10.9.15

Sebuah Cerita Berhitung : Wata-Wata dari Negeri Tertawa

Di sebuah negeri yang ceria bernama Negeri Tertawa, hiduplah seorang penyihir tua baik hati bernama Wata-Wata. Ia ingin berlibur berwisata ke negeri lain dan berbagi keceriaan. Wata-Wata mengenakan jubah biru cemerlang miliknya. Lalu ia berangkat ke arah Barat seorang diri. Wata-Wata yang sangat bahagia, kini sudah tidak pernah menggunakan mantra sihirnya. Maka ia berjalan kaki seperti manusia kebanyakan ketika akan pergi ke suatu tempat.

Setelah beberapa waktu, Wata-Wata tiba di negeri yang tampak suram. Semua di negeri itu berwarna abu-abu, sepi, dan tidak ada suara tawa. Wata-Wata bertemu dengan sepasang raja dan ratu Negeri Abu-Abu itu di depan sebuah puri suram berwarna abu-abu. Wajah mereka sangat muram dan tampak sedih. Wata-Wata lalu menyapa kedua orang itu. Namun mereka tidak menjawabnya dan tetap muram. Raja dan ratu menggunakan mahkota, jubah, dan juga gaun yang semuanya berwarna abu-abu.

Wata-Wata kemudian berjalan lagi ke tempat lain di negeri itu, ia melintasi sebuah danau yang airnya keruh. Di permukaan danau ada angsa yang sedang berenang pelan. Wata-Wata menghitungnya, “Satu… Dua… Tiga..” Tiga ekor angsa sedang berenang dengan murung.

Wata-Wata semakin heran, ia melanjutkan perjalanannya melewati hamparan sawah. Di sana ada empat orang petani dengan empat kerbaunya sedang membajak sawah. Tapi mereka tampak lesu dan di wajahnya tidak ada senyuman apalagi tawa.

Wata-Wata melanjutkan perjalanannya. Melewati lima batang pohon kering tanpa daun. Ia menghitung pohon tiap melewatinya. “Satu… Dua… Tiga… Empat… Lima…” Ia semakin heran dengan keadaan negeri yang suram itu. Wata-Wata pun bermaksud untuk mencari tahu.

Wata-Wata tiba di sebuah padang rumput yang cukup luas. Di sana terlihat ada domba-domba yang merumput. Namun anehnya, domba-domba itu seluruhnya memiliki bulu seperti awan mendung yang siap untuk mengirimkan hujan sangat deras. Wata-Wata menghitung lagi, “Satu… Dua… Tiga… Empat… Lima… Enam…” Ada enam domba berwarna mendung di padang rumput.

“Mengapa negeri ini terasa tidak bahagia?” Wata-Wata bertanya pada dirinya sendiri. Tapi ia tetap melanjutkan perjalanannya untuk mencari tahu lebih jauh hal apa lagi yang akan ia temui. Ia melewati jembatan untuk menyusuri sungai yang cukup besar. Air di sungai itu sama keruhnya dengan air danau yang dilihat Wata-Wata sebelumnya. Wata-Wata menghentikan langkahnya. Mencondongkan tubuhnya di tepian jembatan dan melihat kea rah air sungai. Ia melihat bayangan dirinya dan perlahan mulai muncul beberapa ekor ikan yang balik mengamatinya. Ada tujuh ekor ikan berwarna hitam kelam yang menatapnya. Ketujuh ikan itu kemudian berenang pergi perlahan.

Wata-Wata semakin penasaran. Semua penduduk di negeri ini selalu tampak muram. Tidak ada senyum, tidak ada sapa. Binatang-binatang di negeri ini berjalan sangat lambat dan tidak bersemangat. Wata-Wata pun mulai kelelahan. Ia duduk beristirahat di bawah sebatang pohon apel, meminum bekalnya lalu matanya berkeliling mencari sesuatu yang mungkin bisa dimakan. Wata-Wata menemukan beberapa buah apel. Tapi apel ini tampak berbeda. Warnanya kecoklatan pucat, entah bagaimana rasanya. Wata-Wata memetik apel itu. Ia memetik seraya menghitungnya, “Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan.” Lalu, Wata-Wata mencoba memakan apel itu satu per satu, rasanya hambar. Tidak terasa manis seperti buah apel berwarna hijau yang ada di Negeri Tertawa.

Wata-Wata ingin sekali bertanya dan menyapa seseorang. Ingin mengetahui lebih jauh tentang negeri suram berwarna abu-abu ini. Namun hingga jauh perjalanannya, ia belum bertemu dengan siapa pun yang mau menjawab sapaannya. Hingga ia tiba di sebuah perkampungan kecil dengan pondok kayu berderet yang juga berwarna abu-abu. Wata-Wata kembali menghitung jumlah pondok abu-abu itu, “Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan.” Ia lalu menghampiri sebuah pondok dan mengetuk pintunya. Dengan ramah, Wata-Wata menyapa penghuni pondok itu ketika ia dibukakan pintu.

“Halo, namaku Wata-Wata aku dari Negeri Tertawa sedang berlibur di negeri ini.” Wata-Wata menyapa dengan ceria seraya tersenyum. Namun, lelaki pemilik pondok itu terdiam dan menatap heran. Wata-Wata memang tampak berbeda. Ia satu-satunya yang mengenakan pakaian dengan warna biru cemerlang, berkilauan, dan sangat cerah. Wajahnya pun memiliki raut bahagia yang berbeda dengan semua penduduk di negeri berwarna abu-abu itu. Bibirnya tertarik ke atas dan suaranya ketika berbicara memiliki irama seperti sedang bernyanyi.

Lelaki pemilik pondok itu berkata pada Wata-Wata, “Tunggu.” Lalu ia bergegas menuju pondok-pondok tetangganya dan mengetuk semua pintunya. Kini ada sembilan penduduk kampung dari sembilan pondok yang berdiri di hadapan Wata-Wata. Tetapi mereka semua terdiam. “Halo semuaaaaa… aku Wata-Wata dari Negeri Tertawa. Aku ingin tahu, mengapa di negeri kalian semuanya berwarna abu-abu?” Namun, penduduk-penduduk itu tampak keheranan dan mereka malah balik bertanya, “Wata-Wata, mengapa kamu berbeda?”

Ternyata, semua orang di negeri berwarna abu-abu itu hanya mengenal warna abu-abu, hitam, dan putih. Mereka belum pernah melihat warna lain seperti warna biru cemerlang pada pakaian Wata-Wata bahkan mereka pun tidak pernah melihat pelangi. Wata-Wata semakin penasaran, ia ingin membantu semua penduduk negeri ini agar lebih ceria dan bahagia dengan tawa. Ia bertanya, “Siapakah pemimpin negeri ini?” Lelaki bertopi caping abu-abu menjawabnya, “Negeri ini dipimpin Raja Ling-Ling dan Ratu Lung-Lung, mereka tinggal di puri tak jauh dari gerbang negeri.”

Wata-Wata pun mengajak para penduduk perkampungan itu untuk ikut dengannya ke puri tempat Raja Ling-Ling dan Ratu Lung-Lung tinggal. Mereka semua bergegas dan tidak ingin buang-buang waktu. Wata-Wata menghitung dirinya dan semua penduduk yang ikut dengannya. “Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh.”

Mereka kemudian berjalan bersama meninggalkan sembilan pondok. Melewati pohon apel yang masih memiliki delapan buah. Menyebrangi sungai dan bertemu kembali dengan tujuh ikan berwarna hitam kelam. Melewati padang rumput luas dengan enam domba yang masih merumput. Menghitung kembali lima pohon kering tanpa daun. Bertemu dengan empat orang petani dengan empat kerbaunya. Melewati tepian danau dengan tiga angsa yang masih berenang perlahan. Hingga akhirnya mereka bertemu dengan dua orang penghuni puri besar berwarna abu-abu. Raja Ling-Ling dan Ratu Lung-Lung menatap heran kedatangan sembilan orang penduduknya dengan seseorang aneh berwarna beda ke puri mereka. Raja dan ratu menghampiri Wata-Wata yang tersenyum lalu bertanya singkat, “Kamu siapa?” Wata-Wata pun menjawabnya dengan bernyanyi.

Aku... Wata Wata
Aku... suka tertawa
Aku... bahagia

Aku... Wata Wata
Aku... suka bernyanyi
Aku... suka menari

“Kamu bicara apa? Mengapa suaramu berbeda?” tanya Ratu Lung-Lung. “Aku bernyanyi. Kalian tidak pernah mendengar nyanyian?” Wata-Wata balik bertanya heran. Spontan, semua penduduk serta Raja dan Ratu menggelengkan kepalanya. Wata-Wata pun kemudian tertawa. Lalu ia mengajak Raja, Ratu, dan seluruh penduduk Negeri Abu-Abu mengikuti nyanyiannya sambil menari. Nyanyian dan tarian mereka menarik perhatian penduduk Negeri Abu-Abu lain dan binatang-binatang yang mendengarkan. Mereka datang menghampiri, mengikuti irama nyanyian dan tarian Wata-Wata. Ajaib! Mereka semua mulai tersenyum. Wata-Wata lalu memberi mereka segenggam bibit bunga untuk ditanam. Lalu Wata-Wata pun pamit untuk pulang. Ia berjanji akan kembali lagi untuk membantu Negeri Abu-Abu menjadi lebih berwarna dan bahagia.

Keesokkan harinya, Wata-Wata kembali, kali ini ia membawa banyak teman dengan jubah warna-warni dari Negeri Tertawa. Mereka datang ke Negeri Abu-Abu dengan membawa banyak kantung berisi botol cairan kental warna-warni yang disebut 'cat', kuas, dan banyak sekali kain berwarna indah. Mereka membantu Negeri Abu-abu berubah menjadi Negeri Warna-Warni. Teman-teman Wata-Wata mewarnai seluruh pondok dan juga puri dengan cat warna-warni yang dibawanya, serta menjahit gaun dengan kain berkilauan dan berwarna indah. Hal tersebut menggugah para penduduk Negeri Abu-abu untuk melakukan hal yang sama. Mereka membantu negeri mereka sendiri agar berubah, tanpa perlu sihir.

Perasaan bahagia mulai bermunculan di Negeri Abu-abu karena melihat warna-warna yang berbeda yang membuat perasaan pun menjadi berbeda. Mereka mulai menyanyi dan menari dengan lepas mengekspresikan perasaan bahagia yang mereka rasakan. Tak berapa lama, tiba-tiba ada seorang anak yang berteriak, "Hai lihaaaaattttt.... Ada bunga berbeda tumbuh. Dia tidak abu-abu, dia berwarna lain!" Dan semua orang pun menghampiri lalu tersenyum. Satu persatu bunga warna-warni mulai tumbuh dari bibit yang sudah ditanamkan. Semua penduduk Negeri Abu-abu -sekarang Negeri Warna-Warni- pun mengucapkan terima kasih banyak pada Wata-Wata dan teman-temannya yang sudah jauh-jauh datang dari Negeri Tertawa untuk membantu. Di Negeri Warna-Warni kini semua penduduknya semakin senang bekerja sama membuat negerinya indah. Mereka mencintai prosesnya yang panjang dan menikmati hasilnya yang indah.

*Cerita dikembangkan dari cerita sebelumnya.


9.9.15

Hamil dan Segala Keseruannya

Sebelumnya, aku sudah menulis tentang Merencanakan Kehamilan mulai dari memilih dokter subspesialis infertilitas, penjelasan dokter mengenai proses kehamilan, serta buku yang kubaca untuk mengetahui lebih dalam mengenai sistem reproduksi dan hal yang menghambat kehamilan.

Setelah dinyatakan hamil melalui tespack, sebaiknya pasangan suami istri segera memeriksakannya ke dokter kandungan untuk mengetahui kesehatan janin melalui cek USG. Sebelum memeriksakan kehamilan, sebaiknya istri (dibantu oleh suami) langsung memilih dan memutuskan untuk datang ke dokter siapa. Cari referensi dokter dari teman, saudara, atau berdasarkan review serta pengalaman orang-orang yang bisa didapatkan melalui internet.

Sebaiknya istri memilih dokter yang sangat pro ASI eksklusif, sabar menanti bukaan lahir yang tiap orang berbeda-beda waktunya, sehingga dokter tidak cepat langsung memutuskan untuk operasi caesar. Selain itu, istri juga harus mengetahui dokter pilihannya praktek di klinik dan rumah sakit mana saja, apakah rumah sakit dan klinik tersebut menerima asuransi yang kita miliki atau jika tidak dicover asuransi biayanya tetap terjangkau (realistis). Pasangan suami istri sebaiknya juga sudah mulai 'berbelanja' rumah sakit untuk persalinan nanti sejak awal kehamilan, sehingga ketika mendekati hari persalinan tidak lagi disibukkan dengan memikirkan tempat persalinan. Pasangan suami istri juga sebaiknya menyediakan dana khusus untuk segala bentuk pemeriksaan dokter, laboratorium, hingga persalinan. Jika memungkinkan disimpan di dalam rekening yang terpisah agar tidak tercampur dengan dana kebutuhan lainnya.

Tips-tips yang kusebutkan itu adalah berdasarkan pengalamanku yang semuanya nyaris tidak aku lakukan sejak awal kehamilan. Setelah melakukan program hamil dengan berkonsultasi pada dokter subspesialis, aku tidak mencari referensi dokter spesialis lain untuk pemeriksaan lanjut setelah aku dinyatakan positif hamil oleh tespack. Aku melanjutkan pemeriksaan dengan Dr. Tita Husnitawati, SpOG yang bertarif lebih mahal karena beliau adalah dokter subspesialis di RSIA Hermina Pasteur. Dr. Tita juga tidak praktek di klinik lain, hanya di RS. Melinda, dan RS. Hasan Sadikin Bandung. Saat melakukan pemeriksaan bulanan pun, aku dan suami mengeluarkan dana pribadi (tidak dicover asuransi) sehingga pengeluaran bulanan bertambah cukup besar, sekitar Rp. 400rb - Rp. 800rb sekali periksa dan resep vitamin. 

Pada tanggal 20 Januari 2015 pagi, tespackku menunjukkan hasil positif. Kemudian pada tanggal 24 Januari 2015 aku mengunjungi dokter untuk melakukan USG.

Hasil USG pertama, usia kandungan 5 minggu.

2 minggu kemudian cek USG lagi untuk melihat detak jantung janin.
USG usia kandungan 7 minggu.

Pada trimester pertama dan kedua, ibu hamil sebaiknya memeriksakan kandungan sebulan sekali untuk mengetahui perkembangan serta kesehatan janin. Sebaiknya, pada pengalaman pertama hamil dan di awal-awal masa kehamilan, seorang ibu hamil memeriksakan kehamilannya ke dokter kandungan untuk memastikan sehat dan tidak ada kelainan. Jika semua sudah dinyatakan sehat dan kehamilan tidak memiliki kelainan, jika ingin berpindah pemeriksaan ke bidan dan memutuskan untuk melakukan persalinan dengan bidan bisa dilakukan. Namun biasanya pemeriksaan dengan bidan tidak bisa dilakukan cek USG. Pada trimester awal, ketika kandungan masih belum berukuran besar, ibu hamil sebaiknya melakukan serangkaian tes laboratorium. Hal ini dilakukan untuk mencegah adanya berbagai gangguan kehamilan. 

Pada usia kandungan mulai 12 minggu (3 bulan), janin mulai terlihat membentuk kepala, badan, tangan dan kaki. Gerakan janin sudah dapat terlihat melalui pemeriksaan USG dan seluruh tubuhnya terlihat karena masih berukuran kecil. Namun gerakan janin di dalam rahim ibu belum terasa. Saat aku dan suami melihat untuk pertama kalinya janin bergerak, kami berdua takjub. Ada kehidupan di dalam tubuhku!

USG usia kandungan 13 minggu.

Memasuki bulan ke 4, janin sudah mulai bisa terlihat jenis kelaminnya. Tapi ini tergantung dengan posisi janin ketika dilakukan pemeriksaan USG. Pada bulan ke 4 dan 5, ibu hamil diharuskan untuk melakukan suntik tetanus.

USG usia kandungan 19 minggu. Mulai terlihat jenis kelamin janin.

Pada bulan kelima kehamilan, aku mulai menceritakan riwayat kesehatan keluarga dan penyakit-penyakit yang diturunkan dari keluarga besar. Hal ini penting untuk dokter ketahui untuk membaca resiko kehamilan serta menentukan tes laboratorium yang diperlukan oleh setiap ibu hamil. Maka pada bulan kelima ini, aku melakukan serangkaian tes darah dan urine untuk pemeriksaan kesehatan lebih lanjut. 

Sebelum melakukan tes, aku melakukan survey harga di beberapa laboratorium di Bandung. Pertama, aku menanyakan harga semua tes yang harus aku lakukan di laboratorium RSIA Hermina Pasteur, total semua tes sebesar Rp. 820rb. Lalu aku menelepon beberapa laboratorium di Bandung untuk membuat perbandingan harga. Laboratorium yang kutelepon di antaranya adalah Prodia, Pramitha, dan laboratorium RS. ST. Borromeus. Dari semua data harga yang kudapat, akhirnya aku memutuskan untuk melakukan tes di laboratorium RS. ST. Borromeus dengan total harga yang harus kubayar sebesar Rp. 586rb. Untuk detil pemeriksaan, aku tidak bisa menjelaskannya karena kurang paham.

Jika pemeriksaan kehamilan yang dilakukan setiap bulan tidak menjadi tanggungan asuransi, perlu bagi ibu hamil (dan juga suami) untuk melakukan banyak survey harga dokter, rumah sakit atau klinik tempat periksa bulanan, serta apotek tempat menebus vitamin kehamilan. Hal ini penting dilakukan untuk penghematan biaya. Saat aku melakukan pemeriksaan di RSIA Hermina Pasteur, pada bulan kelima, aku mulai mencoba menebus obat di apotek luar dan ternyata aku mendapatkan harga obat yang lebih murah dengan resep yang sama.

Pada bulan keenam, aku baru mulai mendatangi beberapa rumah sakit bersalin untuk melakukan survey tempat persalinan secara langsung. Sebenarnya sejak bulan keempat, aku sudah mencari informasi biaya melalui internet dan juga menelepon beberapa tempat bersalin. Pada bulan keenam pula, aku memastikan pada dokter tentang kesehatan janin serta kemungkinan untuk melakukan persalinan secara normal tanpa masalah kehamilan. Jika semua telah dinyatakan sehat, aku bermaksud untuk melakukan persalinan dengan bidan. Pindah dokter periksa, pilihan tempat bersalin, serta ingin bersalin dengan bantuan bidan adalah merupakan hak ibu hamil sebagai pasien. Jadi sebenarnya tidak masalah seorang ibu hamil berpindah-pindah tempat periksa selama buku catatan kesehatannya lengkap serta bisa menceritakan riwayat kehamilannya. Meskipun itu merupakan hak pasien, sebaiknya memang ibu hamil dapat ditangani oleh dokter yang sama dari awal kehamilan hingga waktunya persalinan tiba. Karena itu, pemilihan dokter yang sepaket dengan harga, serta tempat persalinan yang cocok, perlu didapatkan di awal-awal masa kehamilan. Atau bahkan sejak mulai merencanakan kehamilan supaya lebih tenang dalam menjalankan segala prosesnya. 

Pada kehamilan bulan ketujuh, atau memasuki usia 28 minggu, ibu hamil dengan kehamilan yang sehat (plasenta normal, tidak ada kontraksi awal, tidak pendarahan dsb), mulai dapat mengikuti program senam hamil. Namun aku baru mengikuti senam hamil pada usia kandungan pertengahan 8 bulan karena pada usia kandungan 7 bulan, bertepatan dengan bulan Ramadhan dan selama itu aku dapat melakukan ibadah puasa. Pada bulan ketujuh ini pemeriksaan ibu hamil mulai dilakukan setiap 2 minggu sekali. 

Pemilihan tempat senam hamil juga perlu dipertimbangkan. Carilah tempat senam yang bukan hanya sekedar senam. Tenaga medis di tempat senam harus dapat menjelaskan mengenai fungsi senam hamil, manfaatnya, serta dapat memberikan aura positif pada setiap ibu hamil menjelang persalinannya. Pada bulan ketujuh kehamilan ini, aku mulai pindah dokter untuk melakukan pemeriksaan rutin. Aku memilih Dr. Tina Dewi, SpOG yang praktek di RSB Emma Poeradiredja di jalan Sumatera Bandung. Aku memilih pindah, karena bermaksud untuk melahirkan di RSB Emma Poeradiredja. Biaya pemeriksaan dokter dan vitamin di RSB. Emma Poeradiredja sangat jauh lebih murah dibandingkan dengan RSIA Hermina, meski resep vitamin yang diberikan sama. Selama beberapa kali periksa di sana, paling mahal aku hanya mengeluarkan biaya Rp. 200rb saja. Tapi biaya itu tergantung dengan resep obat/vitamin yang diberikan oleh dokter. Tarif dokter spesialis saja di RSB. Emma Poeradiredja hanya Rp. 125rb.

Ruang senam di K3 Borromeus.


Untuk kegiatan senam, aku memilih untuk melakukan senam hamil di Klinik Kesehatan Keluarga (K3) RS. ST. Borromeus Bandung. Selain melakukan senam di sana ditanggung asuransi yang aku punya, kegiatan senam hamil di sana tidak hanya sekedar senam. Instruktur senam di sana adalah para perawat dan bidan yang sangat berpengalaman. Mereka menjelaskan fungsi setiap gerakan senam secara rinci, mengajarkan cara mengejan untuk persalinan pada ibu hamil yang usia kandungannya sudah 36 minggu ke atas. Selain itu, selesai kegiatan senam, bidan di RS. ST. Borromeus akan memberikan materi tentang kesehatan kandungan, cara memijat bayi, hypnobirthing serta manajemen laktasi sebagai pengetahuan bagi ibu hamil. Jika tidak ditanggung asuransi, biaya untuk kegiatan senam dan materi hanya Rp. 45rb, setiap ibu hamil juga akan mendapatkan seporsi bubur kacang hijau hangat dengan roti serta mendapatkan souvenir/produk yang berguna untuk bayinya nanti.

Bubur kacang hijau dan produk yang diberikan cuma-cuma selesai senam.

Latihan mengejan saat program senam hamil bagi ibu hamil usia kandungan 36 minggu ke atas.


Salah satu kegiatan senam hamil dengan menggunakan bola untuk ibu hamil usia kandungan 36 minggu ke atas.

Menjelang waktu persalinan yang semakin dekat, aku yang awalnya memutuskan untuk melakukan persalinan di RSB. Emma Poeradiredja mulai bimbang. Selama mengikuti program senam hamil di RS. ST. Borromeus, aku merasakan banyakmendapatkan ilmu sebagai calon ibu baru. Setelah melakukan diskusi dengan suami dan keluarga, aku mulai memutuskan untuk melakukan persalinan di Borromeus. Maka aku mulai pindah (lagi) tempat pemeriksaan rutin ke RS. ST. Borromeus dan survey tempat serta harga yang lebih detil untuk paket persalinan setiap kelas rawat inapnya. Semua tenaga medis di RS. ST. Borromeus memastikan bahwa mereka akan melakukan IMD (inisiasi menyusu dini) pada setiap bayi yang baru lahir, dan sangat mendukung program ASI eksklusif.


Ruang rawat inap RS. ST. Borromeus kelas 2 yang terdiri dari 2 bed, 1 kursi biasa, dan 1 kursi santai. Semua kelas rawat di Borromeus dipastikan rawat gabung dengan bayi jika tidak ada masalah kesehatan.

Aku sempat berkeliling ruangan semua kelas rawat inap di RS. ST. Borromeus namun untuk harga yang terjangkau dan kemungkinan mendapatkan tanggungan asuransi, aku memilih untuk mengambil kelas 3 atau kelas 2 saat bersalin nanti. RS. ST. Borromeus juga menyediakan kamar rawat tipe Penthouse dan Royal yang menyerupai apartemen. Kamar tersebut memiliki fasilitas kamar untuk pasien dan kamar untuk keluarga pasien, kamar mandi dengan bathtub, ruang makan, dapur dengan microwave serta kulkas, AC dan juga televisi. Harganya tentu disesuaikan dengan fasilitas yang disediakan.

Setelah melakukan pemeriksaan rutin yang berpindah-pindah, melakukan cukup banyak survey, dan belanja rumah sakit untuk persiapan bersalin. Aku memutuskan untuk melakukan persalinan di RS. ST. Borromeus Bandung dengan bantuan bidan. Ada beberapa hasil survey harga persalinan dan rawat inap di Bandung yang bisa dijadikan sebagai acuan untuk melakukan persalinan.

RSB. Emma Poeradiredja :
Fasilitas kamar serta tarif secara lengkap bisa dilihat di web RSB. Emma Poeradiredja  http://www.emmapoeradiredja.com/

Tarif bersalin RSB. Emma Poeradiredja.

RSB. Jasmine :



Fasilitas kamar rawat inap RSB. Jasmine yang homy.

Tarif persalinan di RSB. Jasmine

RSIA. Hermina Pasteur :
Fasilitas dan pelayanan bisa dilihat di web Hermina  http://herminahospitalgroup.com/home/cabang/pasteur
Perkiraan tarif persalinan di Hermina setiap tahunnya mengalami peningkatan sebesar Rp. 1 juta.


Pertimbangan lain dalam memilih tempat persalinan adalah jarak antara tempat tinggal dan rumah sakit. Pilih tempat bersalin yang mudah dijangkau dan perkirakan kondisi lalu lintas di setiap waktunya (pagi, siang, sore, malam, dan dini hari). Ibu hamil harus segera menuju rumah sakit jika mengalami keluar air ketuban, keluar darah segar, keluar darah berlendir disertai rasa mulas hilang timbul yang cukup kerap, gerakan janin kurang atau bahkan tidak bergerak, perut terasa kencang dan mulas (sakit). Kondisi-kondisi tersebut benar-benar harus segera mungkin ditangani oleh tenaga medis.

Saat mendekati waktu persalinan, ibu hamil harus mempersiapkan barang-barang keperluan ibu dan bayi. Sediakan sebuah tas untuk keperluan ibu dan sebuah tas untuk keperluan bayi. Biasanya, tenaga medis tempat kita akan melakukan persalinan, akan memberikan daftar barang yang perlu dibawa. Di RS. ST. Borromeus perlengkapan yang perlu dibawa oleh ibu yang akan bersalin adalah :
1. Baju ibu (kancing depan) dan kain kurang lebih 4 potong dengan perlengkapannya (pakaian dalam).
2. Perlengkapan mandi (handuk, sabun, sikat gigi dsb).
3. Baju bayi lengkap hanya untuk pulang (popok, bedong 2 buah).
4. Fotokopi KTP ibu dan suami.

Selain mempersiapkan pilihan tempat untuk bersalin, ibu hamil juga perlu berbelanja untuk kebutuhan bayi di awal kelahirannya dan juga kebutuhan ibu pasca melahirkan. 
Kira-kira yang perlu disiapkan untuk bayi adalah :
1. Pakaian bayi --- beli ukuran 3 bulan, sebaiknya bukan yang newborn, lalu dicuci dengan deterjen khusus bayi.
2. Kaos kaki, kaos tangan, topi/kupluk, jaket bayi --- cuci dengan deterjen bayi.
3. Selimut, handuk besar dan kecil, waslap.
4. Diapers newborn/popok kain.  Tissue basah untuk bayi.
5. Termometer digital.
6. Gunting kuku bayi, sisir bayi, sikat gusi (bisa pakai kain kasa).
7. Kapas bulat dalam wadah tertutup.
8. Kosmetik bayi (baby cream, baby oil, lotion, minyak telon, balsem bayi, sampo dan sabun cair).
9. Kasur bayi, bantal, dan guling.
10. Gendongan samping, tas bayi berukuran besar.

Kebutuhan ibu :
1. Pembalut nifas.
2. Bra menyusui dan breastpad (bisa yang washable atau sekali pakai).
3. Breastpump, cooler bag lengkap dengan ice gel dan botol kaca 100ml, warmer.
4. Apron menyusui.


Selamat menikmati kehamilan dan mempersiapkan persalinan...
Semoga segalanya diberikan kelancaran ;)

7.9.15

Merencanakan Kehamilan

Sejak awal menikah, aku tidak banyak berinisiatif untuk belajar tentang kehamilan. Aku hanya sebatas memiliki pengetahuan dari pengalaman teman-teman dan orang-orang terdekat, tidak belajar mengenai bagaimana kehamilan yang baik. Sebelum menikah pun, aku belum pernah sama sekali datang ke dokter spesialis kandungan untuk melakukan konsultasi mengenai kesehatan reproduksi. Padahal ternyata itu penting sekali sebagai bekal wanita yang sudah menikah untuk lebih mengetahui tentang tubuhnya sendiri dan sistem reproduksinya. Sekitar 4 bulan awal pernikahan, aku memang belum terlalu berharap langsung hamil, karena sewaktu pacaran LDR jadi aku dan suami berniat 'pacaran' dulu di awal pernikahan. 

Pada bulan kelima pernikahan, aku dan suami mulai merencanakan untuk mempunyai anak tapi hingga setahun pernikahan kami belum juga mendapat kabar baik. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti program hamil dari dokter spesialis kandungan. Aku mencari referensi dokter kandungan dengan sub spesialis konsultasi infertilitas dari teman-teman. Lalu diputuskan untuk menemui Prof. dr. Sofie Rifayani, Spog untuk melakukan konsultasi. Dokter dengan sub spesialis tentunya punya tarif yang lebih mahal dibandingkan dengan dokter spesialis biasa, tapi aku berpikir untuk usaha hamil tidak apa-apa bayar lebih. 

Bulan Oktober 2014, aku datang ke RSIA Hermina Pasteur di Bandung untuk bertemu dengan Prof. Sofie. Jika dilakukan pengelompokan berdasarkan tarif rumah sakit ibu dan anak di Bandung, RSIA Hermina masuk ke golongan menengah, tarifnya masih di bawah RS. Melinda di daerah Pajajaran dan RS. Limijati di jalan Riau (RE. Martadinata). Aku memilih RSIA Hermina karena jarak yang relatif lebih dekat dari rumah dan berdasarkan pengalaman adikku yang lebih dulu melakukan pemeriksaan kehamilan di sana.

Saat konsultasi, dokter pasti akan bertanya tentang usia pernikahan dan siklus menstruasi. Menurut dokter, siklus yang normal adalah berkisar 21-32 hari dan lamanya 4-7 hari. Rata-rata pasangan yang sudah menikah, sehat, dan normal, akan hamil dalam usia pernikahan tidak lebih dari setahun. Jika pasangan tersebut tidak menunda dan tidak memiliki kelainan dalam sistem reproduksinya. Saat akan melakukan konsultasi dan pemeriksaan untuk program hamil, sebaiknya istri datang saat menstruasi hari kedua. Dokter akan melakukan pemeriksaan transvaginal, yaitu pemeriksaan USG dengan menggunakan alat yang dimasukkan melalui vagina. Fungsinya untuk melihat sel telur, mengukur besarnya rahim, dan memperkirakan ketebalan dinding rahim. Saat itu Prof. Sofie sempat bertanya padaku, apakah aku punya keturunan sakit diabetes, dan ternyata hal itu mempunyai pengaruh terhadap siklus menstruasi yang tidak teratur sehingga agak sulit untuk menentukan masa subur. 

Alat USG transvaginal yang dimasukkan ke permukaan vagina.


Dokter sub spesialis infertilitas ternyata juga punya konsentrasi masalah yang berbeda-beda. Setelah konsultasi dengan Prof. Sofie, aku dirujuk menemui Dr. Tita Husnitawati, Spog untuk konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut. Bulan berikutnya di hari menstruasi kedua, aku menemui dr. Tita. Tarif konsultasi dan pemeriksaan antara prof. Sofie dan dr. Tita di rumah sakit yang sama memiliki perbedaan. Hal ini dipengaruhi gelar juga.

Pertanyaan yang diajukan oleh dr. Tita awalnya serupa dengan pertanyaan dari prof. Sofie. Berkisar tentang siklus menstruasi, lama menikah, dan masalah keputihan. Ternyata, keputihan yang berlebihan juga bisa menjadi salah satu penyebab kemandulan. Dr. Tita kemudian melakukan pemeriksaan transvaginal. Hasilnya ukuran dan ketebalan rahim baik, kondisi rahim pun bersih tidak ada benjolan atau kista. Kemudian, dr. Tita memberikan pengetahuan mengenai kehamilan serta penyebab-penyebab sulit hamil atau bahkan kemandulan. 

Penjelasan dr. Tita :
1. Saat menstruasi, sel telur akan terlihat berukuran kecil, setelah selesai sel telur akan membesar yang disebut dengan masa subur, sehingga sel sperma lebih mudah menembus sel telur yang besar.
2. Keputihan yang berlebihan, berbau, bahkan berubah warna menjadi kehijauan cukup berbahaya karena bisa menyebabkan perlengketan pada rahim dan menjalar hingga ke saluran tuba valopi.
3. Dokter menunjukkan gambar bentuk sel sperma yang sehat. Kepala sperma lonjong agak menajam di ujung dengan ukuran cukup dan memiliki ekor yang panjang untuk membantu berenang.


4. Suami dan istri yang ingin segera memiliki anak, sebaiknya berhubungan pada masa subur istri 2 hari sekali karena hal ini juga berkaitan dengan kematangan sel sperma. Namun tidak dibatasi untuk berhubungan di waktu yang bukan masa subur istri.

Setelah mendapatkan beberapa penjelasan dari dr. Tita, aku dan suami disarankan untuk melakukan serangkaian tes di laboratorium. Aku harus melakukan HSG dan suami diminta untuk cek sperma. Menurut dr. Tita, sebelum mendukung program hamil dengan asupan makanan, kita harus memastikan dulu tidak ada kelainan pada organ reproduksinya. Salah satu caranya dengan HSG, yaitu memasukkan cairan kontras yang ditembakkan melalui vagina lalu dilakukan USG untuk melihat pergerakan cairan tersebut di dalam rahim apakah cairan itu tersumbat atau mengalir lancar ke semua penjuru rahim. HSG juga dapat membersihkan rahim, jika ada perlengketan yang belum terlalu parah bisa terbuka dengan cairan HSG yang mengalir. 

HSG dilakukan di laboratorium, biayanya pun cukup mahal. Sekitar 700-800 ribu rupiah untuk sekali tindakan HSG. Untuk analisis sperma, biayanya 150 ribu rupiah. Tidak ada salahnya sebelum melakukan pemeriksaan, bandingkan harga setiap laboratorium dengan melakukan survey lewat telepon. Aku sudah melakukan survey harga dan menentukan jadwal dengan radiolog di laboratorium Pramitha cabang Moh. Toha Bandung. Namun saat itu, aku tidak bernyali dan membatalkan jadwal HSG. HSG harus dilakukan sekitar 12 hari setelah menstruasi hari pertama, biasanya dokter yang menentukan kapan harus dilakukan HSG dan kita yang membuat janji dengan radiolognya.

Pasca membatalkan jadwal untuk HSG dan mengumpulkan nyali hingga bulan selanjutnya, suamiku membuat strategi untuk menghemat biaya. Suamiku akan melakukan analisis sperma terlebih dulu, dan jika hasilnya kualitas spermanya tidak baik maka aku tidak perlu HSG. Tapi itu pun akhirnya batal dilakukan. Kami tanpa sengaja menemukan sebuah situs yang menjual buku tentang kehamilan dan langsung membelinya. 

Paket buku 'Cara Cepat Hamil' karya dr. Rosdiana Ramli, SpOG

Buku ini berisi pengetahuan mengenai organ reproduksi pria dan wanita, fungsi, serta cara perawatannya. Buku ini bagus dibaca agar kita tidak buta dengan tubuh sendiri. Tidak ada hal yang terlalu beda dengan buku pengetahuan lainnya, namun buku ini memberikan pandangan lebih positif terhadap proses kehamilan. Semua orang memiliki jangka waktu berhasil hamil yang berbeda-beda dan campur tangan Tuhan sangat besar di dalamnya. Selain buku, penulis juga memberikan bonus vitamin asam folat yang bisa dikonsumsi oleh suami dan istri setiap malam sebelum tidur, serta 2 pak alat tes kehamilan. Aku dan suami akhirnya rutin meminum asam folat ini setiap malam.

Kira-kira sebulan setelah aku dan suami rutin meminum asam folat. Akhirnya aku merasakan perubahan aneh. Badan rasanya seperti sering masuk angin, pusing, dan ingin makan banyak. Tapi karena aku seringkali memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur, aku menunggu hingga telat datang bulan 2-3 minggu, baru melakukan tespack. Akhirnya pada 20 Januari 2015, aku melakukan tespack dan hasilnya positif.

Alhamdulillah...




Cerita tentang pemilihan dokter kandungan, pemeriksaan kandungan, memilih rumah sakit untuk bersalin, hingga belanja-belanja keperluan melahirkan, dilanjutkan di posting selanjutnya ya.... ;)

7.7.15

Mathmagic : Membuat Alat Bantu Hitung

Salah satu kompetensi kognitif yang perlu dimiliki oleh anak usia 5-6 tahun adalah kemampuannya dalam menggunakan angka dan berhitung sederhana. Namun hal ini memerlukan bantuan benda atau objek konkrit yang melambangkan jumlah dari angka serta membantunya dalam berhitung. Karena tahapan belajar anak-anak usia 5-6 tahun masih konkrit operasional (masih sangat membutuhkan benda konkrit serta pengalaman langsung ketika mempelajari suatu hal).

Saat belajar matematika dulu, aku menggunakan alat bantu hitung berupa lidi atau batang korek api untuk memecahkan persoalan matematika sederhana seperti penjumlahan atau pengurangan. Aku merasakan kurangnya makna dan tidak menarik. Setelah mencari ide di berbagai media termasuk Pinterest, aku mencoba menciptakan alat bantu hitung yang dapat multifungsi.

Ide yang kudapat dari Pinterest

Lidi-lidi dan batang korek api yang dulu dipakai sebagai alat bantu hitung, sekarang ingin kuganti dengan sesuatu yang tetap sederhana namun menarik. Alat bantu hitung ini dibuat dari bahan stik es krim, bisa bekas atau beli stik yang baru. Selain digunakan sebagai alat bantu hitung, stik ini bisa juga digunakan sebagai fungsi yang lain. Misalnya sebagai media untuk bermain dramatisasi mikro, atau sebagai kojo saat bermain ular tangga.

Boneka sendok es krim buatan anak-anak TKB.

Setiap anak mendapatkan sebuah stik/sendok es krim yang kemudian digambar dan diwarnai dengan menggunakan spidol berukuran kecil. Namun karena anak-anak senang dengan kegiatan baru ini, mereka meminta stik es krim lebih untuk dibuat menjadi boneka orang, bahkan boneka kucing.

Main ular tangga dengan menggunakan kojo boneka stik es krim.

Selamat bermain...

5.7.15

Ibu Kika dan Ibu Ditha

Liburan akhir tahun ajaran adalah saatnya untuk merapikan folder-folder data dan foto di laptop. Aku menemukan beberapa foto anak-anak kelas Bumi tahun lalu (tahun ajaran 2013-2014) yang masih tersisa di laptop. Foto-foto ini adalah foto karya gambar yang dibuat oleh anak-anak sebagai kenang-kenangan. Mereka menggambarkan aku dan Ditha sebagai guru, serta menggambarkan beberapa teman baiknya. Hasil gambar mereka unik-unik dan dapat membuatku tersenyum saat mengamatinya.

Inilah beberapa hasil karya yang dibuat oleh anak-anak kelas Bumi tahun lalu. Mereka menggambarkan ciri aku yang berkacamata dan juga menuliskan alasan suka bermain dengan teman yang digambarkannya.










Ada satu hal yang menarik perhatianku dari hasil gambar anak-anak ini. 

Seorang anak perempuan yang menulis untuk Titan ;)

Sebelumnya, aku juga pernah menerima gambar-gambar yang menggambarkan aku sebagai guru di kelas. Pernah kutuliskan ceritanya dengan judul 'Visualisasi Ibu Kika' silakan berkunjung...

4.7.15

Istana Kerajaan Cimencerang

Tidak ada kerajaan bernama Cimencerang, itu hanyalah nama imajinasi pada tema ekspresi yang dibuat sebagai kegiatan bermain dan berkarya di TKB GagasCeria. Pada tema ini, anak-anak belajar mengenai ekspresi percampuran warna. Warna-warna yang dicampurkan tersebut kemudian dituangkan dalam karya berbentuk istana.

Menjelang kegiatan assembly, kelas Bintang membuat rencana untuk menciptakan latar photobooth. Dari beberapa karya perencanaan yang dibuat, karya milik Kiran, Alika, Allena, dan Naomy terpilih sebagai karya yang akan dibuat menjadi ukuran yang lebih besar. Inilah perencanaan karya yang mereka buat :

Karya milik Kiran, Alika, Allena, dan Naomy

Karya ini kemudian dibuat menjadi ukuran besar dengan bantuan teman-teman lainnya. Mereka bekerja sama dan bergantian membuat bagian-bagian serta detil istananya.

Rafi membuat gambar benteng dalam ukuran besar.

Setelah bentuk istana ukuran besar selesai dibuat, anak-anak pun mulai bergiliran memberi warna dengan menggunakan cat. Warna cat yang digunakan merupakan campuran-campuran warna.

Istana yang sudah diberi warna. Dijemur dulu supaya kering.

Istana besar ini kemudian akan ditempelkan pada latar. Latar dibuat dari plastik bening berukuran besar yang juga diberi warna dengan menggunakan cat. Karena berukuran besar, anak-anak mewarnainya bersama-sama.

Melakukan percampuran warna cat di permukaan plastik besar.

Setelah cat kering, istana kemudian disusun dan ditempelkan di latar plastik.

Karya istana yang hampir tuntas.

Pada perencanaan karya yang sudah dibuat sebelumnya, ada beberapa orang putri yang digambarkan. Namun anak-anak sepakat untuk membuat seorang putri dan seorang prajurit. Putri dan prajurit dibuat dengan mencetak tubuh.



Putri dan prajurit.

Setelah semua tuntas, karya kemudian dipasang di area panggung assembly sebagai tempat berfoto anak-anak dan para orangtua. Kami guru-guru juga tidak mau kalah untuk berfoto.


Setelah kegiatan assembly usai, karya istana, putri, dan prajurit kemudian dipindahkan ke area sekolah. Karya istana berukuran besar dipasang di ruang Art, putri dan prajurit dipasang di area tangga menuju kelas Bintang.

Istana Cimencerang, Kiran, Alika, Naomy, dan Allena

Kiran dan lukisan putri yang dibuat dengan mencetak tubuhnya.


Karya ini juga bisa dibuat di rumah untuk menghias kamar anak-anak. Cara membuat lukisan orang dengan mencetak tubuh dapat dibaca di tulisanku kira-kira 3 tahun lalu. Bisa dibaca dengan klik saja di sini. Selamat mencoba di rumah...

2.7.15

Ikan Warna-warni

Beberapa waktu lalu di sekolahku, anak-anak TKB mempelajari tentang hewan-hewan ternak dan habitat aslinya. Salah satu hewan yang dipelajari adalah ikan yang ada di perikanan. Anak-anak belajar bahwa ada beberapa jenis ikan yang hidup di air laut dan air tawar. Lalu mereka membuat karya gambar ikan dengan detil setelah melakukan pengamatan pada ikan yang ada di aquarium sekolah. 

Saat beberapa anak melakukan pengamatan, aku mengajak anak-anak lainnya melipat kertas berwarna-warni menjadi bentuk ikan. Hasil lipatan itu kemudian ditambahkan detil sisik ikan dengan menggunakan spidol dan pensil warna. Mereka bebas berekspresi membuat ikannya menjadi lebih berwarna-warni.

Aku memotong plastik yang biasa digunakan sebagai sampul buku kira-kira hingga berukuran 2 meter. Plastik itu kemudian dicat dengan menggunakan cat berwarna biru tua yang dicampurkan dengan biru muda serta ditambahkan gliter berwarna biru pula. Rencananya, plastik yang dicat dengan warna biru ini akan dijadikan sebagai 'air' untuk tempat hidup ikan.

Anak-anak mencampurkan cat di atas plastik sampul buku dengan menggunakan tangan.

Setelah cat di plastik kering, aku memotong-motongnya sejumlah anak. Selanjutnya, ikan-ikan yang sudah digambar dan dibuat dari hasil lipatan kertas akan digabungkan dengan plastik yang sudah diwarnai cat biru. Lalu, anak-anak boleh menambahkan detil lainnya yang menggambarkan suasana laut pada karyanya. Beberapa anak ada yang menambahkan imajinasinya.

Dan, beginilah beberapa hasilnya...

Karya laut milik Alika dengan ikan, penyelam, dan putri duyung.

Karya laut milik Abiel dengan putri duyung dan banyak batu karang.

Karya laut milik Allena.

Karya ini bisa juga dibuat sebagai hiasan di jendela. Potongan plastik yang sudah dicat biru ditempelkan di kaca jendela dan gambar-gambar ikan ditempelkan di plastiknya. Agar terlihat lebih hidup, buat juga gambar ikan di dua sisi kertas yang kemudian digantungkan di kusen jendela dengan menggunakan benang tipis. Saat angin meniup ikan yang digantung, ikan itu seakan-akan terlihat berenang di laut.



Plastik cat biru yang ditempelkan di jendela dan ikan-ikan yang berenang, tampak seperti aquarium.

Karya ini mudah dibuat di rumah dengan alat bahan yang juga mudah untuk didapatkan. Jika ingin mencoba silakan siapkan bahan-bahan :
  • Plastik sampul buku gulungan, potong secukupnya.
  • Cat asturo warna biru untuk mewarnai plastik
  • Gliter warna biru, hijau, atau perak
  • Kertas putih untuk menggambar ikan bolak-balik (kedua sisi kertas digambar)
  • Spidol hitam untuk menggambar, pensil warna atau crayon
  • Kertas lipat/origami berwarna
  • Benang wol/ benang kasur tipis
  • Lem dan solasi
Selamat mencoba berkarya!