24.8.11

Kenapa Menunda Untuk Berhijab?

Kita sudah ketahui bersama bahwa berjilbab adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslimah. Namun seperti itulah wanita, selalu beri berbagai alasan untuk tidak menutup auratnya. Coba perhatikan beberapa alasan mereka:

Pertama: Yang penting hatinya dulu yang dihijabi.
Alasan, semacam ini sama saja dengan alasan orang yang malas shalat lantas mengatakan, “Yang penting kan hatinya.” Inilah alasan orang yang punya pemahaman bahwa yang lebih dipentingkan adalah amalan hati, tidak mengapa seseorang tidak memiliki amalan badan sama sekali. Inilah pemahaman aliran sesat “Murji’ah” dan sebelumnya adalah “Jahmiyah”. Ini pemahaman keliru, karena pemahaman yang benar sesuai dengan pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah, “Din dan Islam itu adalah perkataan dan amalan, yaitu [1] perkataan hati, [2] perkataan lisan, [3] amalan hati, [4] amalan lisan dan [5] amalan anggota badan.” (Matan Al ‘Aqidah Al Wasithiyah, Ibnu Taimiyah)
Imam Asy Syaafi’i rahimahullah menyatakan,
الإيمان قول وعمل يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية
“Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat.” (Hilyatul Awliya’, Abu Nu’aim)
Jadi tidak cukup iman itu dengan hati, namun harus dibuktikan pula dengan amalan.

Kedua: Bagaimana jika berjilbab namun masih menggunjing.
Alasan seperti ini pun sering dikemukakan. Perlu diketahui, dosa menggunjing (ghibah) itu adalah dosa tersendiri. Sebagaimana seseorang yang rajin shalat malam, boleh jadi dia pun punya kebiasaan mencuri. Itu bisa jadi. Sebagaimana ada kyai pun yang suka menipu. Ini pun nyata terjadi.
Namun tidak semua yang berjilbab punya sifat semacam itu. Lantas kenapa ini jadi alasan untuk enggan berjilbab? Perlu juga diingat bahwa perilaku individu tidak bisa menilai jeleknya orang yang berjilbab secara umum. Bahkan banyak wanita yang berjilbab dan akhlaqnya sungguh mulia. Jadi jadi kewajiban orang yang hendak berjilbab untuk tidak menggunjing.

Ketiga: Belum siap mengenakan jilbab.
Kalau tidak sekarang, lalu kapan lagi? Apa tahun depan? Apa dua tahun lagi? Apa nanti jika sudah pipi keriput dan rambut beruban? Setan dan nafsu jelek biasa memberikan was-was semacam ini, supaya seseorang menunda-nunda amalan kebaikan.
Ingatlah kita belum tentu tahu jika besok shubuh kita masih diberi kehidupan. Dan tidak ada seorang pun yang tahu bahwa satu jam lagi, ia masih menghirup nafas. Oleh karena itu, tidak pantas seseorang menunda-nunda amalan. “Oh nanti saja, nanti saja”. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma memberi nasehat yang amat bagus,
إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ .
“Jika engkau berada di waktu sore, janganlah menunggu-nunggu waktu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu-nunggu waktu sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu. Manfaatkan pula masa hidupmu sebelum datang kematianmu” (HR. Bukhari no. 6416). Nasehat ini amat bagus bagi kita agar tidak menunda-nunda amalan dan tidak panjang angan-angan. (Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali)
Jika tidak sekarang ini, mengapa mesti menunda berhijab besok dan besok lagi. Seorang da’i terkemuka mengatakan nasehat 3 M, “Mulai dari diri sendiri, mulai dari saat ini, mulai dari hal yang kecil”.
Wallahu waliyyut taufiq.



Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.remajaislam.com

21.8.11

Petani dan Rumah Panggungnya

Semester 2 yang lalu, anak-anakku belajar tentang hal lain di luar dunia bermainnya, yaitu petani dan rumah panggung atau saung. Lalu mereka membuat visualisasi dengan berkarya. Karya ini dibuat dalam beberapa tahap. Membuat petani, membuat rumah panggung serta menggabungkannya dalam satu bidang. Tidak lupa karyanya diceritakan sesuai dengan persepsi masing-masing anak, banyak yang melibatkan imajinasinya dalam bercerita. Imajinasi anak-anak usia 4-5 tahun.

* Membuat Petani
1. Melipat topi caping
2. Menempelkan topi caping di bagian atas kertas gambar (A4 dibagi menjadi 3 bagian) kemudian menggambarkan petani seolah-olah petani itu sedang memakai topi caping. Lalu gambar diwarnai.
3. Gambar digunting mengikuti bentuk.

Naza dan Awal

 Aretha dan Atha

 Nayaratra dan Aksyal

 Nayla dan Athan

Almer dan Raja

* Membuat Rumah Panggung (saung)
1. Membuat anyaman dari kertas daur ulang, bertekstur atau bermotif. Buat menjadi berpola 2 atau 3 jenis kertas/motif.
2. Menempelkan bentuk untuk atap.
3. Atap diberi tambahan potongan kertas bertekstur, pelepah pisang atau daun kering. Tempelkan dengan lem fox kemudian lapisi lagi dengan lem fox yang sudah dicampur air agar lebih kuat.
4. Tambahkan pintu dan jendela. Beri hiasan taburan pasir berwarna atau bahan lainnya. Gunakan lem fox dan lapisi lagi dengan lem fox yang dicairkan.



* Membuat alas untuk menggabungkan karya
1. Gunakan karton atau kertas berukuran A3 berwarna putih. Cat permukaannya dengan warna gelap agar karya yang sudah dibuat dapat terlihat lebih menonjol.
2. Setelah kering, tempelkan petani dan rumah panggung dengan menggunakan doubletape. Tambahkan kaki rumah panggung dengan menggunakan stik es krim atau potongan sumpit, tambahkan tangga (bisa menggambarnya dengan cat atau dengan menempelkan potongan kertas).
3. Tambahkan gambar untuk membuat suasana dengan menggunakan cat. Boleh menambahkan rumput, bebatuan, langit, awan atau matahari. Kemudian ceritakan karyanya.

Karya milik Nayla Azalea


Karya milik Atha

31.7.11

教育ママ -- Education Mama



Jepang adalah negara yang menjadi salah satu negara raksasa ekonomi di dunia. Di balik kesuksesannya 
ternyata Jepang memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh kebanyakan negara lain terutama Indonesia yaitu dalam hal pendidikan. Jepang memiliki keunikan yang sederhana dalam hal pendidikan, disebut dengan kyoiku mama atau pendidikan mama.


Jika di negara lain hal sederhana ini diabaikan atau setidaknya dianggap enteng, tidak dengan Jepang. Unsur kunci keajaiban ekonomi di Jepang justru berasal dari kyoiku mama. Bagi Jepang, ketika para suami bekerja, para istri bertanggung jawab dalam hal pendidikan anak-anaknya. Dalam kapasitas sebagai ibu inilah para istri membaktikan hidupnya. Demi kepastian masa depan anak-anak, para ibu sejak dini mendampingi dan membimbing anak-anak sehingga mereka mampu memasuki sekolah-sekolah bermutu.


Di balik para pekerja Jepang yang memiliki etika kerja terpuji, ada perempuan-perempuan yang berperan membentuk mereka menjadi pribadi yang baik melalui kyoiku mama. Perempuan-perempuan inilah yang menjadi pilar-pilar kokoh pribadi kerja keras orang Jepang. Perempuan Jepang berperan positif dalam membina dan mempertahankan kekokohan fondasi pendidikan serta sosial yang merupakan hal sangat vital bagi kebangkitan ekonomi bangsanya.


Sistem pendidikan dan budaya Jepang mengandalkan sepenuhnya peran perempuan dalam membesarkan anak. Jika di banyak negara beranggapan bahwa perempuan berpendidikan tinggi tapi hanya diam di rumah membesarkan anaknya adalah 'wasting her talents' tapi tidak dengan Jepang. Di Jepang orang-orang percaya, seorang ibu seharusnya memiliki pendidikan yang baik dan berpengetahuan tinggi agar bisa memenuhi tugasnya sebagai pendidik anak-anaknya. Kalaupun ada ibu yang bekerja, biasanya hanya paruh waktu agar tetap bisa berada di rumah ketika anak-anaknya pulang dari sekolah.




Para ibu di Jepang bertugas membina sikap dan perilaku anak-anak yang dilakukan secara konsisten. Sehingga ketika nak-anak memasuki dunia pendidikan secara formal, para guru tidak kerepotan pada masalah kedisiplinan karena semuanya sudah diambil perannya oleh kyoiku mama. Guru akan lebih berkonsentrasi pada pembelajaran pengetahuan, keterampilan, kesahajaan, pengorbanan, kerja sama, tradisi dan atribut nilai-nilai lain yang berlaku di Jepang. 


Pendidikan di Jepang sangat berkembang karena tidak hanya guru yang berperan untuk meningkatkannya namun para ibu yang tergerak dengan kyoiku mama. Pendidikan di rumah serta pendidikan formal di sekolah seiring sejalan dan konsisten menghasilkan pribadi-pribadi pekerja keras di masa yang akan datang.


Di Indonesia, negara luas dengan banyak manusia cerdas di dalamnya namun masih banyak yang beranggapan bahwa wanita karir adalah segalanya. Bahkan para ibu sampai tidak mengetahui perkembangan anak sendiri secara detil. Masalah perekonomian yang buruk menjadikan masalah pendidikan juga buruk, begitu pula sebaliknya. Sehingga masalah ini seakan-akan menjadi lingkaran masalah yang tidak pernah terputus.


Kyoiku mama yang ada di Jepang, hal sederhana namun berharga yang bisa kita contoh. Perempuan berpendidikan tinggi yang mengabdikan dirinya untuk anak-anaknya di rumah tidak berbeda dengan perempuan yang mengabdikan dirinya pada perusahaan atau bahkan pada negaranya sekalipun. Karena anak-anak yang sukses dengan pribadi terpuji adalah prestasi berharga yang sangat membanggakan.


#tulisan ini terinspirasi dari buku 'Membangun Budaya Berbasis Nilai' oleh Fidelis E. Waruwu

30.7.11

Terbang Tinggi

Pesawat dan helikopter sepertinya sangat kuat menarik perhatian 2 anak ajaib ini. 2 orang anak yang selama setahun lalu setiap hari bersamaku di kelas. Almer dan Alle, pecinta pesawat dan helikopter yang mungkin akan membawa mereka terbang tinggi mengapai impiannya.


Hampir setiap kali pada kegiatan bermain dengan memanfaatkan permainan konstruktif lego, Almer dan Alle selalu membuat bentuk pesawat, helikopter atau terkadang mereka membuat roket. Variasi bentuknya terkadang membuat orang dewasa takjub, terutama aku.


Inilah beberapa karyanya...


Almer :



Karya helikopter ini dibuat saat main bebas. Almer menambahkan roda pada helikopternya agar dapat berfungsi juga sebahai kendaraan di darat.


Karya pesawat ini terinspirasi bentuknya dari capung. Bagian bawah pesawat bukan berupa roda tapi 6 buah kaki serangga.


Helikopter ini dibuat saat waktu jeda antara sekolah dan kegiatan ekskul. Almer juga menambahkan helipadnya.

Alle :


Pesawat ini adalah pesawat perang yang memiliki banyak senjata. Alle terus menambahkan senjatanya pada bagian samping (sayap) dan juga di bagian belakang pesawatnya.


Helikopter ini juga terinspirasi dari bentuk capung yang ramping.

Hebat sekali imajinasi mereka. Banyak hal yang mereka pelajari dari membuat pesawat dan juga helikopter. Teruslah berkarya anak-anak ^^




17.7.11

Dari Jendela Kereta

Belajar tentang hidup dan kehidupan bisa didapat dari manapun. Bahkan dari jendela kereta. Dari pandangan mata bening anak-anak ini, mereka belajar tentang kehidupan yang berbeda. Kehidupan yang jelas jauh dari hidupnya tapi sebenarnya dekat di lingkungannya.



Termenung menjadi saksi begitu banyak orang sibuk berlalu-lalang menjalani aktivitas yang jarang ditemuinya. Ternyata, ada kehidupan lain di luar rumah, di luar sekolah.



Menemukan hal baru, menjadi saksi mata, pergi ke tempat berbeda selalu menjadi motivasi untuk belajar banyak hal. Ekspresi antusias terpancar dari mata-mata bening dan celoteh pertanyaan banyak terlontar.








Mengamati rel kereta yang panjang dan terus jauh ke depan, serupa perjalanan hidup anak-anak ini. Panjang, berliku dan harus dilalui dengan perjuangan. Mereka belajar melalui jendela mengenai berbagai kehidupan lain yang terkadang belum pernah terbayang sebelumnya. Gerbong kereta lain, sawah, sungai dan bahkan rumah kumuh di sisi rel kereta menjadi hal yang membuat penasaran.






Jendela kereta, bagaikan mata yang membuat kita melihat tentang berbagai kehidupan yang jauh dari kehidupan kita sendiri namun dekat dengan lingkungan. Banyak hal yang diperlihatkan oleh jendela kereta yang mungkin akan membuat bersyukur memiliki kehidupan yang dijalani saat ini.

#Foto-foto adalah dokumentasi kegiatan outdoor KLAB GagasCeria tahun 2009 dan 2011

29.6.11

Pertemuan, Perjalanan, Perpisahan

Kemarin baru aku tersadar, atau mungkin lebih tepatnya tertampar. Ketika perpisahan sudah benar-benar ada di hadapan mata. Dalam perjalanan liburan ke Pangandaran bersama sebagian besar teman-teman kerja, pada saat yang sama perpisahan dengan beberapa teman juga harus dilewati. Ya Tuhan, terlambatkah aku sadar? Kenapa beberapa hari sebelumnya hanya hal kurang penting yang aku pikirkan?


Aku jadi mengingat proses sebuah pertemuan. Kira-kira 5 tahun yang lalu, aku mendapat panggilan untuk tes mengajar di sekolah tempatku sekarang. Aku disambut oleh sesosok guru ramah, keibuan yang mengenalkan dirinya sebagai ibu Wini, guru kelas Bulan. Singkat cerita, mungkin dulu keputusan aku bisa diterima mengajar di tempat itu adalah berkat penilaiannya juga. Padahal dulu, aku pun tidak sadar aku sedang mengajar karena anak-anak disana asyik diajak bermain. Jadi waktu itu aku rasanya hanya main. Itu pikiranku dulu.


Dalam perjalananku selama 5 tahun mengajar, aku banyak belajar dan banyak mengambil pelajaran. Banyak sosok teman-teman guru yang memiliki sisi kreatif yang sangat membuatku takjub. Ibu Wini salah satunya. Hal apapun ia ketahui, dari mulai dimana tempat membeli laher (roda kecil terbuat dari besi) hingga bagaimana caranya membuat kostum lengkap dengan make up karakter ala teater. Entah dari mana ia belajar, tapi menurut pengakuannya ia sering ngobrol dengan orang-orang di angkot sehingga ia tahu dimana menemukan tempat-tempat dan barang-barang yang dibutuhkannya. Tapi mungkin hanya ia dan Tuhan yang tahu, berasal dari mana bakatnya membuat kostum-kostum unik yang mampu membuat orang-orang berdecak kagum.


Acara liburan ke Pangandaran kemarin sekaligus juga sebagai pengantar perpisahan dengan beberapa teman, salah satunya ibu Wini. Ia memutuskan untuk akhirnya berhenti setelah hampir 10 tahun mengajar. Dengan pertimbangan, ia akan lebih fokus pada pendidikan anak-anaknya yang mulai beranjak remaja. Pada awal aku mendengar keputusannya, sejujurnya aku sangat mendukung. Jelas keluarga lebih penting di atas segalanya. Berhenti mengajar di sana bukan berarti berhenti menjadi guru. Aku sangat meyakini itu. Tapi perasaan itu berubah seketika menjelang benar-benar perpisahan itu terjadi. Aku tahu, aku masih bisa bertemu dengannya kapan pun. Dia tidak kemana-mana, hanya berhenti mengajar di sana, itu saja. Tapi rasanya, aku seperti kehilangan sosok guru sebenar-benarnya, kehilangan sosok ibu di dalam tim kerjasama.


Pada akhir acara liburan kemarin, tiba-tiba dadaku sesak. Ingin menangis rasanya. Aku yang tidak mau dan biasanya anti menangis di hadapan banyak orang, hari itu tidak berdaya menahan tangis. Kuambil kaca mata hitam, kupakai bukan untuk bergaya. Aku tidak mau orang-orang melihatku menangis walau mereka pasti mendengarku menangis, bukan hanya terisak. Satu persatu kupeluk teman-temanku yang akan mengakhiri tugasnya mengajar di tempat itu. Dan akhirnya sampai kupeluk ibu Wini dengan erat, aku menumpahkan perasaan dan pikiranku, "Aku benar-benar merasa kehilanganmu, bu..." dan ia pun memelukku lebih erat. Entah apa pikiranku saat itu. Aku hanya merasa akan berpisah dengan seorang teman seperti aku akan berpisah dengan sosok seorang ibu.


Ah, doaku selalu mengiringimu teman. Semoga Tuhan selalu menggenggam tanganmu ketika melangkah dan memelukmu untuk melindungimu selalu. Aku pasti sangat merindukanmu. Semoga aku bisa hebat sepertimu.



Ibu Wini, berbaju merah. Tetap tersenyum ketika kepala sekolah menangis melepas 'kepergian' teman-teman.

Sebenarnya, aku ingin meng-upload beberapa foto karya ibu Wini. Tapi mungkin nanti. Sekarang aku masih sedikit sendu rasanya.

Foto diambil dari akun Facebook Lia Marlia atas seijin pemilik akun.

30.4.11

Aku Bisa Terbang

Pernah aku berpikir, aku tidak bisa mencapai impian, cita bahkan cinta. Terlalu sulit atau terlalu banyak orang yang harus aku 'singkirkan' untuk mencapai sesuatu. Hingga aku tidak berbuat apapun dan berkata 'hidupku bukan apa-apa'.


Tapi.....
Sulit bukan berarti mustahil. Jika aku bisa melihatnya, aku pasti bisa melakukannya, aku bisa mencapainya. Aku hanya perlu untuk yakin dan percaya, aku bisa terbang menggapai langit. 


Aku percaya, aku bisa terbang.


Keajaiban dalam hidup harus aku capai dengan memulai segalanya dari diriku sendiri. Jika aku bisa melihatnya, aku bisa menjadi seperti apa yang aku lihat. Aku hanya harus percaya, bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Maka aku harus melakukannya, mengambil langkah untuk mengubah segalanya menjadi lebih baik. Kibarkan sayap dan aku bisa terbang. Menggapai semua impian yang bukan menjadi sekedar khayalan.


Percaya, kibarkan sayap dan terbang untuk menggapai impian.





Semangat!
#np -- I Believe I Can Fly, R. Kelly


gambar dari sini

12.2.11

Batik dan Gedung Sate

Sebetulnya pengalaman aku ikut Tour De Batik & Gedung Sate ini sudah lumayan lama. Tepatnya tanggal 3 bulan Juli tahun 2010. Atas ajakan seorang teman, Riane, aku dan 9 orang teman lainnya sepakat untuk mengenakan batik di hari itu untuk mengikuti tur.

Di halaman Gedung Sate banyak berdiri stand pameran batik dari berbagai daerah salah satunya stand Kulkith milik adik kelas SMA-ku. Dan aku sempat berfoto dengan penciptanya ;)

aku dan Agnes Tandia pemilik Kulkith

Selain produk-produk dari bahan batik, di pameran itu juga kita bisa tanya-tanya tentang sejarah batik. Wawasanku benar-benar bertambah di sana. Penjaga stand menjelaskan tentang perbedaan corak-corak batik Cirebon, Tasikmalaya, Kuningan serta arti dari setiap coraknya. Dan aku pun baru tau kalau Cimahi juga punya batik! Pengetahuan tentang batik ini membuatku semakin cinta dengan batik Indonesia. Koleksi batik semakin bertambah dan makin ingin belajar lagi tentang batik. Tujuan selanjutnya untuk belajar batik, mungkin ke Lembur Batik di Cimahi.

batik cap dan hasilnya

Dan, hei... banyak juga pertunjukan-pertunjukan musik serta seni yang ditampilkan di sana. Seru! Inilah kami ber-10, pasukan yang bertualang menyusuri Gedung Sate di malam hari... Pasukan #MaNoHaRa


Kami menyusuri hampir setiap sudut ruangan di dalam Gedung Sate dan aku melihat Gedung Sate. Pemandu kami yang berasal dari Bandung Trail menjelaskan tentang fungsi-fungsi dari setiap ruangan yang kami lewati dan juga bercerita tentang beberapa hal aneh yang kerap terjadi di sana.



Gedung Sate bagian luar

Gedung Sate bagian dalam
 
Aku dan teman-teman juga sempat membuat foto iseng di depan ruangan kerja Gubernur Jawa Barat Bpk. Ahmad Heryawan ;p



Kami ber-10 mengelilingi Gedung Sate hingga ke puncaknya hingga bisa menyaksikan kota Bandung dari atas secara langsung dan menggunakan teropong.


Bandung dari puncak Gedung Sate


Jelas, pengalaman masuk ke Gedung Sate itu adalah pengalaman yang jarang terjadi. Dengan mengikuti program Tour De Batik & Gedung Sate dari Bandung Trail yang hanya dengan membayar Rp. 15rb - Rp. 20rb, kita sudah bisa belajar tentang budaya dan sejarah.

Oya, aku sempat bertemu dengan Yuki vokalis Pass Band dan foto berdua ;)

aku dan Yuki Pass Band
 
Tur ini patut dicoba. Sepertinya sih bakal diadakan setiap tahunnya. Menambah wawasan sekaligus bersenang-senang ;)

7.1.11

Tikus Kecil dan Pohon Apel

Seekor tikus kecil berdiri menatap pohon apel dengan penuh damba. 
Ia ingin meraih apel namun tak tau caranya.

Datang seekor burung yang terbang dan memetik apel dengan paruhnya.
Ah... tikus kecil mendapat ide, memetik apel dengan cara terbang ke atas pohon.
Tikus kecil mengepak-ngepakkan tangannya nenyerupai sayap burung.
Namun ia tidak kunjung terbang.

Lalu datang seekor kera yang dengan lincah memanjat pohon dan memetik apel.
Tikus kecil mendapatkan ide baru, memanjat pohon untuk meraih apel.
Berulang kali ia terjatuh.

Gajah datang mendekati pohon apel.
Dengan mudahnya ia meraih apel menggunakan belalainya.
Tikus kecil takjub dan mengikuti gajah.
Ia menarik hidungnya agar memanjang.
Dan, Awwwwww... tikus kecil kesakitan.

Apel semakin berkurang, namun tikus belum menemukan cara untuk meraih apel.
Datang jerapah dengan leher panjangnya, yang dengan mudah meraih apel.
Lagi-lagi tikus mengikutinya, ia menarik lehernya hingga mengejang, bukannya memanjang.

Seekor kangguru melompat bersama anak di kantongnya.
Dalam sekali lompatan tinggi, ia dapat meraih apel.
Dalam ribuan kali lompatan tikus kecil, tak satu pun lompatannya membantu meraih apel.

Muncul seekor badak besar bercula kuat.
Sekali menghantam pohon, sebuah apel terjatuh untuk dibawanya pergi.
Tikus kecil menghantam pohon apel dengan hidungnya.
Hasilnya ia kesakitan.

Tikus sudah berusaha.
Namun ia tidak punya sayap. Ia tidak bisa memanjat. Ia tidak berbelalai. Tidak mungkin berleher panjang juga bercula. Ia tidak mampu melompat tinggi.
Tikus sadar, ia berbeda dengan burung, kera, gajah, jerapah, kangguru dan badak.
Apel tinggal dua buah di atas pohon. Dan tikus kecil masih menatapnya dengan penuh damba.

Datang seekor anjing laut, bertanya dengan ramahnya pada tikus kecil.
"Kamu sedang apa di sini."
Tikus kecil pun bercerita tentang segala upayanya meraih apel.
Anjing laut iba dan menolong tikus kecil.
Ia melempar tikus kecil ke atas pohon dengan menggunakan hidungnya untuk mengambil dua buah apel yang tersisa. Berhasil. Tikus kecil naik ke atas pohon dan meraih apel dengan bahagia.
Tikus kecil memberikan satu apel pada anjing laut dan satu apel untuk dirinya

Kamu tau kan, segala sesuatu yang sulit dapat diatasi dengan mudah bila kita mau saling menolong...
Bukan dengan mengubah diri menjadi yang pribadi lain.

#Aku dan bahasaku, menceritakan kembali buku dengan judul yang sama. Buku sederhana dengan pesan berjuta ;)