15.4.13

Yuk, Kita Nebeng!

Setiap hari Senin hingga Jumat, aku yang bertempat tinggal di perbatasan kota harus bolak-balik menembus jalanan kota Bandung yang semakin hari semakin padat. Berangkat nyaris sebelum matahari terbit, pulang tidak sempat bertemu matahari. Aku berangkat sangat pagi karena menghindari kemacetan atau mengantisipasi angkutan umum yang sering ngetem dan maju mundur mencari penumpang. Aku memang lebih sering pulang pergi dengan memanfaatkan angkutan umum dengan alasan mengirit bahan bakar, tidak menambah jumlah kendaraan di jalanan, dan bisa beristirahat dengan duduk tenang. Dengan resiko, waktu yang harus dipersiapkan lebih lama, dan seringkali menegur supir angkot supaya tidak ugal-ugalan mengendarai mobilnya.

Sesekali jika ada kebutuhan untuk mengharuskan aku membawa kendaraan, aku terpaksa menyetir mobil sendiri ke tempat kerja. Entah kenapa, seringkali merasa berdosa menambah jumlah kendaraan di kala macet. Di dalam mobil sendirian. Sejak sering merasa berdosa itulah aku mulai mengajak berangkat dan pulang bersama beberapa teman kerja yang searah. Memberi tebengan. Sering juga ada teman yang mengajakku nebeng pulang dengan mobil atau motornya ketika aku tidak membawa kendaraan sendiri. Aku pulang kerja dengan nebeng.

Mungkin saat itu aku berjodoh dengan satu komunitas yang memiliki pikiran yang sama. Berbagi kursi kendaraan yang kosong bagi teman-teman yang searah. Bahkan komunitas ini berani berbagi dengan manusia asing sekalipun! Aku mulai mencoba berkenalan dengan Nebengers pada akhir tahun 2012. Melalui akun @nebengers di twitter, aku mulai mengamati gerak-gerik manusia di dalamnya. Menarik. Mereka berani berbagi tanpa memandang apapun. Dengan tujuan mulia sedikit mengurangi kemacetan. Buat apa hanya sekedar mengeluh kemacetan jika tidak melakukan tindakan apapun. Akhirnya Januari 2013 aku berani bertanya dan mulai berani mencoba posting ruteku sehari-hari. Kesan pertamaku tentang komunitas ini, ramah. Mereka yang berada di dalamnya menerima siapapun yang peduli dan ingin bergabung. Mereka berusaha mengenal semua manusia di dalamnya karena punya prinsip 'Tak kenal maka tak nebeng.' Karena memang keamanan nebeng yang selalu menjadi kekhawatiran para anggota yang baru bergabung, maka setiap warga yang sudah lebih dulu bergabung akan menyambut baik siapa pun agar merasa nyaman layaknya sebuah keluarga.




Pada 9 Februari 2013, aku berkesempatan mengikuti kopdar yang cukup besar dengan keluarga Nebengers dari Jakarta dan sekitarnya. Aku mendengarkan mereka berbagi cerita dan pengalaman. Seru. Dan semakin kuatlah keinginanku untuk ikut terlibat menyuarakan tujuan komunitas ini. Apakah ini promosi berbayar? Tidak. Ini hanya masalah kepedulian. Jelas aku muak dengan kemacetan. Jelas aku meradang menjadi saksi pengambilan hak jalanan oleh pengendara tidak bertanggung jawab. Tapi marah saja tidak menghasilkan apapun tanpa tindakan. Meski hanya sekedar langkah kecil. Tapi seribu langkah kecil menghasilkan gerakan yang besar! Seribu manusia mau berbagi kursi kosong kendaraannya, pasti akan bisa mengurangi kemacetan, menekan angka stress, dan jelas menambah jumlah teman.

Jika hanya pergi sendiri, simpan kendaraanmu di rumah dan naiklah angkutan umum. Atau carilah tebengan searah. Jika harus pergi dengan kendaraan pribadi, ajaklah orang lain untuk mengisi kekosongan kursi kendaraanmu! Jangan pernah pergi sendiri dan menambah kemacetan di jalan.
Yuk, kita nebeng!