29.6.14

Petualangan Ani dan Joni ke Luar Angkasa

Ada sepasang kakak beradik bernama Ani dan Joni. Mereka baru saja pulang bermain dan merasa lelah. Joni mengajak Ani beristirahat dengan tidur sejenak. Saat mereka tertidur, tiba-tiba terdengar suara aneh yang sangat keras. Ani pun membangunkan Joni dan mengajaknya untuk mengecek keluar rumah.

"Joni, suara aneh apa itu?!" seru Ani.
"Aku gak tahu," jawab Joni dengan suara sedikit bergetar.
"Ayo kita cek ke luar!" ajak Ani.
"Ayo! Tapi kita jangan jauh-jauh ya Ani." Joni menyetujui ajakan Ani dan kemudian bergegas keluar rumah seraya berpegangan tangan dengan Ani.

Mereka berdua pun mengendap-endap keluar rumah untuk melihat sumber suara aneh itu. Tiba-tiba suara semakin keras diiringi cahaya yang sangat terang datang mendekat. Dan ada sesuatu yang asing, mendarat di balik pohon. Ani dan Joni perlahan mendekati benda asing itu. Dari benda asing berukuran besar itu, keluarlah 2 makhluk asing berwajah aneh namun terlihat ramah. Makhluk asing itu menyapa Ani dan Joni.

"Halo..." sapa makhluk asing itu.
"Halo, kamu siapa?" tanya Ani.
"Namaku Glugluglu, ini temanku namanya Glogloglo. Kami adalah alien datang dari planet Saturnus," jawab Glugluglu yang ternyata adalah alien.
"Kamu naik apa datang ke Bumi?" tanya Joni penasaran.
"Kami naik kendaraan luar angkasa bernama UFO," jawab Glogloglo.
"Apakah kalian mau ikut kami bermain di planet Saturnus?" ajak Glugluglu.
"Bagaimana caranya?" tanya Ani yang sudah mulai tertarik untuk ikut ke luar angkasa.
"Kalian berdua bisa naik roket, jangan lupa pakai baju khusus untuk di luar angkasa," Glogloglo menjelaskan seraya memberikan baju aneh berwana kuning dengan aksen perak di sekelilingnya. 

Glugluglu pun ternyata menunjukkan sebuah roket berwarna-warni yang bisa digunakan oleh Ani dan Joni untuk ikut pergi ke luar angkasa. Ani dan Joni saling memandang dan kemudian mereka tersenyum pertanda setuju untuk ikut alien Glugluglu dan Glogloglo pergi bermain ke planet Saturnus.

Ani dan Joni pun mengikuti alien dan UFOnya menggunakan roket warna-warni ke planet Saturnus. Sesampainya di planet Saturnus, Ani dan Joni pun berkenalan dengan banyak sekali alien yang sangat senang dengan seni. Alien-alien itu pandai sekali bernyanyi, menari, serta membacakan puisi indah. Ani dan Joni sangat terhibur dengan segala yang ditampilkan oleh mereka.

Setelah puas bermain di luar angkasa, Ani dan Joni merasa rindu untuk pulang ke rumah. Mereka pun meminta ijin pada alien-alien untuk kembali lagi ke Bumi. Alien Glugluglu dan Glogloglo pun mengantarkan mereka kembali ke Bumi.

Sesampainya di Bumi, Ani dan Joni yang merasa lelah, langsung menuju kamarnya untuk beristirahat. Namun ani mengingatkan pada Joni, "Jangan lupa sikat gigi dulu sebelum tidur ya..."


Cerita ini adalah karya anak-anak kelas Bumi sekolah GagasCeria pada tema 'GagasCeria Mencari Bakat'. Tema ini bertujuan untuk menggali potensi anak-anak, mengekspresikannya, lalu menampilkannya di hadapan orangtua mereka. Untuk membuat penampilan yang baik, anak-anak pun membuat suatu perencanaan, pelaksanaan, dan juga evaluasi. Orangtua yang menyaksikan penampilan anak-anak, diajak untuk membayar tiket masuk sebesar Rp. 10.000,- per orang, yang hasilkan akan dibelikan buku, mainan, serta peralatan menggambar untuk diserahkan pada sekolah-sekolah lain yang membutuhkan. Di sini, anak-anak belajar untuk mengembangkan kemampuannya sekaligus mengasah kepekaan dengan berbagi.

Pertama-tama, ide cerita yang ada di kepala anak-anak dituangkan dalam bentuk gambar yang disusun menjadi buku sederhana.

Buku cerita bergambar buatan anak-anak kelas Bumi

Setelah alur cerita disepakati bersama, anak-anak mulai menggambarkan imajinasi luar angkasa mereka yang kemudian diwujudkan dalam karya berukuran besar yang dibuat bersama-sama. Karya berukuran besar ini nantinya akan dijadikan sebagai 'poster pertunjukan' seperti yang ada di bioskop-bioskop atau teater pertunjukan.

Rancangan gambar terpilih.

Lalu, anak-anak mulai bekerja sama membuat properti pertunjukan untuk digunakan saat di panggung nanti. Properti yang dibuat adalah UFO, roket warna-warni, kostum, dan topeng alien. Anak-anak pun mulai menciptakan lagu, puisi, serta tarian alien yang akan ditampilkan. Untuk pemilihan peran, audisi pun dilakukan untuk pemilihan peran terbaik selain anak-anak mengajukan diri sesuai dengan minat mereka masing-masing. Peran sebagai MC dan pendongeng pun anak-anak sendiri yang memutuskan.

Membuat warna dasar untuk dijadikan sebagai 'luar angkasa'

Membuat bintang-bintang dan planet.

Membuat Bumi dan planet lainnya.

Membuat gambar astronot dan alien

Setelah detil untuk 'poster pertunjukan' tuntas, anak-anak mulai membuat properti lainnya yang berukuran cukup besar. Sebuah properti dikerjakan oleh 10 orang anak hingga bisa menghasilkan properti roket warna-warni dan UFO dalam ukuran yang besar.

Proses pembuatan roket warna-warni.

Proses pembuatan UFO.

Dan, inilah hasilnya....
Roket warna-warni.

UFO milik alien Glugluglu dan Glogloglo.

Setelah properti panggung selesai, kostum dan topeng-topeng mulai dibuat. Semuanya dibuat sejumlah peran yang sudah ditentukan melalui audisi.

Tiap anak ikut menjalankan audisi.

Topi alien yang dibuat dengan cara menggambar, diwarnai, dan diberi tambahan glitter. Pada bagian belakangnya diberi tambahan karet agar bisa dipasang di kepala.

Topi alien yang dibuat dari bahan piring kertas, stik es krim, bulu-bulu ayam, dan potongan kertas serta potongan kain flanel warna-warni.

Setelah semuanya siap, tinggal tugas guru dimulai. Aku membantu menyempurnakan lem yang kurang kuat terpasang, lalu menempelkan poster pertunjukan berukuran sangat besar di area panggung pertunjukan. Dan, pertunjukan pun siap untuk dimulai.

Aku dan Ditha memasang poster pertunjukan sehari sebelum pertunjukan dimulai.

Ini penampakan poster pertunjukan 'Petualangan Ani dan Joni ke Luar Angkasa'

Anak-anak saat pertunjukan di atas panggung.

Jadi, siapa bilang anak-anak hanya mampu berkegiatan sesuai rancangan yang dibuat oleh guru? Di sini, anak-anak berkegiatan sesuai rencana yang dibuat oleh mereka sendiri dengan guru sebagai fasilitator. Ada kebanggaan pada diri setiap anak bahwa mereka dapat berbagi dengan teman-teman di sekolah lain menggunakan uang yang mereka hasilkan dari penjualan tiket pertunjukan.

Kegiatan berbagi dan bermain bersama dengan teman-teman di sekolah lain.


"Ini telur apa?"

Ada sekeranjang telur misterius di tengah kelas yang ditemukan anak-anak seusai istirahat makan. Mereka bertanya-tanya, "Telur apakah ini?" dan tidak ada satu pun anak yang mampu menjawabnya. Beberapa anak mengeksplorasi telur-telur tersebut, bahkan ada yang belum percaya apakah semua telur itu benar-benar telur atau hanya mainan saja. Ia melempar telurnya, alhasil telur pun pecah satu. Ada telur yang retak dan mengeluarkan cairan. "Jangan ganggu, mungkin binatang di dalamnya sedang pipis. Kita ga boleh mengganggu!" seru seorang anak.


Beberapa anak yang penasaran dan terus bertanya-tanya, "Ini telur apa?"

Anak-anak kemudian membuat dugaan serta memegang isi pecahan telur. Ada yang berpendapat telur itu adalah telur burung, ayam, bebek, dan yang terbesar adalah telur DINOSAURUS! Ya. Ada sebuah telur berukuran paling besar, kulitnya kasar, dan sangat keras menyerupai batu. Anak-anak beranggapan telur tersebut adalah telur Dinosaurus.

Lalu, mereka berimajinasi, bagaimana seandainya telur dinosaurus itu tiba-tiba menetas di dalam kelas? Apakah kelas mampu menampung dinosaurus yang begitu besar? Apa yang akan anak-anak lakukan jika dinosaurus benar-benar ada di kelas mereka? Dan, dinosaurus jenis apa yang akan keluar dari telur itu?

Mereka pun mewujudkan imajinasinya dalam beberapa karya yang dibuat bersama-sama. Menurut Adel, telur dinosaurus itu adalah telur Stegosaurus.


Ide Adel muncul setelah membaca sebuah buku bergambar telur Stegosaurus yang menetas. Kemudian ia menggambarkan telur Stegosaurus menetas dalam ukuran besar, dibantu oleh beberapa temannya.


Alka memiliki pendapat lain mengenai jenis dinosaurus yang menetas dari telur. Ia sendiri lupa nama dinosaurusnya, namun Alka menjelaskan bahwa jika dinosaurus ini marah maka bagian tubuh berwarna merah yang ada di lehernya akan mengembang.

Lalu, anak-anak kembali berimajinasi. Seandainya banyak dinosaurus yang menetas dari telur-telur tersebut, mereka harus tinggal dimana? Mereka pun melukis imajinasi mereka tentang habitat tempat tinggal dinosaurus, dan membuat kolase dinosaurus imajinasinya masing-masing. Anak-anak ingin dinosaurus yang menetas dari telur itu adalah dinosaurus cantik dengan tubuh yang berwarna-warni.


Beberapa kolase dinosaurus imajinasi anak-anak dan lukisan tempat hidupnya yang bisa dimainkan sesuai dengan cerita yang mereka inginkan.

Apapun pendapat anak-anak mengenai binatang yang akan menetas dari telur misterius di kelas, mereka sudah mengembangkan imajinasi, kemampuan mereka dalam berpikir, serta mengemukakan pendapatnya tanpa harus dipengaruhi oleh teman-temannya yang lain, bahkan tidak terpengaruh dengan pendapatku sebagai guru. Mereka memiliki idenya sendiri yang sangat hebat! Mereka dengan karyanya yang unik.





* Cerita ini, merupakan alur singkat yang terjadi pada tema 'Menjelajah Ruang dan Waktu' di sekolah GagasCeria.

27.6.14

Membangun Museum Dinosaurus Kita


                 Oleh : Rizka H. Kusumadhini, S.Pd

Lesson Study
Pada tanggal 7 Februari yang lalu, kelasku mendapat kesempatan untuk 'membuka kelas' pada kegiatan lesson study. Kegiatan lesson study ini sudah rutin dilakukan di sekolahku sejak kira-kira tahun 2009 yang lalu. Kegiatan ini dilakukan sebagai salah satu bentuk pengembangan guru dalam mengajar di kelas. Guru yang 'membuka kelasnya' untuk kegiatan ini, melakukan perencanaan kegiatan kelas seperti biasanya dengan mendapatkan bantuan dari tim levelnya. Dalam pelaksanaannya, guru kelas diamati oleh beberapa guru kelas lain yang memberikan laporan pengamatannya. Guru-guru yang melakukan pengamatan boleh memberi masukan terhadap pelaksanaan kegiatan yang dilakukan di kelas, atau bahkan mereka bisa mengambil pelajaran baru dari kelas yang diamatinya untuk dapat diterapkan di kelasnya masing-masing. Kira-kira begitulah gambaran umum tentang kegiatan lesson study, dan inilah rangkaian lesson study yang dilakukan di kelas Bumi.

Petualangan anak-anak kelas Bumi dimulai
Pada tema 'Menjelajah Ruang dan Waktu' anak-anak diajak untuk mengenal binatang masa lalu yaitu dinosaurus. Mereka sudah banyak melakukan kegiatan membuka cakrawala mengenai binatang masa lalu dan sudah mengunjungi Museum Geologi sebagai salah satu bentuk pengetahuan mengenai kepunahan. Di kegiatan lesson study yang dilakukan, anak-anak melakukan review tentang seluruh tema yang sudah dipelajari. Pertama-tama, mereka berdramatisasi menjadi dinosaurus yang mencari makan. Anak-anak harus mencari makanan yang sesuai dengan jenis dinosaurus yang mereka perankan. Setelah semua makanan 'habis', anak-anak diajak untuk mendiskusikan makanan masing-masing dinosaurus.

Anak-anak berdiskusi tentang makanan dinosaurus.

Lalu anak-anak diajak untuk menonton film tentang kepunahan dinosaurus. Mereka diajak untuk berpendapat, dengan menjawab pertanyaan, "Apa yang akan terjadi setelah dinosaurus punah?" Ada yang mengatakan dinosaurus akan digantikan dengan binatang masa kini, dan ada pula yang berpendapat dinosaurus sudah saatnya masuk ke dalam museum. Setelah menonton film dan memberikan pendapatnya, anak-anak pun kembali bermain dramatisasi. Kini anak-anak menjadi dinosaurus yang menghadapi bencana alam dan akhirnya punah.

Arkan adalah anak yang sangat mendalami perannya sebagai Ankilosaurus. Ia merangkak dengan kedua tangan dan kakinya, serta mengeluarkan suara-suara yang menurutnya menyerupai dinosaurus. Arkan pun mengeluarkan mimik wajah yang berbeda untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah dinosaurus. Perilaku Arkan kemudian memberi dampak pada beberapa temannya, mereka mulai mengikuti Arkan benar-benar berperan menjadi dinosaurus.

Anak-anak menonton film tentang kepunahan dinosaurus.

'Dinosaurus' mulai berlarian di lapangan rumput karena berusaha menghindari meteor jatuh. Beberapa anak yang sangat mendalami peran, langsung terjatuh ketika bola mengenai tubuhnya.

Setelah dinosaurus punah, terkena hujan meteor, anak-anak kemudian diajak untuk membangun museum dinosaurus dengan bekerja sama. Kelompok sudah ditentukan oleh guru dengan tujuan membangun kerjasama beberapa tipe anak yang serupa, dan dibagi berdasarkan jenis permainan konstruktif yang akan digunakan. Misi mereka untuk membangun museum dinosaurus juga didalami dengan bermain peran. Setiap anak menggambar dinosaurus yang akan dibuatnya sebelum mereka ‘menciptakan’ dinosaurus mereka sendiri untuk mengisi museum. Area bermain dibagi menjadi 2. Di area bermain block, anak-anak bekerja sama membuat dinosaurus block, di area lainnya anak-anak boleh memilih berkarya membuat dinosaurus dari permainan konstruktif lain yang tersedia (lego, mottik, gigo, duplo, pekitoys).

Area ‘Museum Dinosaurus’ block yang dibuat dengan bekerja sama.


Area ‘Museum Dinosaurus’ lego, mottik, duplo, pekitoys, dan gigo.

Museum mulai dibangun
Arkan yang sejak awal mendapat peran sebagai Ankilosaurus, menggambarkan Stegosaurus namun ia menyebutnya sebagai ‘Ankilosaurus’.  Setelah menggambar, Arkan mewujudkannya dengan membuat karya 3 dimensi menggunakan pemainan mottik. Arkan yang sudah sangat mendalami perannya sebagai Ankilosaurus masih membutuhkan bantuan saat menuangkan idenya dalam karya konstruktif. Ia dibantu untuk membuat langkah tahap demi tahap saat membuat Ankilosaurus. Setelah karyanya tuntas, Arkan kemudian memposisikan dirinya sebagai pemandu museum yang menjelaskan tentang semua ‘fosil’ dan miniatur dinosaurus yang telah dibuat oleh teman-teman lainnya kemudian disusun menjadi Museum Dinosaurus.

Gambar rancangan Stegosaurus buatan Arkan dan Stegosaurus mottik-nya.

Arkan memegang miniatur orang untuk dijadikan sebagai pemandu museum yang memberi penjelasan kepada para pengunjung.

Anak-anak lain yang berkarya di area ini, membuat berbagai jenis dinosaurus untuk mengisi ‘Museum Dinosaurus’nya. Mereka memilih jenis permainan konstruktif sesuai dengan minat mereka masing-masing. Masih ada beberapa anak yang belum terbayang apa yang harus dilakukannya dan mereka pun bertanya pada guru.

Dinosaurus lainnya yang dibuat untuk mengisi ‘Museum Dinosaurus’.

Pada area bermain block, anak-anak membangun museumnya dengan bekerja sama. Setiap kelompok terdiri atas 3 orang anak yang harus saling berbagi ide, berbagi tugas, dan menyelaraskan keinginan mereka masing-masing menjadi suatu kesatuan. Hal ini, tentu tidak mudah bagi anak-anak yang sudah memiliki idenya sendiri. Debat serta perbedaan pendapat akan mewarnai kegiatan berkarya mereka.

Kelompok Alendra, Ghanisya, dan Vanya adalah salah satu kelompok yang terdiri dari anak-anak dengan ide yang sangat kaya. Mereka masing-masing mengungkapkan idenya, namun saat itu masih sulit untuk mendengarkan ide teman sekelompoknya dan belum mencoba menyelaraskannya. Alendra, Ghanisya, dan Vanya sudah memulai perdebatan sejak awal kegiatan perencanaan karyanya. Gambar rancangan yang seharusnya hanya terdiri dari satu gambar yang dibuat bersama, menjadi beberapa gambar dinosaurus jenis yang berbeda. Mereka pun belum memutuskan, gambar rancangan mana yang akan diwujudkan menjadi ‘Museum Dinosaurus’.


Gambar rancangan Alendra, Ghanisya, dan Vanya yang belum mencerminkan keselarasan ide. Mereka baru menggambarkan idenya masing-masing, belum mendiskusikannya kemudian menjadikannya satu.

Perdebatan serta perbedaan pendapat kelompok Alendra, Ghanisya, dan Vanya belum berakhir pada perencanaan gambar. Hingga tiba saatnya mulai menyusun block, mereka belum juga menentukan satu jenis dinosaurus yang akan dibuat. Saat pembagian tugas mengambil kepingan block dan menyusunnya pun mereka belum menemukan kata sepakat. Alendra, Ghanisya, dan Vanya masing-masing mengambil block yang mereka butuhkan untuk membuat dinosaurusnya sendiri, bukan dinosaurus kelompok.

Alendra, Ghanisya, dan Vanya menggunakan keranjang mereka masing-masing untuk mengambil kepingan block lalu menyusunnya membentuk dinosaurus yang mereka inginkan.

Hingga akhir kegiatan lesson study, kelompok Alendra, Ghanisya, dan Vanya belum berhasil menyelesaikan tugasnya. Mereka masih terlibat dalam perdebatan dan diskusi yang cukup alot mengenai ide yang mereka miliki masing-masing. Bahkan mereka beberapa kali terlihat membongkar karya yang sudah dibuat dan mengulanginya lagi dari awal. Ghanisya pun sempat terlihat mengubah rancangan gambar yang sudah dibuat sebelumnya agar menyerupai bentuk block dinosaurus yang sudah dibuatnya.

Selain kelompok Alendra, Ghanisya, dan Vanya yang belum berhasil menyelaraskan idenya, ada satu kelompok yang tampaknya mudah saat bekerja sama. Mereka adalah Adel, Titan, dan Alka yang sejak awal melakukan diskusi, mendengarkan pendapat teman-teman sekelompoknya, berbagi tugas hal-hal yang harus dilakukan, hingga berhasil membuat dinosaurus block tanpa adanya rintangan yang berarti.

Adel, Titan, dan Alka mendiskusikan terlebih dulu jenis dinosaurus yang akan mereka buat, lalu secara bergantian menggambarkan rancangannya. Gambar yang dihasilkan hanya ada satu gambar yang dibuat secara bersama-sama menggunakan sebuah spidol. Mereka menggambar secara bergiliran untuk tiap bagian dinosaurusnya. Saat akan mulai membuat dinosaurus block, Adel, Titan, dan Alka berbagi tugas terlebih dahulu siapa yang mengambil block dan siapa yang menyusunnya. Seorang lainnya memberikan ide mengenai bentuk-bentuk block yang akan mereka gunakan. Akhirnya kelompok Adel, Titan, dan Alka berhasil menjadi kelompok pertama yang menyelesaikan dinosaurus untuk ‘Museum Dinosaurus’.

Kelompok Adel, Titan, dan Alka setelah berhasil menyelesaikan dinosaurus block mereka.

Pada area permainan block, ada pula kelompok yang masih sulit menuangkan ide bahkan bekerja sama. Hal ini bisa diakibatkan karena minat yang belum sejalan dengan tema karya yang diangkat pada kegiatan lesson study kali ini. Kelompok ini cenderung banyak mendapatkan dampingan dari guru untuk berkarya langkah demi langkah. Saat berkarya, kelompok Fadhil, Arva, dan Ihsan mendapatkan dampingan dari guru agar kegiatan perencanaan, diskusi, berkarya, dan bercerita dapat berjalan.

Kelompok Fadhil, Arva, dan Ihsan terlihat belum bekerja sama dan melakukan diskusi kelompok jika belum mendapatkan dampingan dari guru.

Apa yang membuat mereka berbeda?
Pada kegiatan pertama, Arkan dan anak-anak lainnya di area permainan konstruktif (lego, gigo, duplo, mottik, pekitoys) membuat karya dinosaurus secara individual. Mereka adalah anak-anak yang rata-rata membutuhkan banyak inspirasi di awal sebelum kegiatan berkarya. Kemampuan mereka dalam berkarya dengan menggunakan permainan konstruktif pun belum semuanya kuat. Anak-anak yang melakukan kegiatan di arena bermain ini, cenderung tidak melakukan diskusi mengenai dinosaurus yang akan mereka buat dengan teman sebayanya untuk membangun ‘Museum Dinosaurus’, tetapi mereka cenderung akan bertanya pada guru hal apa yang harus mereka lakukan terlebih dulu untuk membuat karyanya. Anak-anak akan melakukan lebih banyak eksplorasi pada miniatur dinosaurus sebelum berkarya. Setelah berkarya secara individual, anak-anak pada area ini akan menggabungkan karyanya, disusun membentuk museum yang terdiri dari berbagai macam jenis dinosaurus.

Pada kegiatan berkarya dengan kerja sama membuat dinosaurus di area block, anak-anak harus belajar untuk menyelaraskan ide, mencoba mendengarkan pendapat, berbagi peran, dan membuat karya secara bersama-sama. Ada anak-anak yang berada dalam area block ini karena mereka membutuhkan sarana untuk belajar bekerja sama dan membiasakan mendengar pendapat teman lainnya. Ada pula perpaduan kelompok yang terdiri dari anak-anak yang memiliki kekuatan pada karya konstruktif dan anak-anak yang masih membutuhkan inspirasi karya dari teman-temannya. Mereka akan saling mengisi dan belajar dari teman sebayanya. Namun, minat terhadap tema serta kecocokan teman sebaya terlihat cukup memberi pengaruh terhadap kualitas proses serta karya yang dihasilkan.

Setelah kegiatan ini berakhir, kami melakukan suatu refleksi dan evaluasi. Anak-anak diajak untuk memberikan pendapatnya, menceritakan perasaannya, dan membuat perencanaan mengenai hal yang akan mereka lakukan pada kegiatan selanjutnya agar memberikan hasil lebih baik dari sebelumnya. Kelompok Alendra, Ghanisya, dan Vanya pun mengakui bahwa mereka belum dapat menyelaraskan idenya saat bekerja sama dalam satu kelompok.

Pada minggu berikutnya, kegiatan Lesson Study ini diulang kembali dengan bertukar kelompok. Anak-anak melakukan kegiatan yang berbeda dari kegiatan yang sudah dilakukan sebelumnya. Untuk melatih kerja sama terutama pada kelompok Alendra, Ghanisya, dan Vanya, mereka akan terus menjadi teman bekerja sama pada jenis kegiatan lainnya. Mereka pun terus diajak merefleksikan kegiatan sebelumnya yang belum berhasil. Begitu pula dengan anak-anak yang berkarya secara individual dan anak-anak telah berhasil bekerja sama, mereka berbagi mengenai pengalamannya pada teman-teman lainnya, agar mereka dapat mengambil pelajaran dari teman sebayanya. Karena ini adalah ‘Museum Dinosaurus Kita’ yang dibuat bersama-sama, bukan ‘Museum Dinosaurus Aku’ atau ‘Museum Dinosaurus Kamu’ yang dibuat seorang diri.

~hotarukika~