5.10.14

Komunikasi Kreatif

Salah satu kemampuan yang perlu dimiliki oleh anak-anak usia dini adalah melakukan komunikasi sederhana untuk membantunya menjalin interaksi dengan lingkungannya. Namun seringkali banyak kendala yang ditemukan dalam masa golden age mereka dalam hal komunikasi. Kosakata yang masih terbatas, struktur kalimat yang masih terbalik-balik ketika berbicara sehingga sulit dimengerti oleh teman atau bahkan oleh orang dewasa yang berinteraksi dengannya. Anak-anak pun masih kesulitan memahami bahasa abstrak atau memahami makna kata yang sama dengan imbuhan berbeda. 

Di sekolah tempatku mengajar, memahami bahwa komunikasi secara verbal sangat penting pada masa anak-anak belajar berinteraksi sebelum mereka dijejali dengan kemampuan calistung (membaca, menulis, dan berhitung) yang nyatanya sangat banyak dikejar oleh banyak sekolah dan juga orang tua. Di sekolah kami memberi fasilitas anak-anak untuk bermain dan berkreasi dengan bahasa untuk berkomunikasi. Kami menyebutnya dengan 'Komunikasi Kreatif'.

Pada kegiatan ekskul Komunikasi Kreatif anak-anak yang membutuhkan stimulus dalam berkomunikasi atau bahkan membutuhkan sarana untuk menuangkan kemampuan berbahasanya yang tengah meledak-ledak, dibantu dengan kegiatan-kegiatan yang melatih kemampuan berkomunikasinya. Mereka melakukan kegiatan bermain peran, mendengarkan cerita dan mencoba membuat skenario dramanya sendiri, bermain tebak-tebakkan dengan cara mendeskripsikan benda, binatang, atau mainan kesukaan yang dibawa dari rumah. Bahkan mereka juga latihan melakukan wawancara seperti layaknya reporter berita di televisi. Tentu saja, anak-anak yang masih mengalami kesulitan berkomunikasi, tidak mudah langsung dapat menyusun kalimatnya saat berbicara. Seringkali dalam kegiatan Komunikasi Kreatif ini, mereka diajak untuk menggambarkan terlebih dulu topik yang ingin diceritakannya.

Di akhir semester, anak-anak melakukan salah satu proses komunikasi yang lebih 'berat', yaitu bercerita dan tampil di hadapan orang yang jumlahnya lebih banyak. Tidak hanya sekedar bercerita di hadapan teman-temannya dan guru. Orang tua akan diundang untuk hadir dan menyaksikan salah satu proses ini dengan diberi pemahaman bahwa kegiatan assembly atau project fair ini adalah merupakan salah satu proses dalam berkomunikasi, bukan sebagai hasil belajar anak-anak dalam berkomunikasi.

Anak-anak berpura-pura menjadi reporter berita yang memberikan laporan tentang bencana alam pada kegiatan project fair.

Membuat cerita sendiri tentang petualangan alien ke planet Bumi.

Bermain tebak kata benda dengan bantuan deskripsi. Orang tua yang menebak, anak yang membuat deskripsi tentang benda tersebut.

Sebelum anak-anak dipaksakan untuk dapat membaca huruf dan menulis sendiri, orang tua dan juga guru dapat mengajak mereka terlebih dulu bermain dengan komunikasi. Misalnya dengan :
  • Membaca gambar yang ada di buku dan menceritakannya dengan bahasa verbal mereka sendiri, sesuai dengan persepsinya. 
  • Bacakan buku cerita, jelaskan kosakata baru yang baru mereka dengar, lalu ajak anak-anak untuk menggambarkan cerita itu kembali. Minta anak-anak untuk bercerita melalui karya gambar yang telah dibuatnya sendiri.
  • Ajak anak-anak terlibat 'masuk' ke dalam cerita buku yang sudah didengarnya dan bermain peran. Anak-anak yang menjadi tokoh cerita. Anak-anak bisa juga diajak untuk membuat media (boneka tangan sederhana atau wayang kertas) sebagai tokoh cerita yang kemudian dimainkan bersama dengan teman-temannya.
  • Ciptakan lagu atau sajak sederhana dengan mengambil ide dari buku yang sudah dibacakan.
  • Orang tua atau guru dapat menceritakan buku namun tidak sampai akhir cerita. Minta anak-anak untuk mengimajinasikan diri mereka sebagai tokoh cerita dan menentukan sendiri akhir ceritanya.
Selamat mencoba bermain dengan komunikasi bersama anak-anak. Ayo melakukan komunikasi dengan kreatif, sebelum memaksa anak belajar membaca dengan benar-benar membaca secara teknis, dan hanya menulis tanpa paham maknanya.