23.12.10

waktuku adalah hari ini


Aku akan memulainya dengan ucapan syukur dan senyuman, bukan kritik
Akan kuhargai setiap detik, menit dan jam karena tak sedetik pun dapat ditarik kembali
Hari ini tidak akan kusia-siakan seperti waktu lalu yang terbuang percuma
Hari ini takkan ku isi dengan kecemasan tentang apa yang akan terjadi esok
Akan kupakai waktuku untuk membuat sesuatu yang kuidamkan terjadi
Hari ini aku belajar lagi, untuk mengubah diri sendiri
Hari ini akan kuisi dengan karya
Kutinggalkan angan-angan yang selalu mengatakan, "Aku akan melakukan sesuatu jika keadaan berubah."
Jikalau keadaan tetap sama saja, dengan kemurahanNya aku tetap akan sukses dengan apa yang ada padaku
Hari ini aku akan berhenti berkata, "Aku tidak punya waktu."
Karena aku tau, aku tidak pernah mempunyai waktu untuk apapun
Jika ingin memiliki waktu, aku harus meluangkannya
Hari ini akan kulalui seolah hari akhirku, akan kulakukan yang terbaik dan tidak akan ditunda sampai esok
Karena esok belum tentu ada...

#dari selembar kertas kuning...

sumber gambar dari sini

19.12.10

Nu Art - Nyoman Nuarta


Tepat sebulan lalu, 19 November 2010, aku mendapat kesempatan berkunjung ke Nu Art di Bandung. Sebuah galeri patung milik Nyoman Nuarta. Takjub dengan hasil karya patungnya yang berukuran besar dan ternyata patung-patung itu ada yang terbuat dari media tembaga bahkan dari baja. Sayangnya, pengunjung tidak diijinkan untuk mengambil foto di dalam galeri.

Suasana toko souvenir, sebelum aku melihat tulisan 'no photo please'

Aku harus melalui toko souvenir untuk mencapai galeri. Walau tidak bisa mengambil foto di dalam galeri, patung-patung di luar galeri bisa mewakili karya Nyoman Nuarta.

Patung ikan di pelataran parkir dari media tembaga
Patung perempuan dari tembaga yang sangat besar dilihat dari depan.


Patung perempuan yang sama dilihat dari samping

Selain ke galeri, aku juga mengunjungi bengkel tempat pembuatan patung. Di sana aku melihat patung berbentuk mobil dalam ukuran mobil sebenarnya yang masih dalam proses pembuatan.

Patung mobil, bukan mobil di bengkel ^^

Yang membuatku takjub adalah patung kepala seorang pria yang sangat besar! Rencananya, patung ini akan dibuat menjadi patung pria utuh setinggi 65 meter dan akan dikirim ke Sibolga Sumatra Utara.

Lihat! Itu aku hanya setinggi bibir... Patung ini baru bagian kepala, belum badannya!

Setelah berkunjung ke galeri dan bengkel, aku mengikuti workshop membuat patung dari media tanah liat. Di sana ada beberapa pembimbing yang mengajarkan bagaimana cara membuat bentuk patung. Aku dan teman-teman juga bisa melihat contoh patung yang sudah ada.

Dan, inilah hasil karya kami ^^


Karyaku dengan bantuan dari guru patung.

Beberapa hasil karya teman-teman. Hebat-hebat!

Galeri Nyoman Nuarta sangat luas dengan halamannya. Berhektar-hektar tanah yang ada hanya sebagian kecil yang digunakan untuk bangunan. Selebihnya Nyoman Nuarta memanfaatkannya untuk lahan menanam pohon.

Walau singkat, berkunjung ke galeri ini pengalaman berharga yang ingin aku ulangi. Ditambah ingin mencoba mencicipi menu yang ada di N cafe ^^








nyetir sendiri vs naik angkot

Bandung, kini sudah tidak ada bedanya dengan Jakarta dalam hal macet. Sepertinya semua orang ketika membawa kendaraannya sendiri berubah tiba-tiba menjadi sosok emosional dan egois. Tidak mau mengantri dan ingin berada dalam barisan depan bagaimana pun caranya. Yang penting selamat dan sampai dengan cepat walaupun cara yang ditempuh mengundang bahaya dan melanggar aturan.

Aku, setiap hari berangkat kerja lebih memilih dengan naik angkot. Dengan alasan, mengurangi kemacetan. 
Naik angkot memang membutuhkan perhitungan waktu yang sangat cerdas. Karena angkot jaman sekarang hobinya ngetem sana-sini, atau berjalan hanya dalam kecepatan 10 km/jam! Kalau boleh egois, aku bisa saja belajar naik motor dan beli motor. Lebih cepat, lebih irit. Tapi aku berpikir, semakin banyak jumlah motor di Bandung bukan menjadi solusi kemacetan, bahkan justru akan membuat bahan bakar lebih banyak keluar untuk dijual. Padahal bahan bakar sekarang ini sudah semakin menipis jumlahnya.

Sekali waktu aku pergi kerja dengan mengendarai mobil, karena barang bawaan yang sangat banyak. Tapi sungguh benar-benar membuat mingguku penuh emosi. Selama seminggu aku pergi dengan menyetir sendiri dan makin menyadari tidak ada lagi celah jalanan di kota Bandung yang tidak macet! Ke arah manapun aku memilih jalan, di sana juga aku terjebak kemacetan yang sangat parah. Selain macet, jalan yang aku lalui seperti lintasan offroad, berlubang semua. Atau jika hujan turun, pasti banjir. Aku harus berjuang berkali-kali lipat dengan mobil sedan. Sekarang, mengendarai mobil sendiri menjadi sangat teramat boros. Ya boros waktu, boros bahan bakar, boros tenaga juga menguras emosi.

Suatu pagi, aku sempat merekam kemacetan di salah satu jalanan Bandung. Dalam pasrah karena yakin akan datang terlambat di tempat kerja, aku menjadi saksi keegoisan para pengendara yang tidak mau antri dan mengambil jalur yang bukan haknya.

Motor-motor yang mengambil jalur kanan ketika mobil mengantri untuk bisa maju. Bahkan ada yang naik ke trotoar untuk pejalan kaki.

 Akhirnya motor memenuhi jalur kanan jalan.

Akhirnya motor-motor memotong jalurku di sebelah kiri.

Saat aku terjebak macet, ada seorang bapak pengendara motor yang jatuh tepat di sebelah kanan mobilku karena ia masuk ke dalam lubang. Ia mengendarai motornya dengan kecepatan cukup tinggi untuk masuk ke jalur kanan hingga tidak sempat menghindari lubang. Ingin cepat tapi tidak mempedulikan keselamatan.

Cara memperoleh kendaraan dengan sangat mudah sekarang ini makin memperparah keadaan lalu lintas kota Bandung dan juga kota-kota besar lainnya. Aku hanya berkhayal dan berandai-andai agar penjualan kendaraan bisa dibatasi, tidak semudah membeli gorengan dan memperbaiki fasilitas kendaraan umum agar orang-orang tidak gengsi untuk beralih bepergian dengan menggunakan angkutan umum seperti angkot atau bis kota. Selain perbaikan jalan yang terus dilakukan tapi hanya bisa bertahan beberapa saat, sepertinya akan lebih baik memperbaiki saluran air lebih dulu. Jadi, ketika hujan turun, air tidak akan menggenang dan mengubah jalanan menjadi sungai yang bisa merusak jalan.

Semoga andai-andaiku menjadi nyata. Demi Bandung lebih nyaman.







18.12.10

Helikopter

Ada 2 orang anak...
Mereka, setiap saat setiap waktu setiap kesempatan suka membuat helikopter dari lego.
Terkadang aku 'bosan' dengan pembicaraannya tentang helikopter, tapi di sisi lain aku takjub dengan kemampuan visualnya yang bisa membuat miniatur helikopter begitu indahnya.


Alle dan Almer, 2 anak pecinta helikopter ^^



helikopter Alle

helikopter Almer






kesempatan untuk berbagi

Sudah 5 tahun aku menjadi guru, tapi impianku sejak dulu menjadi pembicara yang memberi pengaruh positif bagi orang lain baru tercapai kira-kira setahun lalu. Lebih tepatnya pada Agustus 2009. Sebenarnya, aku mulai sering menjadi pembicara di kalangan terbatas. Aku sering memberi bahan workshop untuk para orangtua murid dalam berbagai tema. Tapi di luar, baru sekali aku berbagi.


Ya, aku memang ingin menjadi pembicara di hadapan banyak orang. Berbagi ilmu yang aku punya agar semua orang pun punya. Karena aku yakin, dengan berbagi, ilmu tidak akan pernah berkurang tapi malah akan berkali-kali lipat banyaknya.


Kesempatan ini aku dapat dari mahasiswa yang sedang KKN di daerah Ciwidey. Mereka membutuhkan pembicara yang mengerti tentang dunia pendidikan anak dan aku dengan percaya dirinya mengajukan diri. Aku diminta untuk menyampaikan materi tentang ide kegiatan menarik untuk anak-anak --- kalau tidak salah. Akhirnya aku membuat semacam workshop tahapan berkarya untuk anak-anak yang paling sederhana. Awalnya aku ragu, apa aku, yang notabene adalah guru muda dengan pengalaman minim akan diterima oleh warga dan guru di sana. Ternyata, antusiame mereka sangat besar dan aku sangat dihargai. Pertanyaan yang datang bersaut-sautan dan banyak yang ingin mencoba berkarya seperti contoh yang aku buat.


Pelajaran yang aku dapat, mereka yang berada di pelosok sangat semangat belajar. Salut!


Aku, di hadapan warga desa yang semangat belajar

Aku, menjawab pertanyaan yang berdatangan

Membuka cakrawala melalui buku cerita, proses untuk berkarya

Mulai berkarya dengan menggunakan media barang bekas

Inilah mereka yang semangat belajar

Aku, di antara mahasiswa KKN dan beberapa guru PAUD di Ciwidey

Semoga sedikit yang aku ketahui, bisa memberikan manfaat buat semua yang berniat untuk belajar.
Terimakasih telah memberiku kesempatan untuk berbagi ^^








17.11.10

Seminar Guru Untuk Indonesia


Sekolah GagasCeria Bandung akan mengadakan seminar guru yang seluruh dananya akan disumbangkan untuk para korban bencana alam di Indonesia, terutama untuk Mentawai dan Merapi.

Tema seminarnya, 'Penelitian Tindakan Kelas dan Program Membaca di Kelas' dengan pembicara Nina Felicia Faridz dari Sampoerna of Education dan Lia Marlia dari GagasCeria. Rencananya akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 20 November 2010 dari pk. 08.00-12.30 wib di GSG. SD GagasCeria jln. Malabar 61 Bandung.

Dengan biaya Rp. 65.000,- kita sudah menyumbang untuk Indonesia. Pendaftaran sudah dibuka dari 15 November hingga 19 November 2010 dari pk. 09.00-15.00 wib di perpustakaan Elmuloka GagasCeria atau di gedung TK GagasCeria Bandung.

Ayo Guru Indonesia, kita belajar dan beramal ;)

30.10.10

akhirnya : donor darah!


Aku... yang sejak awal hidup selalu kurus, akhirnya setelah 27 tahun bisa juga ngerasain donor darah!

Sebetulnya, niat donor darah sudah lama ada, tapi apa daya... berat badan mencapai 45 kg saja sudah sujud syukur!

Sejak aku memulai petualangan berwisata kuliner, perlahan aku bisa menjadi manusia 'normal' yang tidak terlampau kurus. Dan akhirnya, berat badanku bisa mencapai 50 kg! Menurut dokter, aku sudah layak donor darah ;)

Pengalaman pertama donor darah terjadi atas undangan seorang teman yang kerja di Citi Bank. Kebetulan kantornya mengadakan acara donor darah bersama PMI tanggal 23 Oktober lalu. Aku, jelas semangat sekali walau agak ragu dan khawatir darahku ditolak karena beberapa malam sebelumnya aku selalu pulang malam kehujanan, yang jelas kondisi badan sedang tidak sepenuhnya fit.

Setelah mengisi beberapa kuosioner dan menjalani pemeriksaan dokter (juga penimbangan berat badan), akhirnya aku donor darah dengan perasaan bahagia ;)

pemeriksaan dokter



akhirnya donor juga *wajah ga mau lihat ke arah tangan kiri ;p

Setelah donor darah, pihak Citi Bank memberi kami makan dan susu. Katanya setelah donor darah, sebaiknya kita makan telur. Tapi karena aku kurang suka telur rebus, telurnya ga aku makan. Alhasil, beberapa saat kemudian, aku merasa pusing dan limbung.

Akhirnya, kami makaaaaaannnn lagi ;)



aku yang pusing kurang makan ;p

Semoga, pengalaman donor darahku yang pertama ini, bukan jadi pengalaman satu-satunya. Mudah-mudahan aku bisa menjaga konsistensi berat badan di kisaran 48 kg - 50 kg saja tidak lebih. Kalau lebih, berat bawanya!

#aku bersama kepik ;)

16.10.10

menghijaukan bumi di kareumbi


Kareumbi... satu tempat yang awalnya hanya aku dengar lewat cerita, akhirnya tanggal 3 Oktober aku bisa datang ke sana menanam pohon.

Ternyata tempatnya lebih jauh dari yang aku duga. 
Dari Bandung aku dan teman-teman harus naik kereta ke Cicalengka dengan harga tiket Rp. 5000 saja.


Sesampainya di stasiun kami bertemu seorang kakek penjual Lahang (minuman dalam bambu), dengan hanya Rp. 1000 kami meminum Lahang yang rasanya unik dan segaaaaarrrrr...


Ternyata dari stasiun Cicalengka perjalanan masih sangaaaaaaattttttt jauh! Beruntung ada orang-orang dari Kareumbi yang sedang turun gunung dengan mobil buntung, dan petualangan pun dimulai...
Kami sempat kehujanan, berteduh di pos ronda dan jalan kaki gara-gara mobil tidak kuat menanjak dengan membawa beban 9 orang di belakang, tapi semuanya seruuuuuuu....


Akhirnya, sampai juga di Kareumbi... yiiiiihaaaaaa ;D


Kenapa disebut wali pohon? Ternyata prosesnya seperti adopsi. Pohon yang kita tanam di area Kareumbi akan menjadi pohon milik kita. Kita berhak memberinya nama, bahkan kita bisa membuat hutan sendiri jika pohon yang ditanam berjumlah banyak. Kita akan mendapatkan sertifikat wali pohon, semacam akte anak karena kita sebagai penanam pohon menjadi orangtua asuh pohon itu walaupun sebenarnya yang merawat pohon itu adalah warga sekitar kawasan Kareumbi. Kita hanya perlu menyisihkan Rp. 50.000 untuk biaya bibit pohon dan perawatannya seumur hidup. Jika pohon mati, kita berhak meminta ganti dengan jenis pohon yang sama dan seumur.



Ternyata, selain hutan, Kareumbi juga memiliki penangkaran rusa, rumah pohon dan kano. Seru!




Rumah pohon ternyata bisa di sewa Rp. 150.000/malamnya. Setiap rumah pohon sudah ada toiletnya masing-masing. Seruuuu...
Mari datang kemari ke Kareumbi di Cicalengka, menanam pohon lestarikan hutan ;)




#terimakasih buat imul, fitri dan psoy yang sudah bantu foto-foto ;)


2.7.10

ulat, kepompong dan kupu-kupu


Beberapa bulan lalu, ada tempat wisata yang baru dibuka di dekat rumahku, namanya Taman Kupu-Kupu. Dari namanya saja sudah menarik perhatianku. Aku yang suka capung dan kunang-kunang, juga tidak akan bisa menolak pesona kupu-kupu. Makhluk ajaib yang berasal dari ulat.

Di sekolah, aku sempat mengajarkan tentang proses metamorfosis pada anak-anak hingga mereka bisa menciptakan karya buku kupu-kupu dan membuat ceritanya sendiri. Hari ini, aku melihat sendiri proses metamorfosis yang menakjubkan membuatku semakin mengagumi ciptaanNya dan mengucap Subhanallah...

Aku melihat ulat, yang diam di tangkai bunga dengan posisi seperti sudah akan berubah menjadi kepompong.


Di rumah kepompong (tempat khusus untuk menyimpan kepompong) aku melihat banyak sekali jenis kepompong. Ada kepompong ulat pohon beringin yang seperti emas, hingga kepompong kupu-kupu beracun.


Kupu-kupu yang menggantung itu adalah kupu-kupu yang baru keluar dari kepompong. Dia membutuhkan waktu kira-kira 3 hingga 4 jam untuk mengeringkan sayapnya agar siap terbang. Saat proses ini, sayapnya masih sangat rapuh. Aku melihat banyak kupu-kupu yang jatuh di rumah kepompong, katanya kupu-kupu itu disentuh sayapnya hingga 'rusak'. Proses pertumbuhan kepompong sangat tergantung pada cuaca. Semakin cerah dan panas mataharinya cukup, semakin bagus. Kalau terlalu sering hujan, proses pertumbuhannya tidak terlalu baik.

Kalau mau melihat banyak kupu-kupu terbang, aku harus datang ke tempat ini saat matahari bersinar cerah dan panas. Kalau mendung, kupu-kupu sudah mulai berlindung di bawah daun. Aku juga melihat banyak kupu-kupu yang mati karena sayapnya rusak terkoyak parah, mungkin karena sekarang ini sering hujan. Sayang sekali...

Ini beberapa kupu-kupu yang berhasil aku ambil fotonya ;) cantik-cantik...


Sukaaaaaaaa.... Kupu-kupunya cantik ;)



*thanks to Adry untuk mengejar beberapa kupu-kupu di sini ;)