29.12.14

WALS Conference 2014 dan Jalan Menuju ke Sana

Berawal dari bulan Februari 2014, kelasku melakukan kegiatan open lesson (kisahnya bisa dibaca di sini). Tak lama berselang, aku menerima sebuah pesan singkat yang mengajakku untuk melakukan sebuah penelitian berdasarkan perilaku anak-anak hari itu. Dan dengan spontannya aku mengiyakan. Penelitian berlanjut hingga bulan Mei 2014, dan aku baru sadar kalau hasil penelitian itu harus dibuat menjadi sebentuk tulisan paper untuk dipresentasikan di ajang internasional.

Bulan Juni 2014, aku diminta (atau ditawarkan) untuk membuka kelasku kembali di bulan November saat school visit dan aku pun lagi-lagi mengiyakan tanpa banyak berpikir panjang. Bulan Agustus, aku baru mendapat kabar dari UPI bahwa guru model untuk kegiatan school visit harus melalui 8 kali proses perencanaan, open class, dan post-lesson discussion. Dan dimulailah perjuangan itu. Aku menyebutnya perjuangan, karena cukup banyak energi yang dikerahkan dariku dan banyak teman. Penelitian yang diwujudkan dalam bentuk paper, persiapan sekolah menyambut tamu yang datang untuk school visit, semuanya bersamaan dengan moment proses pembuatan rapot semester 1.

Setiap Rabu, kelasku mulai didatangi beberapa teman yang tergabung dalam tim lesson study, dosen UPI, dan beberapa mahasiswa UPI yang merekam segala proses yang dijalani. Kelasku banyak belajar pada saat itu. Lelah sudah pasti, bosan setiap minggunya melakukan hal yang serupa, ternyata banyak memberi hikmah. Klise memang. Tapi begitu kenyataannya. Kelasku banyak dibantu dengan banyak mata untuk melihat stimulus yang tepat bagi anak-anak dan memperbaiki pembelajaran di kelas.


Sesi latihan open class setiap Rabu

Latihan open class ini berlangsung sejak Agustus hingga Oktober 2014, selanjutnya aku dan teman-teman yang membuat paper dan harus mempresentasikan hasil penelitiannya mulai berkutat dengan papernya masing-masing. Tanggal 1 November semua paper harus selesai dalam bahasa Inggris. Berita di sebuah harian daerah Jawa Barat memuat tentang rencana guru-guru yang akan melakukan presentasi di konferensi WALS. Hal ini cukup menambah ketegangan mendekati hari-hari tersebut.

Berita di harian Pikiran Rakyat.

Pada tanggal 25-27 November 2014, aku dan beberapa teman guru menghadiri WALS (World Association of Lesson Studies) sebuah konferensi tingkat internasional Lesson Studies yang diadakan di UPI (Universitas Pendidikan Indonesia). Semua orang yang bergabung di dalamnya adalah orang-orang yang bergerak di bidang pendidikan dan melakukan lesson study sebagai media dalam meningkatkan kualitas pendidikan di seluruh dunia.

Hari pertama, aku mengikuti sesi dengan beberapa keynote speaker. Mereka menceritakan tentang perkembangan lesson study di negaranya. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Ridwan Kamil, walikota Bandung. Seharian di hari pertama, aku melihat pendidikan dunia melalui penjelasan para keynote speakers. Mereka adalah Jan Vermunt dari Inggris, Manabu Sato dari Jepang, Didi Suryadi dari Indonesia, dan Catherine Lewis dari Amerika.

Upacara pembukaan dan pidato sambutan dari walikota.

Aku dan teman-teman mendapat kesempatan foto dengan Manabu Sato sensei.

Hari kedua, plenary session dimulai, direktur sekolah dan kepala sekolah GagasCeria ikut berpartisipasi untuk mengisi sesi tersebut. Dan cukup banyak guru yang berminat hadir mengikuti sesi itu meski mereka bukan guru pendidikan anak usia dini atau guru sekolah dasar. Mereka tertarik dengan sesi plenary dari GagasCeria karena buku yang sudah kami terbitkan. Buku yang dibagi gratis untuk 200 pendaftar ulang yang pertama dan buku yang juga kami jual di Elmuloka. Buku tentang pengalaman guru-guru melakukan kegiatan lesson study.

Tulisanku ada di halaman 260 ;)

Plenary session.

Siang di hari kedua adalah jadwalku dan partner penelitian untuk melakukan presentasi. Jujur, aku sangat gugup. Aku sudah terbiasa melakukan presentasi, tapi kali ini adalah kali pertamaku melakukan presentasi dalam bahasa Inggris. Bahasa Inggris yang pas-pasan. Mempresentasikan sebuah penelitian ilmiah tentang perkembangan anak usia dini, dalam bahasa Inggris, di hadapan para pakar dari luar negeri. Lengkaplah sudah. Tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi kemudian jika tidak pernah mencobanya? Segala sesuatu butuh kali pertama. Dan Tuhan sudah menunjukkan inilah kesempatanku. 

Sesuatu yang awalnya dianggap mengerikan, ternyata berbuah baik. Peserta yang menghadiri presentasiku dan teman-temanku adalah Jean Lang dari Inggris yang dijadwalkan akan datang ke GagasCeria saat school visit, Pete Dudley yang mengembangkan lesson study di Inggis selama 13 tahun, Catherine Lewis salah satu keynote speaker, dan Christine Lee - President of WALS. Christine Lee yang awalnya belum memutuskan tujuan school visitnya, langsung memilih GagasCeria setelah beberapa kali menghadiri sesi guru-guru Gagasceria saat presentasi. Dan ini suatu kehormatan kami sebagai guru. Malam harinya, aku ikut menghadiri jamuan makan malam dengan walikota Bandung di pendopo. Malam itu sangat membahagiakan.

Atas : sesi aku dan partnerku melakukan presentasi
Bawah : sesi sesama guru GagasCeria melakukan presentasi, aku hadir memberikan dukungan

Yeaaayyyy.... bisa foto bareng dengan pak Ridwan Kamil!


Di hari ketiga, aku dan semua teman-teman menyebar memasuki kelas-kelas sesi presentasi. Aku pun melakukan perkenalan dengan beberapa guru yang melakukan presentasi menarik dan mungkin bisa diaplikasikan di kelasku. Aku dan mereka saling bertukar kartu nama untuk diskusi lebih lanjut.

Hari keempat adalah hari school visit. Kelas dan seluruh ruangan sekolah sudah siap menyambut para tamu. Tim display yang banyak bekerja mempercantik sekolah, memajang banyak karya anak-anak di setiap sudutnya serta merapikan ruangan yang akan digunakan untuk kegiatan selama school visit berlangsung.

Beberapa display di ruangan sekolah dan kelas

Kelas yang ramai dengan karya buatan anak-anak kelas Bintang.

Karya wajah 'selamat datang' buatan anak-anak kelas Bintang.

Para tamu school visit akan mengikuti kegiatan bersama anak-anak kelas Bintang dengan kegiatan yang sudah direncanakan jauh sebelumnya oleh tim lesson study. Rencana kegiatan ini berubah berulang kali dan pada akhirnya diputuskan untuk mengikuti kesenangan anak saat bermain di sekolah.

Perencanaan bermain yang akhirnya dibuat.

Main bakiak, sonlah, dan galasin sebagai kegiatan kelas yang dilakukan.

Kegiatan refleksi bersama anak-anak di kelas setelah menggambarkan pengalaman dan bercerita.

Post-lesson discussion setelah kegiatan bermain di kelas. Semua observer harus memberikan pendapatnya mengenai kegiatan hari ini dan memberikan masukan untuk perbaikan.

Setelah semua rangkaian kegiatan school visit usai, para tamu kembali berkeliling sekolah.Kata-kata positif dan apresiasi yang diberikan cukup memberikan semangat baru sebagai guru. Kami bisa mengembangkan pendidikan Indonesia, memberi stimulus pada anak-anak dengan bahagia, dan juga bisa mendunia. Hal yang hingga kini terngiang di telingaku adalah ketika Airi Rovio-Jahansson mengatakan, "You are a great teacher." Kalimat pendek pemberi semangat. Dan kami pun menyempatkan untuk berfoto bersama.

Aku, teman-teman GagasCeria, dan para tamu school visit di depan sekolah.

Jean Lang, aku, dan Airi Rovio-Johansson ;)

Setelah semua usai, tim guru-guru GagasCeria berteriak menumpahkan kelegaan karena semua sudah berjalan dengan lancar. Stress, lelah, hingga air mata semua terbayar lunas dan membahagiakan. Kami pun berpelukan di depan sekolah. Mengundang acungan jempol dari pak Tatang Suratno yang selama ini mendampingi dan banyak membantu kami saat proses latihan open class. Terima kasih semuanya.

Kami pun makan-makan pizza sore hari dan siap untuk menyambut lagi rutinitas. Menyelesaikan rapot semester 1 ;)

Siap dengan presentasi selanjutnya di WALS Conference Thailand 2015 dan England 2016? Tunjukkan bahwa Indonesia bisa ;)

Keliling Taman Kota Bandung

Liburan, tanpa diimbangi dengan jadwal cuti suami memang mustahil untuk pergi jauh-jauh. Beda dengan liburan tahun lalu, liburan akhir tahun (tengah semester) kali ini hanya dihabiskan di dalam kota Bandung dan juga di dalam rumah -tentu saja- untuk belajar menu masakan baru. Dan tentunya menjalani pekerjaan rumah tangga yang seringkali mustahil dilakukan di hari-hari kerja.

Sepupu-sepupu dari Jogja, kali ini datang berkunjung sebentar. Hanya 3 hari dan meminta rekomendasi tempat jalan-jalan di Bandung dalam waktu singkat, hemat, dan oke untuk berfoto. Pilihannya jatuh pada wisata taman kota di Bandung. Ya, taman-taman kota di Bandung sedang mengalami perombakan yang sangat besar-besaran. Bertujuan menyediakan lahan hijau terbuka untuk warga Bandung berkumpul dengan teman dan keluarganya di saat senggang. Diharapkan nantinya warga Bandung tidak lagi menjadikan mall sebagai satu-satunya pilihan menghabiskan masa santainya di dalam kota.

Sepupuku sempat bertanya, "Taman Jomblo itu ada apanya?" dan kami pun mengunjungi Taman Pasupati a.k.a Taman Jomblo yang ternyata hari itu sangat teramat penuh ABG lengkap dengan gayanya. Sepupuku pun berkomentar, "Mbak paling tua di sini." Aku setuju. Aku tampak sangat dewasa di lautan ABG hari itu. Memang, Taman Jomblo tidak terlalu banyak menawarkan sesuatu. Hanya akses wi-fi gratis (yang juga tersedia di setiap taman kota Bandung) dan bangku-bangku kubus warna-warni untuk para Jomblo duduk-duduk, siapa tahu tak sengaja bertemu jodohnya. Tak jauh dari situ, ada skate park tempat anak-anak skaters latihan bermain dengan skateboard-nya. Lalu turun lagi ke arah Barat, ada Taman Film yang kerap dipakai untuk komunitas dan keluarga berkumpul. Di Taman Film juga kerap dijadikan sebagai tempat nobar pertandingan bola.


Aku dan para sepupu

Dua bersaudara yang mengabadikan kunjungannya di Taman Film

Komunitas Nebengers yang melakukan kopdar di Taman Film

Selanjutnya, kami mengunjungi alun-alun Bandung yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan di mana-mana. Hampir setiap hari pulang kerja melewati alun-alun tapi baru sekarang aku benar-benar kembali mengijak alun-alun, kali ini dengan rumput sintetisnya. Di sana, aku melihat banyak sekali keluarga berkumpul, ada anak-yang berlari-larian tanpa membuat orangtuanya merasa khawatir jatuh dan terluka parah, ada remaja-remaja yang tidur-tiduran di rumput tanpa takut disangka aneh, ada yang bermain di arena permainannya, dan yang jelas aku melihat ada banyak kebahagiaan. Bahagia yang sederhana hanya dengan rumput buatan, kumpul gratis di tempat yang luas.

Kaki aku juga bahagia

Alun-alun dan Masjid Agung

Aku dan alun-alun

Aku, sepupu, dan alun-alun

Muka-muka bahagia tiduran di rumput dan silau

Selanjutnya, setelah istirahat makan siang dan shalat, kami melanjutkan perjalanan ke Taman Musik. Tapi karena tidak ada musisi yang tampil, kami melanjutkan ke Taman Pustaka Bunga, Taman Lansia, dan Pet Park. Taman-taman itu belum benar-benar tuntas dan masih banyak terlihat park ranger menanam banyak tanaman di sana. Di Pet Park biasanya banyak para pecinta binatang dan komunitasnya yang mengajak peliharaannya untuk datang bermain.

Narsis dengan latar belakang para sepupu di Taman Lansia

Foto bareng di Taman Lansia sebagai doa agar sanggup tumbuh menjadi lansia bersama ;)

Aku tidak banyak menampilkan foto-foto penampakan semua taman kota Bandung. Foto semacam itu kini mudah dilihat dengan mencarinya di Google. Aku hanya bisa menunjukkan wajah-wajah sumringah orang-orang yang mulai merasakan dampak dari taman kota. Taman-taman di Bandung semoga bisa dijaga kebersihannya. 

Foto twitter yang dimention ke bapak dan ibu wali :)