26.12.11

Ketika Alam Mulai Bertindak

Musim penghujan kali ini tidak lagi dapat diterka seperti dulu. Waktu aku kecil, aku yakin musim penghujan hanya akan datang jika bulan di kalender sudah menunjukkan akhiran 'ber'. Tapi sekarang, rasanya setiap saat dan setiap waktu hujan selalu datang dan banjir selalu menghantui di banyak kota. Hujannya pasti tidak akan pernah jadi masalah. Seharusnya begitu. Karena alam bertindak sebagaimana mestinya. Manusia yang menumpang hidup seharusnya yang tahu diri. Alam tidak akan rusak jika tidak ada manusia yang merusaknya. Begitu menurutku.

Semakin padatnya jumlah penduduk di suatu tempat, belum diimbangi dengan kesadaran tiap individunya untuk menjaga alam dan lingkungan yang ditumpanginya. Banyak sekali faktor yang menyebabkan manusia bertindak semena-mena pada alam, dan semua faktor yang ada kemudian saling berhubungan membentuk lingkaran setan yang sulit diputus. Pada akhirnya, alam yang dikorbankan karena alam tidak bisa bicara.

Alam tidak bisa bicara, tapi alam mampu bertindak. Ketika manusia mulai menghalalkan menebang pohon sesuka hati, longsor. Ketika manusia menganggap selokan adalah tempat sampah, banjir. Itu hanya sebagian kecil.

Miris rasanya jika melihat ada manusia-manusia berseragam sekolah maupun kantor instansi tertentu yang naik kendaraan umum dan tanpa merasa bersalah secara spontan membuang sampah bekas makanannya ke jalanan. Jangankan ke jalanan, ke bawah kolong bangku angkot pun menurutku tidak pantas. Itu bukan tempatnya.

Pemahaman manusia-manusia penumpang alam mengenai fungsi selokan pun rasanya belum terlalu baik. Banyak sekali pembangunan perumahan namun kurang memperhatikan selokannya. Seringkali selokan ditutup untuk membuat penghubung antara rumah dan jalanan. Perbaikan jalan belum diimbangi dengan pembuatan selokan yang layak, sehingga dapat dipastikan jalanan akan mudah kembali rusak karena terkikis air hujan yang meluap dari selokan mini yang juga tersumbat sampah.

Hampir 2 bulan yang lalu, ada perbaikan jalan di lingkungan tempat tinggalku. Namun sama seperti yang lainnya, selokan bukan menjadi target perbaikan juga. Akhirnya, inilah yang terjadi...

Jalan bagian kiri terlihat macet karena sistem buka-tutup. Jalan bagian kanan baru selesai dicor dan belum bisa dilalui kendaraan. Selokan di bagian paling kanan sudah benar-benar tidak jelas penampakannya. Tertutup batu-batu sisa renovasi jalan dan juga sampah yang bertebaran.

Selokan mini dengan taburan sampah plastik diatasnya.

Bisa menebak ini apa? 
Ini adalah selokan yang semakin menciut di ujungnya. Sampah yang mengalir kemudian tersangkut dan menumpuk.

Lagi-lagi, masih dengan sampah yang meluap.

Foto-foto ini aku ambil sore hari sekitar pukul 5 setelah hujan reda. Hujannya cukup deras dan aku tidak menyangka, ternyata ada daerah yang lebih ekstrim. Jalanan berubah menjadi aliran sungai yang sangat deras. Aku mendapat peringatan dari teman-teman yang mengirimkan gambar situasi banjir tak jauh dari tempat tinggalku dan jalanan yang biasa aku lalui.

Banjir di jalan dekat dengan rumahku, jalan Cihanjuang. Di bagian yang lebih rendah. Aliran airnya sangat deras dan bisa dipastikan sangat berbahaya. Kendaraan tidak mungkin bisa lewat.

Banjir besar di jalan Raya Barat Cimahi, sebelum masuk ke jalan Cihanjuang menuju rumahku.

Warga perumahan di tempat tinggalku, pada akhir pekan kemudian melakukan kerja bakti memperbaiki saluran di depan komplek. Kondisinya kini lebih baik, aliran banjir tidak sederas sebelumnya namun aliran sampah masih datang dari daerah atas. Sehingga selalu menyisakan sampah tiap kali hujan mereda.

Sebagai manusia yang hanya menumpang, ayo kita jaga alam ini. Mulai dari lingkungan terdekat dengan tidak membuang sampah sembarangan. Mengurangi pembuangan sampah plastik. Menanam pohon di hutan untuk penghijauan jika memungkinkan. Melakukan kerja bakti perbaikan saluran pembuangan air / selokan. Lakukan lebih banyak lagi untuk lingkungan, mulai dari diri. Ketika alam mulai bertindak atas perilaku manusia, ketika itu pula akan terlihat kualitas manusia yang menumpang.








24.12.11

Panen Wortel

Para ksatria suka makan sayur, kerena membuat tubuh menjadi sehat dan kuat. Salah satu sayuran yang disukai oleh para ksatria adalah wortel. Mereka melakukan panen wortel sebelum memakannya.


Sebelum 'panen', banyak persiapan yang dilakukan Ksatria Super Sayur. 

  • Mereka mendengarkan cerita tentang wortel
  • Melihat bentuk wortel 
  • Membuat daun wortel dengan merobek kertas hijau
  • Menggambarkan daging wortel lalu menggabungkannya dengan daun wortel
  • Mencat plastik dengan cat berwarna coklat
Mendengar cerita wortel dan merobek kertas hijau

Menggambar daging wortel dan menggabungkannya dengan daun. Mencat plastik dengan warna coklat untuk tanah kebun wortel.

Dan, akhirnya semua ksatria berhasil panen wortelnya!




Selamat makan wortel!






15.12.11

Kerajaan Megawarna

Alkisah, ada sebuah kerajaan yang begitu makmur bernama Kerajaan Megawarna. Kerajaan itu memiliki istana yang sangat berwarna-warni. Namun pada suatu pagi, ketika Pangeran dan Puteri kerajaan sedang berkeliling istana, mereka kaget. Istananya dan juga seluruh negeri berubah menjadi abu-abu, tidak lagi berwarna. Kerajaan Megawarna berubah menjadi Kerajaan Abu-Abu.


Pangeran dan Puteri kerajaan meminta bantuan seorang penyihir baik hati bernama Kakek Belgeduel untuk mengembalikan warna-warna indah pada Kerajaan Megawarna. Kakek Belgeduel kemudian juga mengajak kerjasama para ksatria agar pekerjaannya lebih cepat dan bisa berhasil mengembalikan warna-warni Kerajaan Megawarna.


Para ksatria mulai belajar mengenai warna dan membuat rancangan istana baru yang berwarna-warni.

Istana ksatria Naila


Istana ksatria Rafirao


Istana ksatria Alina

Pangeran dan Puteri berjanji, jika Kakek Bergeduel dan para ksatria berhasil mengembalikan warna-warni Kerajaan Megawarna, maka di istana akan diadakan perayaan. Karena itu para ksatria pun berlatih untuk menari, bernyanyi serta bermain angklung untuk bersiap-siap menghadiri perayaan Kerajaan Megawarna.

Setelah Kakek Belgeduel dan para ksatria berhasil mengembalikan warna-warni Kerajaan Megawarna, maka mereka semua menghadiri perayaan.



SELAMAT Kakek Belgeduel dan para ksatria! Kalian semua berhasil mengembalikan warna-warni di Kerajaan Megawarna. Pangeran dan Puteri sangat bahagia!

# Cerita adalah alur tema Kerajaan Megawarna yang terinspirasi dari buku 'Belgeduel si Cemerlang'. Alur tema sekaligus dipakai sebagai alur cerita kegiatan assembly.

Skenario : Kika
Pembagian peran & latihan : Kika
Kostum : Nisa & Elly
Musik, penata suara, video : Kika
MC : Nisa
Belakang panggung : Elly dan guru kelas Air + Angin
Video yang diunggah : dokumentasi pribadi ayah Kochi


11.12.11

Petualangan Bertemu Alien

Ada -seekor, seorang, sebuah atau apapun sebutannya- alien yang datang ke bumi dengan mengendarai UFOnya. Namun ketika ia berjalan-jalan, alien itu terpisah dan kehilangan UFOnya. Ia sedih dan meminta bantuan detektif untuk mencarikan UFOnya.

Detektif beraksi mencari UFO yang hilang.

Detektif Kayla dan Atha mencari petunjuk jalan melalui peta.

Detektif Tiara serius mengamati peta besar. Takut nyasar.

Detektif Dhisa, Yasmin dan Naila, bekerjasama, diskusi agar misi berhasil.

Karena kerja keras para detektif akhirnya usaha mereka membuahkan hasil. UFO yang hilang berhasil ditemukan dan dikembalikan pada alien. Alien begitu senang dan ia mengundang para detektif untuk datang mengunjungi planet tempat tinggal mereka.

Detektif kemudian merancang roket untuk pergi ke planet tempat tinggal alien.

Roket rancangan detektif Rafirao dan Aiyla

Akhirnya, para detektif pergi memenuhi undangan alien untuk datang ke planet tempat tinggal alien. Ternyata di sana, detektif bertemu dengan teman-teman alien yang memiliki bermacam-macam bentuk dan warna. Mereka sangat menarik dan baik.

 Alien karya Rafirao dan Abiel

Alien karya Kochi dan Naila

Alien karya Meira dan Alina

Alien karya Syaniq dan Atha

Detektif dan alien kemudian berpetualang berkeliling dari planet satu ke planet lainnya dengan mengendarai roket. 

Karya Alina

Karya Rafirao

Karya Naila

# Karya ini dibuat pada tema "Catatan Harian Detektif Teka-Teki Luar Angkasa."
  • Karya roket dibuat secara terpimpin dengan melipat kertas. Untuk detil bagiannya, semua anak-anak boleh memilih bahannya sendiri. Bahan-bahan yang tersedia adalah payet, benang, pita, kertas krep, potongan piring kertas bekas dan sisa-sisa kertas berwarna.
  • Karya alien dibuat dengan cara menggambar. Semua anak boleh memilih bentuk kepala yang sudah ada, kemudian mereka melanjutkan membuat badan aliennya. Sebelumnya mereka sudah membaca buku, menonton film dan slide foto serta bermain kartu alien untuk membuka wawasannya mengenai bentuk alien.
  • Kertas alas (luar angkasa) dibuat dengan membuat pola/motif menggunakan crayon. Motif berasal dari kertas bertekstur dan plate lego yang diletakkan di bawah kertas kalender berukuran A3, sehingga memunculkan tekstur/motif ketika diwarnai dengan crayon. Lalu kertas A3 dicat dengan menggunakan cat encer atau bisa menggunakan pewarna makanan. 
  • Dataran planet diberi tekstur dengan menabur pasir yang dicampur dengan pasir berwarna. Lalu diberi tambahan sedikit taburan atau tempelan payet. Taburan pasir dipoles lagi dengan lem fox yang dicairkan agar tidak mudah lepas.
  • Gambar alien dan hasil lipatan roket digabungkan di kertas A3 (planet). Kemudian ditambahkan bentuk bintang-bintang yang dibuat dengan cara mencocok. Anak-anak belajar mengurutkan bintang dari ukuran terkecil hingga yang paling besar.
Foto-foto dokumen kelas Awan TK GagasCeria Bandung

Terminix, Laporan dan Makan Siang

Pergi dari kepenatan tanggung jawab pekerjaan itu, mustahil. Bulan November dan Desember adalah bulannya penat buatku. Semuanya serba cepat dan wajib dilakukan dengan tepat. Salah itu hukumnya haram. Ya, mungkin ekstrimnya seperti itu.


Berminggu-minggu aku pulang lebih larut daripada sebelumnya. Penat rasanya. Lelah sudah bisa dipastikan. Tapi untuk pergi itu tidak mungkin. Pergi dalam artian, jalan-jalan melepas lelah dan menghibur pikiran.


Hari Sabtu yang biasanya libur, aku manfaatkan untuk lagi-lagi melanjutkan pekerjaan. Ada saja 'musibah' yang terjadi kalau suasana sudah semakin hectic. Ada kesalahan format, kerusakan printer yang pastinya membuat semua orang emosi, pikiran dan hati juga ikut panas. Sabtu siang, hal itu terjadi lagi, lagi, lagi. Semuanya menguji kesabaran.


Ketika semuanya sibuk, ada berita dadakan bahwa gedung sekolah akan disemprot terminix. Aku dan semua teman-teman yang penat dengan segala ke-erroran, tetiba lari tunggang langgang keluar dari gedung. Kami akhirnya memutuskan untuk pergi makan siang dengan memboyong semua pekerjaan.


Di sinilah akhirnya kami terdampar di hari yang hujan, Auntie's Pantry. Suasananya yang siang itu masih sepi, membuat kami bebas membuka lapak melanjutkan pekerjaan. Meja penuh dengan laptop dan data-data laporan yang harus kami kerjakan. Wajah-wajah serius mewarnai kami.



Ulle dan laporannya...


Wilma dengan seriusnya...


Aku, laporan dan nasi goreng kampung

Kami makan siang sesambil berdiskusi dan melanjutkan tugas-tugas yang menggunung. Akhirnya kami pun menunggu hujan reda. Di sini aku merasa, bisa semakin dekat secara pribadi dengan teman-teman kerjaku. Kerja di tempat lain selain dalam suasana gedung tempat kerja lumayan juga ^^


Orange juice + laporanku


Nasi goreng kampung

5.11.11

Training of Trainer

Jumat, 28 Oktober 2011 ketika makan siang, aku mendapat tawaran untuk mengikuti sebuah training. Training ini bukan training biasa, tapi training bersifat nasional yang pesertanya dari seluruh Indonesia. Training ini mempersiapkan guru-guru untuk bisa menjadi trainer di provinsinya. Berbagi ilmunya untuk guru-guru lain yang mungkin tidak seberuntung aku dalam hal perolehan ilmu dan pengalaman. Tawaran ini cukup menggiurkan karena memang inilah cita-cita aku. Berbagi dengan orang-orang dan menjadi lebih bermanfaat untuk orang lain. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya aku memutuskan untuk beberapa hari meninggalkan kelas dan mengikuti training taraf nasional untuk pertama kalinya.



Selasa, 1 November 2011 training dimulai. Setelah mengawali hari dengan beberapa 'kecelakaan' aku sampai di hotel Grand Pasundan Bandung dan melakukan check in training dan hotel. Orang pertama yang menyapaku bernama bu Tami dari Kabupaten Tasikmalaya. Akhirnya kami memutuskan untuk sekamar selama training berlangsung. 


Aku yang belum memiliki pengalaman dalam hal training besar taraf nasional, tidak mengenal siapa teman sekamarku ini. Ternyata, beliau adalah orang hebat pengelola sekolah di Tasik yang seringkali menjuarai berbagai macam kejuaraan! Ibu Tami bersama suaminya, Pak Iman, mendirikan sekolah yang diberi nama Sahara demi anak-anaknya sendiri, yang pada akhirnya sekolahnya semakin berkembang dan mereka banyak memberi pelatihan gratis pada guru-guru di lingkungannya. Bahkan setiap bulan, sekolahnya terbuka untuk siapa saja guru yang ingin belajar dan bertambah maju. Selain bu Tami, aku berkenalan dengan guru muda dari kota yang sama denganku. Lilis Nuryani yang sebenarnya bernama Eulis dari Bunda Ganesha. Akhirnya, kami bertiga -dari lima orang perwakilan Jawa Barat- selalu bersama-sama selama training ini berlangsung.



ki-ka : Bu Tami, Bu Lilis, aku



Hari pertama, hingga larut malam, aku bertemu dengan orang-orang hebat yang menjadi nara sumber. Salah satunya adalah Prof. Dr. M. Noor Rochman Hadjam, SU seorang guru besar dari Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta. Pembawaannya yang santai ketika memberi materi tidak membuat mengantuk di malam hari. Sebelum materi diberikan, aku harus menjalani pre-test yang menguji kemampuan dan pengetahuanku mengenai profesi sebagai pendidik. Kuakui, untuk semua tentang teori dan dasar hukum, aku nol besar.





Prof. Dr. M. Noor Rochman Hadjam, SU
Guru besar Fak. Psikologi UGM

 Selama training 4 hari ini, aku banyak bertemu dengan teman-teman baru dari berbagi provinsi. Beberapa di antaranya semakin dekat berkat banyak diskusi dan merasa ada kesamaan visi dalam pendidikan Indonesia. Ada ibu Dyah dari Lampung yang dengan semangatnya ingin mengubah pendidikan di daerahnya dan juga membantu guru-gurunya untuk lebih maju dengan pengetahuan. Ada ibu Sri dari Bengkulu yang ternyata pernah melakukan kunjungan studi banding ke sekolahku sekitar setahun yang lalu. Ada ibu Fauziah yang sangat bersemangat dan ceria dari Jawa Timur.


ki-ka: Bu Tami (Tasik), aku, Bu Lilis (Bandung), Bu Dyah (Lampung)


aku bersama ibu Sri dari Bengkulu yang sempat melakukan studi banding ke GagasCeria


Dari banyak orang yang memiliki visi indah mengenai pendidikan Indonesia dengan berbagai idealismenya, ternyata ada juga beberapa terselip 'kecurangan' yang terlihat dalam training ini. Disebutkan syarat untuk mengikuti training adalah guru PAUD dengan minimal pengalaman mengajar 2 tahun dan pendidikan minimal S1, namun ada saja orang-orang yang ikut bergabung tanpa pengalaman sama sekali. Menurutku, sayang sekali training ini 'jatuh' di tangan yang kurang tepat, karena tujuannya adalah mempersiapkan guru-guru untuk berbagi ilmu tapi kalau yang dituntut untuk berbaginya saja tidak memiliki ilmunya, apa yang harus dibagi?


Aku berusaha menjalani training ini sebaik mungkin, dengan membawa nama instansi tempatku mengajar dan juga membawa nama provinsi. Walau dengan beberapa kesalahan dan ketidaksempurnaan yang aku buat selama training berlangsung, aku masih berharap dapat lulus sebagai trainer dan bisa berbagi dengan guru-guru lainnya. Setelah menjalani peer teaching, akhirnya di hari keempat aku melewati post-test.



Pengalaman training of trainer ini adalah pengalaman sangat berharga buatku. Satu langkah majuku menuju impian membuat pendidikan di Indonesia ini semakin baik. Semoga aku bisa lulus dan bisa diberi kesempatan untuk berbagi dengan guru-guru lain ^^

Terima kasih banyak atas sharing berharganya teman-teman baruku...


ki-ka : Pak Dani (panitia), Bu Kencana, Bu Tami, Bu Supriatin, Bu Lilis, Bu Dyah, aku.

Terima kasih atas ilmu-ilmunya...
1. Drs. Arif Antono
2. Prof. Dr. Noor Rochman Hadjam
3. Prof. Dr. Madhakomala, M.Pd
4. Dra. Nurbiana Dhieni, M.Pd
5. Dr. Ernawulan Syaodih, M.Pd
6. Dra. Masitoh, M.Pd
7. Dr. Bachtiar S. bachri, M.Pd
8. Dr. Rachma Hasibuan, M. Kes
9. Dr. Muktiono Waspodo, M.Pd
10. Drs. Sultoni, M.Pd
11. Poppy Sumaeni Nur

24.8.11

Kenapa Menunda Untuk Berhijab?

Kita sudah ketahui bersama bahwa berjilbab adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslimah. Namun seperti itulah wanita, selalu beri berbagai alasan untuk tidak menutup auratnya. Coba perhatikan beberapa alasan mereka:

Pertama: Yang penting hatinya dulu yang dihijabi.
Alasan, semacam ini sama saja dengan alasan orang yang malas shalat lantas mengatakan, “Yang penting kan hatinya.” Inilah alasan orang yang punya pemahaman bahwa yang lebih dipentingkan adalah amalan hati, tidak mengapa seseorang tidak memiliki amalan badan sama sekali. Inilah pemahaman aliran sesat “Murji’ah” dan sebelumnya adalah “Jahmiyah”. Ini pemahaman keliru, karena pemahaman yang benar sesuai dengan pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah, “Din dan Islam itu adalah perkataan dan amalan, yaitu [1] perkataan hati, [2] perkataan lisan, [3] amalan hati, [4] amalan lisan dan [5] amalan anggota badan.” (Matan Al ‘Aqidah Al Wasithiyah, Ibnu Taimiyah)
Imam Asy Syaafi’i rahimahullah menyatakan,
الإيمان قول وعمل يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية
Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat.” (Hilyatul Awliya’, Abu Nu’aim)
Jadi tidak cukup iman itu dengan hati, namun harus dibuktikan pula dengan amalan.

Kedua: Bagaimana jika berjilbab namun masih menggunjing.
Alasan seperti ini pun sering dikemukakan. Perlu diketahui, dosa menggunjing (ghibah) itu adalah dosa tersendiri. Sebagaimana seseorang yang rajin shalat malam, boleh jadi dia pun punya kebiasaan mencuri. Itu bisa jadi. Sebagaimana ada kyai pun yang suka menipu. Ini pun nyata terjadi.
Namun tidak semua yang berjilbab punya sifat semacam itu. Lantas kenapa ini jadi alasan untuk enggan berjilbab? Perlu juga diingat bahwa perilaku individu tidak bisa menilai jeleknya orang yang berjilbab secara umum. Bahkan banyak wanita yang berjilbab dan akhlaqnya sungguh mulia. Jadi jadi kewajiban orang yang hendak berjilbab untuk tidak menggunjing.

Ketiga: Belum siap mengenakan jilbab.
Kalau tidak sekarang, lalu kapan lagi? Apa tahun depan? Apa dua tahun lagi? Apa nanti jika sudah pipi keriput dan rambut beruban? Setan dan nafsu jelek biasa memberikan was-was semacam ini, supaya seseorang menunda-nunda amalan kebaikan.
Ingatlah kita belum tentu tahu jika besok shubuh kita masih diberi kehidupan. Dan tidak ada seorang pun yang tahu bahwa satu jam lagi, ia masih menghirup nafas. Oleh karena itu, tidak pantas seseorang menunda-nunda amalan. “Oh nanti saja, nanti saja”. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma memberi nasehat yang amat bagus,
إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ .
Jika engkau berada di waktu sore, janganlah menunggu-nunggu waktu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu-nunggu waktu sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu. Manfaatkan pula masa hidupmu sebelum datang kematianmu” (HR. Bukhari no. 6416). Nasehat ini amat bagus bagi kita agar tidak menunda-nunda amalan dan tidak panjang angan-angan. (Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali)
Jika tidak sekarang ini, mengapa mesti menunda berhijab besok dan besok lagi. Seorang da’i terkemuka mengatakan nasehat 3 M, “Mulai dari diri sendiri, mulai dari saat ini, mulai dari hal yang kecil”.
Wallahu waliyyut taufiq.



Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.remajaislam.com

21.8.11

Petani dan Rumah Panggungnya

Semester 2 yang lalu, anak-anakku belajar tentang hal lain di luar dunia bermainnya, yaitu petani dan rumah panggung atau saung. Lalu mereka membuat visualisasi dengan berkarya. Karya ini dibuat dalam beberapa tahap. Membuat petani, membuat rumah panggung serta menggabungkannya dalam satu bidang. Tidak lupa karyanya diceritakan sesuai dengan persepsi masing-masing anak, banyak yang melibatkan imajinasinya dalam bercerita. Imajinasi anak-anak usia 4-5 tahun.

* Membuat Petani
1. Melipat topi caping
2. Menempelkan topi caping di bagian atas kertas gambar (A4 dibagi menjadi 3 bagian) kemudian menggambarkan petani seolah-olah petani itu sedang memakai topi caping. Lalu gambar diwarnai.
3. Gambar digunting mengikuti bentuk.

Naza dan Awal

 Aretha dan Atha

 Nayaratra dan Aksyal

 Nayla dan Athan

Almer dan Raja

* Membuat Rumah Panggung (saung)
1. Membuat anyaman dari kertas daur ulang, bertekstur atau bermotif. Buat menjadi berpola 2 atau 3 jenis kertas/motif.
2. Menempelkan bentuk untuk atap.
3. Atap diberi tambahan potongan kertas bertekstur, pelepah pisang atau daun kering. Tempelkan dengan lem fox kemudian lapisi lagi dengan lem fox yang sudah dicampur air agar lebih kuat.
4. Tambahkan pintu dan jendela. Beri hiasan taburan pasir berwarna atau bahan lainnya. Gunakan lem fox dan lapisi lagi dengan lem fox yang dicairkan.



* Membuat alas untuk menggabungkan karya
1. Gunakan karton atau kertas berukuran A3 berwarna putih. Cat permukaannya dengan warna gelap agar karya yang sudah dibuat dapat terlihat lebih menonjol.
2. Setelah kering, tempelkan petani dan rumah panggung dengan menggunakan doubletape. Tambahkan kaki rumah panggung dengan menggunakan stik es krim atau potongan sumpit, tambahkan tangga (bisa menggambarnya dengan cat atau dengan menempelkan potongan kertas).
3. Tambahkan gambar untuk membuat suasana dengan menggunakan cat. Boleh menambahkan rumput, bebatuan, langit, awan atau matahari. Kemudian ceritakan karyanya.

Karya milik Nayla Azalea


Karya milik Atha

31.7.11

教育ママ -- Education Mama



Jepang adalah negara yang menjadi salah satu negara raksasa ekonomi di dunia. Di balik kesuksesannya 
ternyata Jepang memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh kebanyakan negara lain terutama Indonesia yaitu dalam hal pendidikan. Jepang memiliki keunikan yang sederhana dalam hal pendidikan, disebut dengan kyoiku mama atau pendidikan mama.


Jika di negara lain hal sederhana ini diabaikan atau setidaknya dianggap enteng, tidak dengan Jepang. Unsur kunci keajaiban ekonomi di Jepang justru berasal dari kyoiku mama. Bagi Jepang, ketika para suami bekerja, para istri bertanggung jawab dalam hal pendidikan anak-anaknya. Dalam kapasitas sebagai ibu inilah para istri membaktikan hidupnya. Demi kepastian masa depan anak-anak, para ibu sejak dini mendampingi dan membimbing anak-anak sehingga mereka mampu memasuki sekolah-sekolah bermutu.


Di balik para pekerja Jepang yang memiliki etika kerja terpuji, ada perempuan-perempuan yang berperan membentuk mereka menjadi pribadi yang baik melalui kyoiku mama. Perempuan-perempuan inilah yang menjadi pilar-pilar kokoh pribadi kerja keras orang Jepang. Perempuan Jepang berperan positif dalam membina dan mempertahankan kekokohan fondasi pendidikan serta sosial yang merupakan hal sangat vital bagi kebangkitan ekonomi bangsanya.


Sistem pendidikan dan budaya Jepang mengandalkan sepenuhnya peran perempuan dalam membesarkan anak. Jika di banyak negara beranggapan bahwa perempuan berpendidikan tinggi tapi hanya diam di rumah membesarkan anaknya adalah 'wasting her talents' tapi tidak dengan Jepang. Di Jepang orang-orang percaya, seorang ibu seharusnya memiliki pendidikan yang baik dan berpengetahuan tinggi agar bisa memenuhi tugasnya sebagai pendidik anak-anaknya. Kalaupun ada ibu yang bekerja, biasanya hanya paruh waktu agar tetap bisa berada di rumah ketika anak-anaknya pulang dari sekolah.




Para ibu di Jepang bertugas membina sikap dan perilaku anak-anak yang dilakukan secara konsisten. Sehingga ketika nak-anak memasuki dunia pendidikan secara formal, para guru tidak kerepotan pada masalah kedisiplinan karena semuanya sudah diambil perannya oleh kyoiku mama. Guru akan lebih berkonsentrasi pada pembelajaran pengetahuan, keterampilan, kesahajaan, pengorbanan, kerja sama, tradisi dan atribut nilai-nilai lain yang berlaku di Jepang. 


Pendidikan di Jepang sangat berkembang karena tidak hanya guru yang berperan untuk meningkatkannya namun para ibu yang tergerak dengan kyoiku mama. Pendidikan di rumah serta pendidikan formal di sekolah seiring sejalan dan konsisten menghasilkan pribadi-pribadi pekerja keras di masa yang akan datang.


Di Indonesia, negara luas dengan banyak manusia cerdas di dalamnya namun masih banyak yang beranggapan bahwa wanita karir adalah segalanya. Bahkan para ibu sampai tidak mengetahui perkembangan anak sendiri secara detil. Masalah perekonomian yang buruk menjadikan masalah pendidikan juga buruk, begitu pula sebaliknya. Sehingga masalah ini seakan-akan menjadi lingkaran masalah yang tidak pernah terputus.


Kyoiku mama yang ada di Jepang, hal sederhana namun berharga yang bisa kita contoh. Perempuan berpendidikan tinggi yang mengabdikan dirinya untuk anak-anaknya di rumah tidak berbeda dengan perempuan yang mengabdikan dirinya pada perusahaan atau bahkan pada negaranya sekalipun. Karena anak-anak yang sukses dengan pribadi terpuji adalah prestasi berharga yang sangat membanggakan.


#tulisan ini terinspirasi dari buku 'Membangun Budaya Berbasis Nilai' oleh Fidelis E. Waruwu