26.5.12

Kota Tua : Bukan Sejarah Renta

Sudah sejak lama aku ingin mengunjungi deretan museum di Kota Tua Jakarta. Jarak Jakarta - Bandung yang tidak terlalu jauh, tidak juga memudahkan proses kunjungan ke sana. Aku yang memiliki bakat nyasar, tidak pernah berani mencoba pergi jalan-jalan ke Jakarta sendiri.


Kesempatan datang ketika sekolah tempatku mengajar mengadakan acara 'break time' dan aku adalah salah satu yang mengusulkan untuk jalan-jalan ke Kota Tua. Dan, inilah kami! Dengan waktu yang sebenarnya sangat terbatas, aku dan teman-teman hanya sempat mengunjungi 2 museum saja. Aku berjanji dalam hati, ini bukanlah kunjungan pertama dan terakhir ke sana.


Sepanjang jalan di area Kota Tua, gedung-gedung tua dengan detil arsitekturnya menarik perhatianku yang awam terhadap masalah arsitektur. Bentuk jendela adalah yang paling menarik perhatianku. 



Jendela dan menara gedung kantor gubernur pada masa penjajahan yang berubah fungsi.

Deretan jendela Cafe Batavia

Hormat bendera merah putih dulu




Jendela - jendela di gedung menuju museum Bank Indonesia

Jendela gedung tepat di seberang museum Bank Indonesia

Pintu emas yang menarik sebagai latar berfoto.

Dalam pikiranku pertama kali, museum Bank Indonesia dan museum Bank Mandiri isinya hanyal tentang uang. Tapi ternyata aku salah dan patut malu. Museum itu kaya cerita dengan suasana yang sangat modern. Sejarah mengenai Indonesia terangkum di sana dengan patung-patung yang bercerita. Sayangnya, waktuku di sana tidak terlalu lama sehingga tidak banyak ilmu yang aku dapatkan.



 Beberapa patung yang bercerita mengenai sejarah Indonesia

Seragam para pejuang Belanda, Jepang dan Indonesia

Di dalam gedung museum, banyak bagian yang sangat menarik secara arsitektur. Nuansa Eropa terasa, meski aku belum pernah pergi ke Eropa!



Lorong di dekat toilet.

3 jam adalah waktu yang standar untuk menjelajah satu museum  di Indonesia dengan detil. Jika memang ingin mendapatkan banyak informasi dan ilmu, berkunjung ke museum memang harus meluangkan waktu yang sangat banyak.

Museum kedua yang aku kunjungi selanjutnya adalah museum Wayang. Gedung tua yang dialihfungsikan sebagai museum ini awalnya adalah sebuah gereja tua. Tahun 1640 gereja ini bernama Oude Holandsche Kerk dan pada tahun 1732 gedung ini diperbaiki sekaligus berganti nama menjadi de Nieuw Holandsche Kerk. Gedung ini pernah hancur total karena gempa bumi dan mulai 22 Desember 1939 dialihfungsikan menjadi museum bernama Oude Bataviasche Museum. Sejak 23 Juni 1968 mulailah berfungsi menjadi museum Wayang. Gedungnya bernuansa hijau dan masih sangat kuno, berbeda dengan museum Bank Indonesia yang modern. Masuk ke dalamnya suasana memang agak seram dan terkesan misterius. Deretang wayang kulit, wayang golek dengan berbagai ukuran serta boneka-boneka tangan membuat suasana semakin terasa seram. Itu yang aku rasakan.

Lorong museum Wayang yang gelap, terasa lembab dan..... Sudahlah!

Hanya bagian kecil wayang yang ada. Ini berukuran besar, sebesar aku.



Jendela kuno museum Wayang.

Bangsa yang bijak adalah bangsa yang mengenal sejarahnya. Ada yang pernah mengatakan bahwa 'history repeats itself' sejarah memang akan berulang dengan cara yang mungkin berbeda namun memiliki esensi yang sama. Manusia yang bijak adalah manusia yang belajar pada kesalahannya terdahulu dan tidak mengulanginya kembali. Dengan mempelajari sejarah, sebagai bangsa kita akan lebih menghargai apa yang kita miliki saat ini. Menghargai perjuangan merebut kemerdekaan pada masa yang lalu.Sejarah memiliki peranan penting dalam pembentukan identitas dan kepribadian bangsa. Aku melihat ke belakang, untuk dapat menghargai saat ini dan menyambut masa depan.



Selamat mempelajari dan menikmati sejarah. Sejarah bukan sesuatu yang renta dan kemudian mati. Tapi sejarah adalah titik awal adanya masa depan.