30.10.10

akhirnya : donor darah!


Aku... yang sejak awal hidup selalu kurus, akhirnya setelah 27 tahun bisa juga ngerasain donor darah!

Sebetulnya, niat donor darah sudah lama ada, tapi apa daya... berat badan mencapai 45 kg saja sudah sujud syukur!

Sejak aku memulai petualangan berwisata kuliner, perlahan aku bisa menjadi manusia 'normal' yang tidak terlampau kurus. Dan akhirnya, berat badanku bisa mencapai 50 kg! Menurut dokter, aku sudah layak donor darah ;)

Pengalaman pertama donor darah terjadi atas undangan seorang teman yang kerja di Citi Bank. Kebetulan kantornya mengadakan acara donor darah bersama PMI tanggal 23 Oktober lalu. Aku, jelas semangat sekali walau agak ragu dan khawatir darahku ditolak karena beberapa malam sebelumnya aku selalu pulang malam kehujanan, yang jelas kondisi badan sedang tidak sepenuhnya fit.

Setelah mengisi beberapa kuosioner dan menjalani pemeriksaan dokter (juga penimbangan berat badan), akhirnya aku donor darah dengan perasaan bahagia ;)

pemeriksaan dokter



akhirnya donor juga *wajah ga mau lihat ke arah tangan kiri ;p

Setelah donor darah, pihak Citi Bank memberi kami makan dan susu. Katanya setelah donor darah, sebaiknya kita makan telur. Tapi karena aku kurang suka telur rebus, telurnya ga aku makan. Alhasil, beberapa saat kemudian, aku merasa pusing dan limbung.

Akhirnya, kami makaaaaaannnn lagi ;)



aku yang pusing kurang makan ;p

Semoga, pengalaman donor darahku yang pertama ini, bukan jadi pengalaman satu-satunya. Mudah-mudahan aku bisa menjaga konsistensi berat badan di kisaran 48 kg - 50 kg saja tidak lebih. Kalau lebih, berat bawanya!

#aku bersama kepik ;)

16.10.10

menghijaukan bumi di kareumbi


Kareumbi... satu tempat yang awalnya hanya aku dengar lewat cerita, akhirnya tanggal 3 Oktober aku bisa datang ke sana menanam pohon.

Ternyata tempatnya lebih jauh dari yang aku duga. 
Dari Bandung aku dan teman-teman harus naik kereta ke Cicalengka dengan harga tiket Rp. 5000 saja.


Sesampainya di stasiun kami bertemu seorang kakek penjual Lahang (minuman dalam bambu), dengan hanya Rp. 1000 kami meminum Lahang yang rasanya unik dan segaaaaarrrrr...


Ternyata dari stasiun Cicalengka perjalanan masih sangaaaaaaattttttt jauh! Beruntung ada orang-orang dari Kareumbi yang sedang turun gunung dengan mobil buntung, dan petualangan pun dimulai...
Kami sempat kehujanan, berteduh di pos ronda dan jalan kaki gara-gara mobil tidak kuat menanjak dengan membawa beban 9 orang di belakang, tapi semuanya seruuuuuuu....


Akhirnya, sampai juga di Kareumbi... yiiiiihaaaaaa ;D


Kenapa disebut wali pohon? Ternyata prosesnya seperti adopsi. Pohon yang kita tanam di area Kareumbi akan menjadi pohon milik kita. Kita berhak memberinya nama, bahkan kita bisa membuat hutan sendiri jika pohon yang ditanam berjumlah banyak. Kita akan mendapatkan sertifikat wali pohon, semacam akte anak karena kita sebagai penanam pohon menjadi orangtua asuh pohon itu walaupun sebenarnya yang merawat pohon itu adalah warga sekitar kawasan Kareumbi. Kita hanya perlu menyisihkan Rp. 50.000 untuk biaya bibit pohon dan perawatannya seumur hidup. Jika pohon mati, kita berhak meminta ganti dengan jenis pohon yang sama dan seumur.



Ternyata, selain hutan, Kareumbi juga memiliki penangkaran rusa, rumah pohon dan kano. Seru!




Rumah pohon ternyata bisa di sewa Rp. 150.000/malamnya. Setiap rumah pohon sudah ada toiletnya masing-masing. Seruuuu...
Mari datang kemari ke Kareumbi di Cicalengka, menanam pohon lestarikan hutan ;)




#terimakasih buat imul, fitri dan psoy yang sudah bantu foto-foto ;)