7.9.15

Merencanakan Kehamilan

Sejak awal menikah, aku tidak banyak berinisiatif untuk belajar tentang kehamilan. Aku hanya sebatas memiliki pengetahuan dari pengalaman teman-teman dan orang-orang terdekat, tidak belajar mengenai bagaimana kehamilan yang baik. Sebelum menikah pun, aku belum pernah sama sekali datang ke dokter spesialis kandungan untuk melakukan konsultasi mengenai kesehatan reproduksi. Padahal ternyata itu penting sekali sebagai bekal wanita yang sudah menikah untuk lebih mengetahui tentang tubuhnya sendiri dan sistem reproduksinya. Sekitar 4 bulan awal pernikahan, aku memang belum terlalu berharap langsung hamil, karena sewaktu pacaran LDR jadi aku dan suami berniat 'pacaran' dulu di awal pernikahan. 

Pada bulan kelima pernikahan, aku dan suami mulai merencanakan untuk mempunyai anak tapi hingga setahun pernikahan kami belum juga mendapat kabar baik. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti program hamil dari dokter spesialis kandungan. Aku mencari referensi dokter kandungan dengan sub spesialis konsultasi infertilitas dari teman-teman. Lalu diputuskan untuk menemui Prof. dr. Sofie Rifayani, Spog untuk melakukan konsultasi. Dokter dengan sub spesialis tentunya punya tarif yang lebih mahal dibandingkan dengan dokter spesialis biasa, tapi aku berpikir untuk usaha hamil tidak apa-apa bayar lebih. 

Bulan Oktober 2014, aku datang ke RSIA Hermina Pasteur di Bandung untuk bertemu dengan Prof. Sofie. Jika dilakukan pengelompokan berdasarkan tarif rumah sakit ibu dan anak di Bandung, RSIA Hermina masuk ke golongan menengah, tarifnya masih di bawah RS. Melinda di daerah Pajajaran dan RS. Limijati di jalan Riau (RE. Martadinata). Aku memilih RSIA Hermina karena jarak yang relatif lebih dekat dari rumah dan berdasarkan pengalaman adikku yang lebih dulu melakukan pemeriksaan kehamilan di sana.

Saat konsultasi, dokter pasti akan bertanya tentang usia pernikahan dan siklus menstruasi. Menurut dokter, siklus yang normal adalah berkisar 21-32 hari dan lamanya 4-7 hari. Rata-rata pasangan yang sudah menikah, sehat, dan normal, akan hamil dalam usia pernikahan tidak lebih dari setahun. Jika pasangan tersebut tidak menunda dan tidak memiliki kelainan dalam sistem reproduksinya. Saat akan melakukan konsultasi dan pemeriksaan untuk program hamil, sebaiknya istri datang saat menstruasi hari kedua. Dokter akan melakukan pemeriksaan transvaginal, yaitu pemeriksaan USG dengan menggunakan alat yang dimasukkan melalui vagina. Fungsinya untuk melihat sel telur, mengukur besarnya rahim, dan memperkirakan ketebalan dinding rahim. Saat itu Prof. Sofie sempat bertanya padaku, apakah aku punya keturunan sakit diabetes, dan ternyata hal itu mempunyai pengaruh terhadap siklus menstruasi yang tidak teratur sehingga agak sulit untuk menentukan masa subur. 

Alat USG transvaginal yang dimasukkan ke permukaan vagina.


Dokter sub spesialis infertilitas ternyata juga punya konsentrasi masalah yang berbeda-beda. Setelah konsultasi dengan Prof. Sofie, aku dirujuk menemui Dr. Tita Husnitawati, Spog untuk konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut. Bulan berikutnya di hari menstruasi kedua, aku menemui dr. Tita. Tarif konsultasi dan pemeriksaan antara prof. Sofie dan dr. Tita di rumah sakit yang sama memiliki perbedaan. Hal ini dipengaruhi gelar juga.

Pertanyaan yang diajukan oleh dr. Tita awalnya serupa dengan pertanyaan dari prof. Sofie. Berkisar tentang siklus menstruasi, lama menikah, dan masalah keputihan. Ternyata, keputihan yang berlebihan juga bisa menjadi salah satu penyebab kemandulan. Dr. Tita kemudian melakukan pemeriksaan transvaginal. Hasilnya ukuran dan ketebalan rahim baik, kondisi rahim pun bersih tidak ada benjolan atau kista. Kemudian, dr. Tita memberikan pengetahuan mengenai kehamilan serta penyebab-penyebab sulit hamil atau bahkan kemandulan. 

Penjelasan dr. Tita :
1. Saat menstruasi, sel telur akan terlihat berukuran kecil, setelah selesai sel telur akan membesar yang disebut dengan masa subur, sehingga sel sperma lebih mudah menembus sel telur yang besar.
2. Keputihan yang berlebihan, berbau, bahkan berubah warna menjadi kehijauan cukup berbahaya karena bisa menyebabkan perlengketan pada rahim dan menjalar hingga ke saluran tuba valopi.
3. Dokter menunjukkan gambar bentuk sel sperma yang sehat. Kepala sperma lonjong agak menajam di ujung dengan ukuran cukup dan memiliki ekor yang panjang untuk membantu berenang.


4. Suami dan istri yang ingin segera memiliki anak, sebaiknya berhubungan pada masa subur istri 2 hari sekali karena hal ini juga berkaitan dengan kematangan sel sperma. Namun tidak dibatasi untuk berhubungan di waktu yang bukan masa subur istri.

Setelah mendapatkan beberapa penjelasan dari dr. Tita, aku dan suami disarankan untuk melakukan serangkaian tes di laboratorium. Aku harus melakukan HSG dan suami diminta untuk cek sperma. Menurut dr. Tita, sebelum mendukung program hamil dengan asupan makanan, kita harus memastikan dulu tidak ada kelainan pada organ reproduksinya. Salah satu caranya dengan HSG, yaitu memasukkan cairan kontras yang ditembakkan melalui vagina lalu dilakukan USG untuk melihat pergerakan cairan tersebut di dalam rahim apakah cairan itu tersumbat atau mengalir lancar ke semua penjuru rahim. HSG juga dapat membersihkan rahim, jika ada perlengketan yang belum terlalu parah bisa terbuka dengan cairan HSG yang mengalir. 

HSG dilakukan di laboratorium, biayanya pun cukup mahal. Sekitar 700-800 ribu rupiah untuk sekali tindakan HSG. Untuk analisis sperma, biayanya 150 ribu rupiah. Tidak ada salahnya sebelum melakukan pemeriksaan, bandingkan harga setiap laboratorium dengan melakukan survey lewat telepon. Aku sudah melakukan survey harga dan menentukan jadwal dengan radiolog di laboratorium Pramitha cabang Moh. Toha Bandung. Namun saat itu, aku tidak bernyali dan membatalkan jadwal HSG. HSG harus dilakukan sekitar 12 hari setelah menstruasi hari pertama, biasanya dokter yang menentukan kapan harus dilakukan HSG dan kita yang membuat janji dengan radiolognya.

Pasca membatalkan jadwal untuk HSG dan mengumpulkan nyali hingga bulan selanjutnya, suamiku membuat strategi untuk menghemat biaya. Suamiku akan melakukan analisis sperma terlebih dulu, dan jika hasilnya kualitas spermanya tidak baik maka aku tidak perlu HSG. Tapi itu pun akhirnya batal dilakukan. Kami tanpa sengaja menemukan sebuah situs yang menjual buku tentang kehamilan dan langsung membelinya. 

Paket buku 'Cara Cepat Hamil' karya dr. Rosdiana Ramli, SpOG

Buku ini berisi pengetahuan mengenai organ reproduksi pria dan wanita, fungsi, serta cara perawatannya. Buku ini bagus dibaca agar kita tidak buta dengan tubuh sendiri. Tidak ada hal yang terlalu beda dengan buku pengetahuan lainnya, namun buku ini memberikan pandangan lebih positif terhadap proses kehamilan. Semua orang memiliki jangka waktu berhasil hamil yang berbeda-beda dan campur tangan Tuhan sangat besar di dalamnya. Selain buku, penulis juga memberikan bonus vitamin asam folat yang bisa dikonsumsi oleh suami dan istri setiap malam sebelum tidur, serta 2 pak alat tes kehamilan. Aku dan suami akhirnya rutin meminum asam folat ini setiap malam.

Kira-kira sebulan setelah aku dan suami rutin meminum asam folat. Akhirnya aku merasakan perubahan aneh. Badan rasanya seperti sering masuk angin, pusing, dan ingin makan banyak. Tapi karena aku seringkali memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur, aku menunggu hingga telat datang bulan 2-3 minggu, baru melakukan tespack. Akhirnya pada 20 Januari 2015, aku melakukan tespack dan hasilnya positif.

Alhamdulillah...




Cerita tentang pemilihan dokter kandungan, pemeriksaan kandungan, memilih rumah sakit untuk bersalin, hingga belanja-belanja keperluan melahirkan, dilanjutkan di posting selanjutnya ya.... ;)

5.7.15

Ibu Kika dan Ibu Ditha

Liburan akhir tahun ajaran adalah saatnya untuk merapikan folder-folder data dan foto di laptop. Aku menemukan beberapa foto anak-anak kelas Bumi tahun lalu (tahun ajaran 2013-2014) yang masih tersisa di laptop. Foto-foto ini adalah foto karya gambar yang dibuat oleh anak-anak sebagai kenang-kenangan. Mereka menggambarkan aku dan Ditha sebagai guru, serta menggambarkan beberapa teman baiknya. Hasil gambar mereka unik-unik dan dapat membuatku tersenyum saat mengamatinya.

Inilah beberapa hasil karya yang dibuat oleh anak-anak kelas Bumi tahun lalu. Mereka menggambarkan ciri aku yang berkacamata dan juga menuliskan alasan suka bermain dengan teman yang digambarkannya.










Ada satu hal yang menarik perhatianku dari hasil gambar anak-anak ini. 

Seorang anak perempuan yang menulis untuk Titan ;)

Sebelumnya, aku juga pernah menerima gambar-gambar yang menggambarkan aku sebagai guru di kelas. Pernah kutuliskan ceritanya dengan judul 'Visualisasi Ibu Kika' silakan berkunjung...

4.7.15

Istana Kerajaan Cimencerang

Tidak ada kerajaan bernama Cimencerang, itu hanyalah nama imajinasi pada tema ekspresi yang dibuat sebagai kegiatan bermain dan berkarya di TKB GagasCeria. Pada tema ini, anak-anak belajar mengenai ekspresi percampuran warna. Warna-warna yang dicampurkan tersebut kemudian dituangkan dalam karya berbentuk istana.

Menjelang kegiatan assembly, kelas Bintang membuat rencana untuk menciptakan latar photobooth. Dari beberapa karya perencanaan yang dibuat, karya milik Kiran, Alika, Allena, dan Naomy terpilih sebagai karya yang akan dibuat menjadi ukuran yang lebih besar. Inilah perencanaan karya yang mereka buat :

Karya milik Kiran, Alika, Allena, dan Naomy

Karya ini kemudian dibuat menjadi ukuran besar dengan bantuan teman-teman lainnya. Mereka bekerja sama dan bergantian membuat bagian-bagian serta detil istananya.

Rafi membuat gambar benteng dalam ukuran besar.

Setelah bentuk istana ukuran besar selesai dibuat, anak-anak pun mulai bergiliran memberi warna dengan menggunakan cat. Warna cat yang digunakan merupakan campuran-campuran warna.

Istana yang sudah diberi warna. Dijemur dulu supaya kering.

Istana besar ini kemudian akan ditempelkan pada latar. Latar dibuat dari plastik bening berukuran besar yang juga diberi warna dengan menggunakan cat. Karena berukuran besar, anak-anak mewarnainya bersama-sama.

Melakukan percampuran warna cat di permukaan plastik besar.

Setelah cat kering, istana kemudian disusun dan ditempelkan di latar plastik.

Karya istana yang hampir tuntas.

Pada perencanaan karya yang sudah dibuat sebelumnya, ada beberapa orang putri yang digambarkan. Namun anak-anak sepakat untuk membuat seorang putri dan seorang prajurit. Putri dan prajurit dibuat dengan mencetak tubuh.



Putri dan prajurit.

Setelah semua tuntas, karya kemudian dipasang di area panggung assembly sebagai tempat berfoto anak-anak dan para orangtua. Kami guru-guru juga tidak mau kalah untuk berfoto.


Setelah kegiatan assembly usai, karya istana, putri, dan prajurit kemudian dipindahkan ke area sekolah. Karya istana berukuran besar dipasang di ruang Art, putri dan prajurit dipasang di area tangga menuju kelas Bintang.

Istana Cimencerang, Kiran, Alika, Naomy, dan Allena

Kiran dan lukisan putri yang dibuat dengan mencetak tubuhnya.


Karya ini juga bisa dibuat di rumah untuk menghias kamar anak-anak. Cara membuat lukisan orang dengan mencetak tubuh dapat dibaca di tulisanku kira-kira 3 tahun lalu. Bisa dibaca dengan klik saja di sini. Selamat mencoba di rumah...

19.5.15

Tirai Tutup Botol

Menjumput dan meronce benda-benda berukuran kecil adalah beberapa cara untuk mengembangkan keterampilan motorik halus pada anak-anak usia dini.

Di kelas, aku memanfaatkan barang-barang bekas untuk media bermain. Aku mengumpulkan banyak tutup botol plastik yang kemudian diberi lubang. Semua tutup botol itu lalu disusun pada seutas tali. Anak-anak perempuan, terutama, mengantri menunggu giliran mereka untuk dapat bermain dengan tutup botol itu. Mereka bergantian meronce tutup botol untuk selanjutnya dijadikan tirai untuk pintu kelas. 

Karya sederhana tapi ternyata cukup menarik untuk dilakukan. Karya ini juga bisa dibuat untuk dijadikan tirai di rumah. Selamat mencoba...




Berbagai jenis dan warna tutup botol plastik yang sudah diberi lubang dan disusun menggunakan benang wol.




Beberapa hasil yang sudah jadi, siap untuk digantung di pintu atau jendela kelas.

29.12.14

WALS Conference 2014 dan Jalan Menuju ke Sana

Berawal dari bulan Februari 2014, kelasku melakukan kegiatan open lesson (kisahnya bisa dibaca di sini). Tak lama berselang, aku menerima sebuah pesan singkat yang mengajakku untuk melakukan sebuah penelitian berdasarkan perilaku anak-anak hari itu. Dan dengan spontannya aku mengiyakan. Penelitian berlanjut hingga bulan Mei 2014, dan aku baru sadar kalau hasil penelitian itu harus dibuat menjadi sebentuk tulisan paper untuk dipresentasikan di ajang internasional.

Bulan Juni 2014, aku diminta (atau ditawarkan) untuk membuka kelasku kembali di bulan November saat school visit dan aku pun lagi-lagi mengiyakan tanpa banyak berpikir panjang. Bulan Agustus, aku baru mendapat kabar dari UPI bahwa guru model untuk kegiatan school visit harus melalui 8 kali proses perencanaan, open class, dan post-lesson discussion. Dan dimulailah perjuangan itu. Aku menyebutnya perjuangan, karena cukup banyak energi yang dikerahkan dariku dan banyak teman. Penelitian yang diwujudkan dalam bentuk paper, persiapan sekolah menyambut tamu yang datang untuk school visit, semuanya bersamaan dengan moment proses pembuatan rapot semester 1.

Setiap Rabu, kelasku mulai didatangi beberapa teman yang tergabung dalam tim lesson study, dosen UPI, dan beberapa mahasiswa UPI yang merekam segala proses yang dijalani. Kelasku banyak belajar pada saat itu. Lelah sudah pasti, bosan setiap minggunya melakukan hal yang serupa, ternyata banyak memberi hikmah. Klise memang. Tapi begitu kenyataannya. Kelasku banyak dibantu dengan banyak mata untuk melihat stimulus yang tepat bagi anak-anak dan memperbaiki pembelajaran di kelas.


Sesi latihan open class setiap Rabu

Latihan open class ini berlangsung sejak Agustus hingga Oktober 2014, selanjutnya aku dan teman-teman yang membuat paper dan harus mempresentasikan hasil penelitiannya mulai berkutat dengan papernya masing-masing. Tanggal 1 November semua paper harus selesai dalam bahasa Inggris. Berita di sebuah harian daerah Jawa Barat memuat tentang rencana guru-guru yang akan melakukan presentasi di konferensi WALS. Hal ini cukup menambah ketegangan mendekati hari-hari tersebut.

Berita di harian Pikiran Rakyat.

Pada tanggal 25-27 November 2014, aku dan beberapa teman guru menghadiri WALS (World Association of Lesson Studies) sebuah konferensi tingkat internasional Lesson Studies yang diadakan di UPI (Universitas Pendidikan Indonesia). Semua orang yang bergabung di dalamnya adalah orang-orang yang bergerak di bidang pendidikan dan melakukan lesson study sebagai media dalam meningkatkan kualitas pendidikan di seluruh dunia.

Hari pertama, aku mengikuti sesi dengan beberapa keynote speaker. Mereka menceritakan tentang perkembangan lesson study di negaranya. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Ridwan Kamil, walikota Bandung. Seharian di hari pertama, aku melihat pendidikan dunia melalui penjelasan para keynote speakers. Mereka adalah Jan Vermunt dari Inggris, Manabu Sato dari Jepang, Didi Suryadi dari Indonesia, dan Catherine Lewis dari Amerika.

Upacara pembukaan dan pidato sambutan dari walikota.

Aku dan teman-teman mendapat kesempatan foto dengan Manabu Sato sensei.

Hari kedua, plenary session dimulai, direktur sekolah dan kepala sekolah GagasCeria ikut berpartisipasi untuk mengisi sesi tersebut. Dan cukup banyak guru yang berminat hadir mengikuti sesi itu meski mereka bukan guru pendidikan anak usia dini atau guru sekolah dasar. Mereka tertarik dengan sesi plenary dari GagasCeria karena buku yang sudah kami terbitkan. Buku yang dibagi gratis untuk 200 pendaftar ulang yang pertama dan buku yang juga kami jual di Elmuloka. Buku tentang pengalaman guru-guru melakukan kegiatan lesson study.

Tulisanku ada di halaman 260 ;)

Plenary session.

Siang di hari kedua adalah jadwalku dan partner penelitian untuk melakukan presentasi. Jujur, aku sangat gugup. Aku sudah terbiasa melakukan presentasi, tapi kali ini adalah kali pertamaku melakukan presentasi dalam bahasa Inggris. Bahasa Inggris yang pas-pasan. Mempresentasikan sebuah penelitian ilmiah tentang perkembangan anak usia dini, dalam bahasa Inggris, di hadapan para pakar dari luar negeri. Lengkaplah sudah. Tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi kemudian jika tidak pernah mencobanya? Segala sesuatu butuh kali pertama. Dan Tuhan sudah menunjukkan inilah kesempatanku. 

Sesuatu yang awalnya dianggap mengerikan, ternyata berbuah baik. Peserta yang menghadiri presentasiku dan teman-temanku adalah Jean Lang dari Inggris yang dijadwalkan akan datang ke GagasCeria saat school visit, Pete Dudley yang mengembangkan lesson study di Inggis selama 13 tahun, Catherine Lewis salah satu keynote speaker, dan Christine Lee - President of WALS. Christine Lee yang awalnya belum memutuskan tujuan school visitnya, langsung memilih GagasCeria setelah beberapa kali menghadiri sesi guru-guru Gagasceria saat presentasi. Dan ini suatu kehormatan kami sebagai guru. Malam harinya, aku ikut menghadiri jamuan makan malam dengan walikota Bandung di pendopo. Malam itu sangat membahagiakan.

Atas : sesi aku dan partnerku melakukan presentasi
Bawah : sesi sesama guru GagasCeria melakukan presentasi, aku hadir memberikan dukungan

Yeaaayyyy.... bisa foto bareng dengan pak Ridwan Kamil!


Di hari ketiga, aku dan semua teman-teman menyebar memasuki kelas-kelas sesi presentasi. Aku pun melakukan perkenalan dengan beberapa guru yang melakukan presentasi menarik dan mungkin bisa diaplikasikan di kelasku. Aku dan mereka saling bertukar kartu nama untuk diskusi lebih lanjut.

Hari keempat adalah hari school visit. Kelas dan seluruh ruangan sekolah sudah siap menyambut para tamu. Tim display yang banyak bekerja mempercantik sekolah, memajang banyak karya anak-anak di setiap sudutnya serta merapikan ruangan yang akan digunakan untuk kegiatan selama school visit berlangsung.

Beberapa display di ruangan sekolah dan kelas

Kelas yang ramai dengan karya buatan anak-anak kelas Bintang.

Karya wajah 'selamat datang' buatan anak-anak kelas Bintang.

Para tamu school visit akan mengikuti kegiatan bersama anak-anak kelas Bintang dengan kegiatan yang sudah direncanakan jauh sebelumnya oleh tim lesson study. Rencana kegiatan ini berubah berulang kali dan pada akhirnya diputuskan untuk mengikuti kesenangan anak saat bermain di sekolah.

Perencanaan bermain yang akhirnya dibuat.

Main bakiak, sonlah, dan galasin sebagai kegiatan kelas yang dilakukan.

Kegiatan refleksi bersama anak-anak di kelas setelah menggambarkan pengalaman dan bercerita.

Post-lesson discussion setelah kegiatan bermain di kelas. Semua observer harus memberikan pendapatnya mengenai kegiatan hari ini dan memberikan masukan untuk perbaikan.

Setelah semua rangkaian kegiatan school visit usai, para tamu kembali berkeliling sekolah.Kata-kata positif dan apresiasi yang diberikan cukup memberikan semangat baru sebagai guru. Kami bisa mengembangkan pendidikan Indonesia, memberi stimulus pada anak-anak dengan bahagia, dan juga bisa mendunia. Hal yang hingga kini terngiang di telingaku adalah ketika Airi Rovio-Jahansson mengatakan, "You are a great teacher." Kalimat pendek pemberi semangat. Dan kami pun menyempatkan untuk berfoto bersama.

Aku, teman-teman GagasCeria, dan para tamu school visit di depan sekolah.

Jean Lang, aku, dan Airi Rovio-Johansson ;)

Setelah semua usai, tim guru-guru GagasCeria berteriak menumpahkan kelegaan karena semua sudah berjalan dengan lancar. Stress, lelah, hingga air mata semua terbayar lunas dan membahagiakan. Kami pun berpelukan di depan sekolah. Mengundang acungan jempol dari pak Tatang Suratno yang selama ini mendampingi dan banyak membantu kami saat proses latihan open class. Terima kasih semuanya.

Kami pun makan-makan pizza sore hari dan siap untuk menyambut lagi rutinitas. Menyelesaikan rapot semester 1 ;)

Siap dengan presentasi selanjutnya di WALS Conference Thailand 2015 dan England 2016? Tunjukkan bahwa Indonesia bisa ;)

Keliling Taman Kota Bandung

Liburan, tanpa diimbangi dengan jadwal cuti suami memang mustahil untuk pergi jauh-jauh. Beda dengan liburan tahun lalu, liburan akhir tahun (tengah semester) kali ini hanya dihabiskan di dalam kota Bandung dan juga di dalam rumah -tentu saja- untuk belajar menu masakan baru. Dan tentunya menjalani pekerjaan rumah tangga yang seringkali mustahil dilakukan di hari-hari kerja.

Sepupu-sepupu dari Jogja, kali ini datang berkunjung sebentar. Hanya 3 hari dan meminta rekomendasi tempat jalan-jalan di Bandung dalam waktu singkat, hemat, dan oke untuk berfoto. Pilihannya jatuh pada wisata taman kota di Bandung. Ya, taman-taman kota di Bandung sedang mengalami perombakan yang sangat besar-besaran. Bertujuan menyediakan lahan hijau terbuka untuk warga Bandung berkumpul dengan teman dan keluarganya di saat senggang. Diharapkan nantinya warga Bandung tidak lagi menjadikan mall sebagai satu-satunya pilihan menghabiskan masa santainya di dalam kota.

Sepupuku sempat bertanya, "Taman Jomblo itu ada apanya?" dan kami pun mengunjungi Taman Pasupati a.k.a Taman Jomblo yang ternyata hari itu sangat teramat penuh ABG lengkap dengan gayanya. Sepupuku pun berkomentar, "Mbak paling tua di sini." Aku setuju. Aku tampak sangat dewasa di lautan ABG hari itu. Memang, Taman Jomblo tidak terlalu banyak menawarkan sesuatu. Hanya akses wi-fi gratis (yang juga tersedia di setiap taman kota Bandung) dan bangku-bangku kubus warna-warni untuk para Jomblo duduk-duduk, siapa tahu tak sengaja bertemu jodohnya. Tak jauh dari situ, ada skate park tempat anak-anak skaters latihan bermain dengan skateboard-nya. Lalu turun lagi ke arah Barat, ada Taman Film yang kerap dipakai untuk komunitas dan keluarga berkumpul. Di Taman Film juga kerap dijadikan sebagai tempat nobar pertandingan bola.


Aku dan para sepupu

Dua bersaudara yang mengabadikan kunjungannya di Taman Film

Komunitas Nebengers yang melakukan kopdar di Taman Film

Selanjutnya, kami mengunjungi alun-alun Bandung yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan di mana-mana. Hampir setiap hari pulang kerja melewati alun-alun tapi baru sekarang aku benar-benar kembali mengijak alun-alun, kali ini dengan rumput sintetisnya. Di sana, aku melihat banyak sekali keluarga berkumpul, ada anak-yang berlari-larian tanpa membuat orangtuanya merasa khawatir jatuh dan terluka parah, ada remaja-remaja yang tidur-tiduran di rumput tanpa takut disangka aneh, ada yang bermain di arena permainannya, dan yang jelas aku melihat ada banyak kebahagiaan. Bahagia yang sederhana hanya dengan rumput buatan, kumpul gratis di tempat yang luas.

Kaki aku juga bahagia

Alun-alun dan Masjid Agung

Aku dan alun-alun

Aku, sepupu, dan alun-alun

Muka-muka bahagia tiduran di rumput dan silau

Selanjutnya, setelah istirahat makan siang dan shalat, kami melanjutkan perjalanan ke Taman Musik. Tapi karena tidak ada musisi yang tampil, kami melanjutkan ke Taman Pustaka Bunga, Taman Lansia, dan Pet Park. Taman-taman itu belum benar-benar tuntas dan masih banyak terlihat park ranger menanam banyak tanaman di sana. Di Pet Park biasanya banyak para pecinta binatang dan komunitasnya yang mengajak peliharaannya untuk datang bermain.

Narsis dengan latar belakang para sepupu di Taman Lansia

Foto bareng di Taman Lansia sebagai doa agar sanggup tumbuh menjadi lansia bersama ;)

Aku tidak banyak menampilkan foto-foto penampakan semua taman kota Bandung. Foto semacam itu kini mudah dilihat dengan mencarinya di Google. Aku hanya bisa menunjukkan wajah-wajah sumringah orang-orang yang mulai merasakan dampak dari taman kota. Taman-taman di Bandung semoga bisa dijaga kebersihannya. 

Foto twitter yang dimention ke bapak dan ibu wali :)