilitas dari teman-teman. Lalu diputuskan untuk menemui Prof. dr. Sofie Rifayani, Spog untuk melakukan konsultasi. Dokter dengan sub spesialis tentunya punya tarif yang lebih mahal dibandingkan dengan dokter spesialis biasa, tapi aku berpikir untuk usaha hamil tidak apa-apa bayar lebih. 

Bulan Oktober 2014, aku datang ke RSIA Hermina Pasteur di Bandung untuk bertemu dengan Prof. Sofie. Jika dilakukan pengelompokan berdasarkan tarif rumah sakit ibu dan anak di Bandung, RSIA Hermina masuk ke golongan menengah, tarifnya masih di bawah RS. Melinda di daerah Pajajaran dan RS. Limijati di jalan Riau (RE. Martadinata). Aku memilih RSIA Hermina karena jarak yang relatif lebih dekat dari rumah dan berdasarkan pengalaman adikku yang lebih dulu melakukan pemeriksaan kehamilan di sana.

Saat konsultasi, dokter pasti akan bertanya tentang usia pernikahan dan siklus menstruasi. Menurut dokter, siklus yang normal adalah berkisar 21-32 hari dan lamanya 4-7 hari. Rata-rata pasangan yang sudah menikah, sehat, dan normal, akan hamil dalam usia pernikahan tidak lebih dari setahun. Jika pasangan tersebut tidak menunda dan tidak memiliki kelainan dalam sistem reproduksinya. Saat akan melakukan konsultasi dan pemeriksaan untuk program hamil, sebaiknya istri datang saat menstruasi hari kedua. Dokter akan melakukan pemeriksaan transvaginal, yaitu pemeriksaan USG dengan menggunakan alat yang dimasukkan melalui vagina. Fungsinya untuk melihat sel telur, mengukur besarnya rahim, dan memperkirakan ketebalan dinding rahim. Saat itu Prof. Sofie sempat bertanya padaku, apakah aku punya keturunan sakit diabetes, dan ternyata hal itu mempunyai pengaruh terhadap siklus menstruasi yang tidak teratur sehingga agak sulit untuk menentukan masa subur. 

Alat USG transvaginal yang dimasukkan ke permukaan vagina.


Dokter sub spesialis infertilitas ternyata juga punya konsentrasi masalah yang berbeda-beda. Setelah konsultasi dengan Prof. Sofie, aku dirujuk menemui Dr. Tita Husnitawati, Spog untuk konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut. Bulan berikutnya di hari menstruasi kedua, aku menemui dr. Tita. Tarif konsultasi dan pemeriksaan antara prof. Sofie dan dr. Tita di rumah sakit yang sama memiliki perbedaan. Hal ini dipengaruhi gelar juga.

Pertanyaan yang diajukan oleh dr. Tita awalnya serupa dengan pertanyaan dari prof. Sofie. Berkisar tentang siklus menstruasi, lama menikah, dan masalah keputihan. Ternyata, keputihan yang berlebihan juga bisa menjadi salah satu penyebab kemandulan. Dr. Tita kemudian melakukan pemeriksaan transvaginal. Hasilnya ukuran dan ketebalan rahim baik, kondisi rahim pun bersih tidak ada benjolan atau kista. Kemudian, dr. Tita memberikan pengetahuan mengenai kehamilan serta penyebab-penyebab sulit hamil atau bahkan kemandulan. 

Penjelasan dr. Tita :
1. Saat menstruasi, sel telur akan terlihat berukuran kecil, setelah selesai sel telur akan membesar yang disebut dengan masa subur, sehingga sel sperma lebih mudah menembus sel telur yang besar.
2. Keputihan yang berlebihan, berbau, bahkan berubah warna menjadi kehijauan cukup berbahaya karena bisa menyebabkan perlengketan pada rahim dan menjalar hingga ke saluran tuba valopi.
3. Dokter menunjukkan gambar bentuk sel sperma yang sehat. Kepala sperma lonjong agak menajam di ujung dengan ukuran cukup dan memiliki ekor yang panjang untuk membantu berenang.


4. Suami dan istri yang ingin segera memiliki anak, sebaiknya berhubungan pada masa subur istri 2 hari sekali karena hal ini juga berkaitan dengan kematangan sel sperma. Namun tidak dibatasi untuk berhubungan di waktu yang bukan masa subur istri.

Setelah mendapatkan beberapa penjelasan dari dr. Tita, aku dan suami disarankan untuk melakukan serangkaian tes di laboratorium. Aku harus melakukan HSG dan suami diminta untuk cek sperma. Menurut dr. Tita, sebelum mendukung program hamil dengan asupan makanan, kita harus memastikan dulu tidak ada kelainan pada organ reproduksinya. Salah satu caranya dengan HSG, yaitu memasukkan cairan kontras yang ditembakkan melalui vagina lalu dilakukan USG untuk melihat pergerakan cairan tersebut di dalam rahim apakah cairan itu tersumbat atau mengalir lancar ke semua penjuru rahim. HSG juga dapat membersihkan rahim, jika ada perlengketan yang belum terlalu parah bisa terbuka dengan cairan HSG yang mengalir. 

HSG dilakukan di laboratorium, biayanya pun cukup mahal. Sekitar 700-800 ribu rupiah untuk sekali tindakan HSG. Untuk analisis sperma, biayanya 150 ribu rupiah. Tidak ada salahnya sebelum melakukan pemeriksaan, bandingkan harga setiap laboratorium dengan melakukan survey lewat telepon. Aku sudah melakukan survey harga dan menentukan jadwal dengan radiolog di laboratorium Pramitha cabang Moh. Toha Bandung. Namun saat itu, aku tidak bernyali dan membatalkan jadwal HSG. HSG harus dilakukan sekitar 12 hari setelah menstruasi hari pertama, biasanya dokter yang menentukan kapan harus dilakukan HSG dan kita yang membuat janji dengan radiolognya.

Pasca membatalkan jadwal untuk HSG dan mengumpulkan nyali hingga bulan selanjutnya, suamiku membuat strategi untuk menghemat biaya. Suamiku akan melakukan analisis sperma terlebih dulu, dan jika hasilnya kualitas spermanya tidak baik maka aku tidak perlu HSG. Tapi itu pun akhirnya batal dilakukan. Kami tanpa sengaja menemukan sebuah situs yang menjual buku tentang kehamilan dan langsung membelinya. 

Paket buku 'Cara Cepat Hamil' karya dr. Rosdiana Ramli, SpOG

Buku ini berisi pengetahuan mengenai organ reproduksi pria dan wanita, fungsi, serta cara perawatannya. Buku ini bagus dibaca agar kita tidak buta dengan tubuh sendiri. Tidak ada hal yang terlalu beda dengan buku pengetahuan lainnya, namun buku ini memberikan pandangan lebih positif terhadap proses kehamilan. Semua orang memiliki jangka waktu berhasil hamil yang berbeda-beda dan campur tangan Tuhan sangat besar di dalamnya. Selain buku, penulis juga memberikan bonus vitamin asam folat yang bisa dikonsumsi oleh suami dan istri setiap malam sebelum tidur, serta 2 pak alat tes kehamilan. Aku dan suami akhirnya rutin meminum asam folat ini setiap malam.

Kira-kira sebulan setelah aku dan suami rutin meminum asam folat. Akhirnya aku merasakan perubahan aneh. Badan rasanya seperti sering masuk angin, pusing, dan ingin makan banyak. Tapi karena aku seringkali memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur, aku menunggu hingga telat datang bulan 2-3 minggu, baru melakukan tespack. Akhirnya pada 20 Januari 2015, aku melakukan tespack dan hasilnya positif.

Alhamdulillah...




Cerita tentang pemilihan dokter kandungan, pemeriksaan kandungan, memilih rumah sakit untuk bersalin, hingga belanja-belanja keperluan melahirkan, dilanjutkan di posting selanjutnya ya.... ;)

29.12.14

WALS Conference 2014 dan Jalan Menuju ke Sana

Berawal dari bulan Februari 2014, kelasku melakukan kegiatan open lesson (kisahnya bisa dibaca di sini). Tak lama berselang, aku menerima sebuah pesan singkat yang mengajakku untuk melakukan sebuah penelitian berdasarkan perilaku anak-anak hari itu. Dan dengan spontannya aku mengiyakan. Penelitian berlanjut hingga bulan Mei 2014, dan aku baru sadar kalau hasil penelitian itu harus dibuat menjadi sebentuk tulisan paper untuk dipresentasikan di ajang internasional.

Bulan Juni 2014, aku diminta (atau ditawarkan) untuk membuka kelasku kembali di bulan November saat school visit dan aku pun lagi-lagi mengiyakan tanpa banyak berpikir panjang. Bulan Agustus, aku baru mendapat kabar dari UPI bahwa guru model untuk kegiatan school visit harus melalui 8 kali proses perencanaan, open class, dan post-lesson discussion. Dan dimulailah perjuangan itu. Aku menyebutnya perjuangan, karena cukup banyak energi yang dikerahkan dariku dan banyak teman. Penelitian yang diwujudkan dalam bentuk paper, persiapan sekolah menyambut tamu yang datang untuk school visit, semuanya bersamaan dengan moment proses pembuatan rapot semester 1.

Setiap Rabu, kelasku mulai didatangi beberapa teman yang tergabung dalam tim lesson study, dosen UPI, dan beberapa mahasiswa UPI yang merekam segala proses yang dijalani. Kelasku banyak belajar pada saat itu. Lelah sudah pasti, bosan setiap minggunya melakukan hal yang serupa, ternyata banyak memberi hikmah. Klise memang. Tapi begitu kenyataannya. Kelasku banyak dibantu dengan banyak mata untuk melihat stimulus yang tepat bagi anak-anak dan memperbaiki pembelajaran di kelas.


Sesi latihan open class setiap Rabu

Latihan open class ini berlangsung sejak Agustus hingga Oktober 2014, selanjutnya aku dan teman-teman yang membuat paper dan harus mempresentasikan hasil penelitiannya mulai berkutat dengan papernya masing-masing. Tanggal 1 November semua paper harus selesai dalam bahasa Inggris. Berita di sebuah harian daerah Jawa Barat memuat tentang rencana guru-guru yang akan melakukan presentasi di konferensi WALS. Hal ini cukup menambah ketegangan mendekati hari-hari tersebut.

Berita di harian Pikiran Rakyat.

Pada tanggal 25-27 November 2014, aku dan beberapa teman guru menghadiri WALS (World Association of Lesson Studies) sebuah konferensi tingkat internasional Lesson Studies yang diadakan di UPI (Universitas Pendidikan Indonesia). Semua orang yang bergabung di dalamnya adalah orang-orang yang bergerak di bidang pendidikan dan melakukan lesson study sebagai media dalam meningkatkan kualitas pendidikan di seluruh dunia.

Hari pertama, aku mengikuti sesi dengan beberapa keynote speaker. Mereka menceritakan tentang perkembangan lesson study di negaranya. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Ridwan Kamil, walikota Bandung. Seharian di hari pertama, aku melihat pendidikan dunia melalui penjelasan para keynote speakers. Mereka adalah Jan Vermunt dari Inggris, Manabu Sato dari Jepang, Didi Suryadi dari Indonesia, dan Catherine Lewis dari Amerika.

Upacara pembukaan dan pidato sambutan dari walikota.

Aku dan teman-teman mendapat kesempatan foto dengan Manabu Sato sensei.

Hari kedua, plenary session dimulai, direktur sekolah dan kepala sekolah GagasCeria ikut berpartisipasi untuk mengisi sesi tersebut. Dan cukup banyak guru yang berminat hadir mengikuti sesi itu meski mereka bukan guru pendidikan anak usia dini atau guru sekolah dasar. Mereka tertarik dengan sesi plenary dari GagasCeria karena buku yang sudah kami terbitkan. Buku yang dibagi gratis untuk 200 pendaftar ulang yang pertama dan buku yang juga kami jual di Elmuloka. Buku tentang pengalaman guru-guru melakukan kegiatan lesson study.

Tulisanku ada di halaman 260 ;)

Plenary session.

Siang di hari kedua adalah jadwalku dan partner penelitian untuk melakukan presentasi. Jujur, aku sangat gugup. Aku sudah terbiasa melakukan presentasi, tapi kali ini adalah kali pertamaku melakukan presentasi dalam bahasa Inggris. Bahasa Inggris yang pas-pasan. Mempresentasikan sebuah penelitian ilmiah tentang perkembangan anak usia dini, dalam bahasa Inggris, di hadapan para pakar dari luar negeri. Lengkaplah sudah. Tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi kemudian jika tidak pernah mencobanya? Segala sesuatu butuh kali pertama. Dan Tuhan sudah menunjukkan inilah kesempatanku. 

Sesuatu yang awalnya dianggap mengerikan, ternyata berbuah baik. Peserta yang menghadiri presentasiku dan teman-temanku adalah Jean Lang dari Inggris yang dijadwalkan akan datang ke GagasCeria saat school visit, Pete Dudley yang mengembangkan lesson study di Inggis selama 13 tahun, Catherine Lewis salah satu keynote speaker, dan Christine Lee - President of WALS. Christine Lee yang awalnya belum memutuskan tujuan school visitnya, langsung memilih GagasCeria setelah beberapa kali menghadiri sesi guru-guru Gagasceria saat presentasi. Dan ini suatu kehormatan kami sebagai guru. Malam harinya, aku ikut menghadiri jamuan makan malam dengan walikota Bandung di pendopo. Malam itu sangat membahagiakan.

Atas : sesi aku dan partnerku melakukan presentasi
Bawah : sesi sesama guru GagasCeria melakukan presentasi, aku hadir memberikan dukungan

Yeaaayyyy.... bisa foto bareng dengan pak Ridwan Kamil!


Di hari ketiga, aku dan semua teman-teman menyebar memasuki kelas-kelas sesi presentasi. Aku pun melakukan perkenalan dengan beberapa guru yang melakukan presentasi menarik dan mungkin bisa diaplikasikan di kelasku. Aku dan mereka saling bertukar kartu nama untuk diskusi lebih lanjut.

Hari keempat adalah hari school visit. Kelas dan seluruh ruangan sekolah sudah siap menyambut para tamu. Tim display yang banyak bekerja mempercantik sekolah, memajang banyak karya anak-anak di setiap sudutnya serta merapikan ruangan yang akan digunakan untuk kegiatan selama school visit berlangsung.

Beberapa display di ruangan sekolah dan kelas

Kelas yang ramai dengan karya buatan anak-anak kelas Bintang.

Karya wajah 'selamat datang' buatan anak-anak kelas Bintang.

Para tamu school visit akan mengikuti kegiatan bersama anak-anak kelas Bintang dengan kegiatan yang sudah direncanakan jauh sebelumnya oleh tim lesson study. Rencana kegiatan ini berubah berulang kali dan pada akhirnya diputuskan untuk mengikuti kesenangan anak saat bermain di sekolah.

Perencanaan bermain yang akhirnya dibuat.

Main bakiak, sonlah, dan galasin sebagai kegiatan kelas yang dilakukan.

Kegiatan refleksi bersama anak-anak di kelas setelah menggambarkan pengalaman dan bercerita.

Post-lesson discussion setelah kegiatan bermain di kelas. Semua observer harus memberikan pendapatnya mengenai kegiatan hari ini dan memberikan masukan untuk perbaikan.

Setelah semua rangkaian kegiatan school visit usai, para tamu kembali berkeliling sekolah.Kata-kata positif dan apresiasi yang diberikan cukup memberikan semangat baru sebagai guru. Kami bisa mengembangkan pendidikan Indonesia, memberi stimulus pada anak-anak dengan bahagia, dan juga bisa mendunia. Hal yang hingga kini terngiang di telingaku adalah ketika Airi Rovio-Jahansson mengatakan, "You are a great teacher." Kalimat pendek pemberi semangat. Dan kami pun menyempatkan untuk berfoto bersama.

Aku, teman-teman GagasCeria, dan para tamu school visit di depan sekolah.

Jean Lang, aku, dan Airi Rovio-Johansson ;)

Setelah semua usai, tim guru-guru GagasCeria berteriak menumpahkan kelegaan karena semua sudah berjalan dengan lancar. Stress, lelah, hingga air mata semua terbayar lunas dan membahagiakan. Kami pun berpelukan di depan sekolah. Mengundang acungan jempol dari pak Tatang Suratno yang selama ini mendampingi dan banyak membantu kami saat proses latihan open class. Terima kasih semuanya.

Kami pun makan-makan pizza sore hari dan siap untuk menyambut lagi rutinitas. Menyelesaikan rapot semester 1 ;)

Siap dengan presentasi selanjutnya di WALS Conference Thailand 2015 dan England 2016? Tunjukkan bahwa Indonesia bisa ;)

6.9.14

"Ibu, kapan datang ke sini lagi?"

Bulan Ramadhan yang lalu, aku dan teman-teman yang tergabung dalam Gerakan Bandung Ber-AKSI rutin mengisi kegiatan mendongeng di Masjid Hidayatussalamah, daerah Kalipah Apo Bandung, setiap hari Jumat sore selepas waktu Ashar. Semacam mengisi kegiatan ngabuburit yang menyenangkan untuk anak-anak. Selain mendongeng dengan menggunakan buku dari Tunas Integritas, kami juga menciptakan berbagai kegiatan yang menarik bagi anak-anak. Ide kegiatan diambil dari buku Tunas Integritas yang dibacakan setiap minggunya.

Pekan pertama kegiatan belum dimulai. Gerakan Bandung Ber-AKSI baru menyepakati sanggup mengirim relawannya untuk mendongeng secara rutin selama sisa Jumat di bulan Ramadhan. Pekan selanjutnya, kegiatan diisi dengan dongeng Tunas Integritas bersama Ibu Yulita dan Ms. Julie, guru-guru SD GagasCeria yang juga tergabung dalam Gerakan Bandung Ber-AKSI. Mereka membacakan dongeng dan membuka pojok baca di dalam masjid untuk semakin menumbuhkan minat baca bagi anak-anak. Banyak buku bacaan anak yang diboyong dari perpustakaan Elmuloka.


Ibu Yulita sedang mendongeng di hadapan anak-anak (dan beberapa ibu) di Masjid Hidayatussalamah Bandung.

Pojok baca yang menarik untuk anak-anak. Ternyata mereka sangat suka membaca.

Pertemuan pada pekan selanjutnya, Ibu Nora, Ibu Sri, dan Ibu Wulan mendapatkan gilirannya. Mereka adalah guru-guru playgroup dan TK yang hebat bercerita boneka bahkan menciptakan lagu yang idenya diambil dari buku Tunas Integritas. Ekspresi suara yang berganti-ganti, membuat anak-anak terpaku menyimak dongeng hari itu.

Dongeng dengan boneka tangan.

Lagu ciptaan Ibu Wulan.

Ibu Nora mengenalkan lagu ciptaan Ibu Wulan pada anak-anak.

Pada pekan menjelang Ramadhan berakhir, giliran aku, Achie, dan Risna didampingi juga oleh Pak Indra, yang berkunjung ke Masjid Hidayatussalamah untuk mendongeng dan juga mengajak anak-anak berkarya. Aku membacakan cerita berjudul 'Secukupnya Saja' dari salah satu seri buku Tunas Integritas. Cerita ini mengajak anak-anak tidak berlebihan saat makan, mau berbagi pada teman-teman yang saat itu tidak membawa bekal makanan. Aku menghubungkannya dengan momen bulan Ramadhan dan mengajak anak-anak tidak berlebihan saat berbuka puasa. Kemudian kami juga mengajak anak-anak berkarya membuat celengan dari botol bekas yang kami minta mereka bawa dari rumahnya masing-masing. Karya ini dihubungkan dengan momen lebaran yang akan segera tiba. Anak-anak diajak untuk menabung uang yang mereka dapatkan dari saudaranya saat lebaran nanti.

Ekspresiku saat mendongeng.

Anak-anak mulai mencoba berkarya dengan botol bekas.

Aku, Achie, dan Risna merupakan relawan terakhir yang berkegiatan di Masjid Hidayatussalamah. Kami pun tidak sempat untuk diam lebih lama untuk berbuka puasa bersama dengan anak-anak di masjid. Kami lalu berpamitan pada anak-anak untuk pulang dan mereka pun satu persatu menyalami, cium tangan, seraya bertanya, "Kenapa ga buka puasa di sini?" Ada pula yang bertanya, "Jumat depan ke sini lagi kan?" Tapi ketika aku menjawab 'tidak', mereka pun kembali bertanya, "Ibu, kapan datang ke sini lagi?"

Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang membuat terharu. Bahagia rasanya bisa berbagi cerita tentang karakter baik melalui dongeng. Dan yang pasti, Gerakan Bandung Ber-AKSI masih akan terus berlanjut bersama dongeng Tunas Integritas-nya.